Selasa, 30 Juni 2020

PURNAMA KE-12




PURNAMA KE-12

Lingga mendengar informasi itu dari Toni. Mereka tengah berada di Desa Semayang (sedang menjalankan proyek ilmiah yang mereka menangkan beberapa bulan lalu) saat Toni tiba-tiba meminta seluruh anggota tim merah putih untuk berkumpul.

“bang Ardi menelponku memberitahu bahwa kita harus menghadiri wisuda mereka lusa” ujar Toni.

“mereka ? mereka siapa ?” tanya Maya.

“yaelah, abang-abang dan kakak-kakak relawan yang ngebantuin kita lah, ceunah” ujar Nayla.

“kita gak hanya diminta datang secara personal oleh bang Ardi, melainkan juga diminta datang sebagai tamu kehormatan oleh pihak universitas, bang Ardi bahkan maksa aku harus ngasi kata sambutan disana” ujar Toni tersipu.

Anak-anak anggota tim merah putih mulai meledek dan meracaui Toni. Toni melototi mereka satu persatu.

“yak, calon presiden mahasiswa selanjutnya mulai melotot” Goda Ujang yang disambut tawa anak-anak lain.

Anak-anak anggota tim merah putih sudah duduk di kursi tamu kehormatan untuk perayaan wisudawan tahun ini. Toni tidak bisa mengelak saat namanya dipanggil untuk memberi kata sambutan. Toni melakukannya dengan baik dan semangat. Ia sudah di canang-canangkan akan digadangkan menjadi bakal calon presiden mahasiswa selanjutnya tahun ini.

Lingga mencoba mengendalikan dirinya. Dia mendengar dari bang Ardi bahwa Sail juga di wisuda namun sosok Sail tak nampak olehnya. Lingga juga tak menemui Sail di tempat kerjanya sejak pengumuman kemenangan tim merah putih. Rekan pelayan di chicken area dan mbak-mbak CS ditempat servis mengatakan bahwa Sail sudah berhenti bekerja. Lingga membuka tasnya dan menatap sendu pada topi hitam bertuliskan ‘the smart one’ yang selalu disimpannya dengan hati-hati.

Tiba-tiba lengan Lingga disentuh oleh salah seorang panitia wisuda. Panitia itu memberikan secarik kertas pada Lingga. Lingga membaca kertas itu dan segera memberitahu Nayla bahwa ia ada sedikit urusan diluar sebentar.

Lingga berjalan pelan menuju gedung laboratorium utama universitas yang tak jauh dari gedung serba guna auditorium (tempat pelaksanaan wisuda). Pesan itu mengatakan bahwa ia harus kesana. Seluruh ruangan Laboratorium cukup ramai dengan para teknisi yang masih mengutak atik mesin yang ada didepan mereka diruangan masing-masing. Lingga menatap kertas pesan itu. Tertulis sebuah ruangan dengan nomor 203 yang terletak di lantai dua.

Lingga sudah berdiri didepan ruangan 203. Lingga menghembuskan napasnya pelan. Lingga mengetuk pintu ruangan itu. Sebuah suara  terdengar memintanya masuk. Suara itu amat dikenalnya menggema ringan ditelinga Lingga. Mata Lingga membulat. Ia tanpa komando langsung membuka pintu secara paksa dan mendapati seseorang itu (masih dengan topi hitamnya) berdiri didekat jendela.

Lingga terpaku. Ia menatap seseorang itu dari jauh. Lelaki itu memakai celana dasar berwarna hitam, kemeja hitam, dan sebuah jas lab berwarna putih. Lingga menatap sebuah toga, ijazah dan dasi tergeletak di atas meja yang tak jauh dari jendela. Diatas meja itu juga berdiri sebuah minuman penyegar energi (merek yang sama saat dulu selalu Lingga berikan padanya).

“Kembali menyensor ha ?” ujar seseorang itu.

Lingga menatap seseorang itu lekat. Suara itu, wajah itu, tak banyak berubah selama beberapa purnama terakhir saat ia menatap wajah itu dulu di lorong ruangan dengan kaus kaki kotornya karena berusaha mengejar lelaki itu.

“Tak mau memberi selamat ?” tanya seseorang itu lagi.

Lingga tersenyum. Matanya sudah berkaca-kaca namun ia berusaha menahannya. Lingga berusaha mengalihkan emosinya dengan menatap beberapa orang yang juga ada diruangan itu. Lingga melihat mereka yang masih sibuk dengan mesinnya masing-masing. Mesin ? Lingga menatap kembali pada lelaki itu. Didepan lelaki itu juga telah berdiri sebuah mesin yang nampak kokoh.

Lingga berjalan mendekati jendela. Ia menatap mesin itu dengan takjub.

“perkenalkan, namanya Purnama, hari ini adalah hari jadinya karena sudah bisa beroperasi dengan baik dan siap untuk digunakan, setelah kupatenkan pastinya.” ujar Sail.

Lingga menatap Sail. Yang ditatap sedang menatap ‘Purnama’ dengan bangganya. Sail tengah tersenyum saat ini dan ditatap takjub oleh Lingga.

“aku minta maaf karena telah menghilang beberapa bulan belakangan” ujar Sail pelan.

Sail dan Lingga berdiri dengan latar cahaya yang masuk melalui jendela besar itu. Lingga masih belum mengalihkan tatapan dari wajah Sail.

well, selain merampungkan skripsiku, aku juga ditawarkan beberapa program oleh universitas untuk mengembangkan alat ini bersama beberapa rekanku yang lain, kau bisa lihat mereka kan ?” ujar Sail sambil menunjuk beberapa rekannya diruangan itu.

Sail menatap Lingga. Senyum diwajahnya perlahan memudar dan kembali menampakkan sosok wajah dingin dan jutek yang begitu dikenal Lingga.

“selamat untuk kemenanganmu, kau sudah menepati janjimu” ujar Sail dingin.

Lingga menghembuskan napasnya. Ia menatap jauh ke jendela. Menyaksikan keramaian wisuda dibawah sana. Lingga membuka tasnya dan mengeluarkan topi hitam ‘the smart one’ itu. Lingga menatap topi itu sebentar kemudian menyerahkannya pada Sail.

Sail mengambil topi hitam itu. Ia menatap pada tulisan ‘the smart one’ yang ada di topi itu.

“aku belum minta maaf sama abang untuk itu” ujar Lingga lirih.

Sail menggeleng. Ia melepas topi hitam yang dipakainya. Sail menatap topi hitam yang selalu dipakainya itu. Lingga turut menatap topi hitam itu. ia selalu penasaran kenapa topi hitam itu begitu berharga bagi Sail.

Sail akhirnya menceritakan segalanya pada Lingga. Tentang topi itu itu, tentang hidupnya, tentang keluarganya, tentang masa lalunya hingga sampai pada tentang pertemuan mereka berdua yang pertama kalinya.

Setelah Sail selesai bercerita, Lingga menatap Sail dengan perasaan menyesal. Lingga baru mengetahui bahwa Sail merupakan seorang anak yatim. Ibunya mati-matian menghidupinya seorang diri hingga penyakit kanker perut menggerogoti tubuh ibunya. Ibu Sail meninggal diusia yang sangat muda. Meninggalkan seorang Sail kecil yang berusia 7 tahun. Ibu Sail memberikan hadiah topi hitam itu saat ulang tahun Sail yang ke-7 dan itu adalah hadiah terakhir dari sang ibu. Maka dari itu Sail menganggap bahwa topi hitam itu adalah barang yang sangat berharga baginya.

Setelah kematian sang ibu, Sail dirawat oleh keluarga ibunya sampai sekarang. Sail bercerita bahwa ia tidak mau merepotkan keluarga ibunya makanya sejak SMA Sail sudah memulai hidup mandiri dengan bekerja sambilan. Saat memutuskan kuliah pun Sail memilih kampus yang jauh dari daerah lamanya agar tidak membebani keluarga ibunya yang sudah sangat baik padanya.

Sail hidup tak muluk-muluk. Hidup yang sederhana adalah cukup baginya. Selama ia bisa hidup tenang tanpa masalah dan menganggu atau menyusahkan orang lain. Makanya Sail berperawakan dingin dan jutek pada setiap orang.

“walau tak jarang itu justru malah menjadi masalah karena beberapa orang melabrakku gara-gara tampangku ini” canda Sail namun masih dengan wajah dinginnya.

Lingga bisa melihat Sail sedikit tersipu karena mencoba bercanda. Sail mengusap-usap rambutnya yang tidak gatal.

“jadi, apa aku boleh memakai topi ini sekarang karena sudah menceritakan semuanya padamu ?” tanya Sail.

Lingga tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia turut menyesal karena sudah berburuk sangka perihal topi hitam Sail yang ternyata adalah pemberian dari mendiang ibunya. Lingga melihat Sail kembali menyimpan dengan erat topi hitam sang ibu didalam tas ranselnya.

“terima kasih, Lingga, terima kasih untuk semuanya, aku tahu aku adalah orang paling bodoh didunia ini” ujar Sail menunduk menatap topi hitam pemberian Lingga.

Lingga menatap Sail tidak mengerti.

“aku bodoh karena selama ini begitu tega dan sengaja tidak peduli sama kamu yang ternyata begitu peduli padaku, aku berusaha menekan semuanya, perhatian darimu dulu selalu aku anggap beban karena kupikir saat itu, bahwa ini belum saatnya, namun...”

Sail menarik dan menghembuskan napas pelan.

“.... namun aku juga tidak bisa bohong pada diriku sendiri. Maaf aku belum bisa menjanjikan apapun saat ini, belum bisa Lingga...” ujar Sail pelan.

Lingga menunduk. Ia tak berani menatap wajah Sail.

“aku dapat tawaran melanjutkan studiku di Jepang dengan beasiswa, Lingga, aku, aku tidak akan mengikatmu, jika memang kita berjodoh maka kita akan bertemu kembali dengan cara yang pantas, namun...”

“...namun jika tidak, jika ternyata ada orang baik yang datang duluan padamu, terima saja dia, aku akan mengikhlaskan” ujar Sail.

Sail terdiam. Lingga menghembuskan napasnya pelan.

“itu hak ku” suara Lingga terdengar tegas oleh Sail. Sail menatap Lingga tidak mengerti.

“itu adalah hak ku untuk menerima ataupun menolak siapapun yang datang kelak. Itu bukan urusan abang dan abang tidak berhak sama sekali untuk menghendaki aku harus bersikap seperti apa” ujar Lingga tegas.

“yang hanya ingin kutahu sekarang adalah, bagaimana, bagaimana perasaan abang kepadaku ?” tanya Lingga dengan menunduk.

Kali ini Sail yang menghembuskan napasnya pelan. Sail berdeham sejenak kemudian mengangguk pelan. Memang bukan haknya untuk mengatur sikap Lingga seperti apa.

“aku, jujur, aku suka sama kamu, Lingga” ujar Sail tenang.

Lingga bisa merasa dadanya hangat dan berdegub kencang. Ia bisa menebak Sail akan mengatakan itu. Lingga tersenyum menunduk memandang jalanan yang ramai oleh acara wisuda.

“oke, sekarang semuanya sudah jelas, untuk bagaimana kedepannya kita emang gak tahu, termasuk apakah perasaan abang akan tetap sama atau malah berubah, begitu pun aku” ujar Lingga tenang.

Lingga mengangkat kepalanya menatap Sail. Senyum Lingga mengembang. Sail terdiam tak menatap Lingga. Sail tahu Lingga juga menyukainya. Sangat jelas malah. Sail juga berpikir bahwa memang kedepannya dirinya dan Lingga tak pernah tahu bagaimana perasaan masing-masing. Apakah akan tetap sama atau malah berubah. Karena memang begitu kodratnya hati bukan. Dan Tuhan lah yang Maha membolak-balikkan hati manusia.

“selamat menempuh hidup S2 abang, tetap semangat, tetaplah jadi pintar dan jenius yang selalu mau membantu orang lain tanpa pamrih, selalu bermanfaat untuk orang lain” ujar Lingga tulus.

Sail tersenyum. Sail memakaikan topi hitam yang bertuliskan ‘the smart one’ itu dikepalanya dengan mantap. Sail menganggukkan kepalanya pelan sambil menatap Lingga yang mulai kembali menatap keluar jendela.

Takdir mereka dimulai lagi sekarang. Karena memang, perkara hati tiada siapa yang tahu melainkan Tuhan, diri sendiri, dan masa depan.


-The End- ?

Senin, 20 April 2020

PURNAMA KE-9



PURNAMA KE-9

Tim merah putih keluar dari ruangan tempat penyelenggaraan lomba. Mereka menang menungguli banyak peserta lain dari universitas yang bahkan lebih bergengsi dibanding universitas mereka. Lingga tersenyum senang menatap rekan-rekannya. Tak sia-sia kerja keras mereka selama ini.

Dalam dua bulan kedepan mereka akan disibukkan dengan terjun ke lapangan untuk memasangkan generator hebat itu (begitu kata juri) ke Desa Semayang. Lingga dan beberapa anak Tim merah putih yang akan melaksanakan KKN juga dibebaskan dari KKN karena lomba ini. Mereka tidak perlu mengikuti KKN.

Tim merah putih mengadakan pesta kecil-kecilan sekaligus pelepasan untuk para relawan yang membantu di ruangan proyek. Namun Lingga tak melihat Sail disana. Indra mengadu pada Toni mengatakan bahwa ponsel Sail tak bisa dihubungi.

Lingga diam dan hanya menatap jauh ke jendela menatap hujan rinai yang mulai turun dari langit. Lingga teringat janjinya. ‘Bukankah aku akan menunjukkan kemenangan ini padamu’, kesal Lingga dalam hatinya. Lingga menghembuskan napasnya pelan.

***

Rabu, 30 Oktober 2019

PURNAMA KE-8



PURNAMA KE-8

Pertokoan di sepanjang jalan utama mulai ramai. Memasuki musim liburan anak-anak sekolah. Para turis lokal maupun mancanegara memadati jalanan kota. Hujan rinai turun tidak deras membasahi jalanan yang masih tetap ramai oleh pengunjung. 

Udara sedikit dingin terasa oleh Lingga. Gadis manis yang sedang duduk di bangku perkuliahan jurusan keguruan. Dia sedang mengerjakan sebuah proyek ilmiah dengan teman kelompoknya yang bernama tim merah putih. Akhir bulan ini adalah jadwal seleksi tingkat nasional. Mereka benar-benar sibuk di ruangan menyiapkan semuanya dengan detail dan cermat.

Lingga menatap topi pajangan yang ada disebalik kaca toko. Dia berdiri disebuah toko topi. Lingga ingin membelikan sebuah topi baru untuk Sail karena ia melihat ada beberapa lubang di topi yang kerap digunakan oleh lelaki itu. Lingga tersenyum dan mantap melangkah masuk kedalam toko.

Lingga memesan sebuah topi hitam yang persis seperti topi yang Sail biasa kenakan. Diatas topi tersebut tertulis sebuah tulisan kecil berwarna putih. ‘The Smart One’. Kata itu yang tertulis rapi di pojok kanan atas bagian topi. Lingga tersenyum manis menatap topi itu.

Lingga berjalan pelan menuju ruangan proyek mereka. Sekarang hari jumat. Para lelaki sedang berada di masjid kampus untuk menunaikan shalat jumat. Lingga berjalan pelan mendekati tas Sail yang tergeletak. Benar saja, Sail meninggalkan topi hitam yang biasa dipakainya. Tidak sia-sia Lingga selalu memperhatikan kebiasaan Sail termasuk kebiasaan ketika shalat maka Sail akan melepas dan menyimpan topinya didalam tas.

Lingga mengambil topi Sail dan meletakkan topi baru hadiah darinya didalam tas Sail. Lingga berharap Sail akan suka dengan hadiah topi darinya. Ia akan menyimpan sementara topi lama Sail sampai Sail menyadari topi hadiah darinya.

Sail dan beberapa anak lelaki lain mulai memasuki ruangan proyek. Sail menuju ke tempat tasnya dan mengambil topi hitam. Ia memakai topi tersebut tanpa menyadari bahwa topi itu adalah topi yang berbeda dari biasanya.

Sail sedang mengerjakan generator yang sudah rampung 80% hingga tiba-tiba Toni mendekat dan menatap ada sesuatu yang berbeda dari penampilan sail.

“Wah, ada yang punya topi baru nih” Toni terkekeh menatap Sail.

Sail mengangkat wajahnya menatap heran ke arah Toni.

“Waw, the smart one, cocok sama abang Sail yang memang pintar” puji Ujang mendekat.

Sail meluruskan badannya. Ia melepaskan topi yang dipakainya. Mata Sail langsung membulat setelah mengetahui topi yang dipakainya bukanlah topi miliknya yang biasa ia pakai. Sail berlari cepat menuju ke arah tasnya. Ia mengeluarkan semua isi tasnya sekaligus demi mencari topi hitam miliknya.

Darah Sail mendidih karena ia tak menemukan topi hitam itu di tasnya. Ia memandang sekitar dan mulai mencari-cari topi hitam miliknya siapa tahu tercecer di lantai atau dimanapun itu. Namun tetap saja tak ia temukan. Sail mulai panik. Ia kembali mengobrak-abrik beberapa tempat. Beberapa anak lain mulai bingung akan tingkah Sail.

“Kau sedang mencari apa ?” tanya Ardi.

Sail mengacuhkan pertanyaan Ardi. Ia terdiam dan mulai menatap anak-anak tim merah putih satu persatu.

“Siapa dari kalian yang mengambil topi hitamku ?” tanya Sail dingin.

Semua mata anak-anak tim merah putih menatap Sail. Beberapa anak masih asyik mengerjakan tugasnya.

“Siapa dari kalian yang berani menyentuh tas ku dan mengambil topi hitamku ?” suara Sail menggelegar.

Kali ini semua mata fokus menatap Sail. Sail mengenggam kuat topi hitam yang baru dengan tulisan ‘the smart one’ itu ditangannya. Ia benar-benar berusaha menahan amarahnya.

Lingga tidak mengerti apa yang barusan terjadi. Lingga menatap Sail yang berdiri dengan wajah dingin dan terlihat sekali berusaha menahan marahnya. Sail tiba-tiba menatapnya. Tatapan mata mereka bertemu. Lingga berusaha mengatur napasnya. Suasana semakin sepi terasa karena anak-anak hanya diam menunggu.

Lingga akhirnya melangkahkan kakinya mendekati Sail. Ia terlihat memegang topi hitam sail ditangannya.

“A, aku tidak mengambilnya, aku hanya menyimpan...”

Belum selesai suara Lingga yang terbata bicara Sail langsung menyambar topi hitam miliknya yang ada ditangan Lingga. Sail tiba-tiba melempar topi pemberian Lingga di lantai.

“Apa yang kau pikirkan ? berani-beraninya kau mengambil barang milik orang lain tanpa izin ? apa kau sedang bercanda ha ? jangan seenaknya menyentuh barang milik orang lain.”

Suara tegas Sail menggema diseluruh ruangan. Semua napas tertahan melihat amarah Sail akhirnya keluar juga. Lingga kaget bukan main. Ia menatap wajah Sail yang benar-benar berbeda dari biasanya. Sail tak pernah semarah ini.

Lingga menelan ludahnya. Ia tidak bermaksud untuk bercanda ataupun mengambil barang Sail. Ia hanya menyimpan sebentar sebelum menyerahkan topi lama itu pada Sail.

Sail masih menatap Lingga dengan tatapan marah.

“tidak usah merasa penting dan sok ikut campur urusan orang lain, kau pikir dirimu itu siapa ? seenaknya saja berbuat semaumu ha ? urus saja dirimu sendiri”

“aku berhenti, aku berhenti sekarang”

Sail menatap sebentar ke wajah Lingga sebelum melangkahkan kakinya keluar ruangan. Ia benar-benar marah sekarang. Lingga menelan ludahnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Degub jantungnya terasa cepat. Ia belum mengerti situasinya. Kenapa Sail marah, kenapa sail membentaknya dan berbagai pertanyaan lainnya berkecamuk dikepala Lingga.

Lingga merasakan lututnya gemetar. Ia jatuh terduduk menatap topi hitam pemberiannya yang tadi dibanting Sail. Kata-kata Sail menusuk hatinya. Lingga mulai menangis pelan. Nayla dan Resti segera berlari ke tempat Lingga. Mereka berusaha menenangkan Lingga yang menangis walau mereka juga masih belum mengerti situasinya kenapa Sail begitu marah.

Ardi segera berlari keluar menyusul Sail. Ardi menghentikan langkah kaki Sail yang masih terlihat berusaha mengendalikan dirinya.

“ada apa denganmu ? kenapa kau semarah itu ?”

“menyingkir dari jalanku” ujar Sail dingin.

“Lingga tidak bermaksud mencuri topimu, dia hanya ingin memberimu sebuah hadiah topi baru” ujar Ardi.

Sail menatap Ardi. Ardi bercerita bahwa sebelum ke masjid dia melihat Lingga membuka tas Sail dan memasukkan sebuah topi hitam baru didalam tas itu.

“tidakkah kau sadar kalau dia begitu memperhatikanmu ? dia peduli padamu” ujar Ardi.

Sail hanya diam sebentar kemudian berlalu meninggalkan Ardi. Ardi hanya bisa menghembuskan napasnya pelan sambil menatap punggung Sail yang semakin jauh.

Malam itu Lingga masih menangis di asrama. Nayla dan Resti hanya saling tatap dengan sendu mencoba menenangkan Lingga yang kini tengah memegang erat topi hitam hadiah untuk Sail. Lingga memikirkan banyak hal yang terjadi sejak pertemuannya pertama kali dengan Sail.

‘Mengapa Sail begitu marah saat aku mengambil topinya ? apa aku salah memberinya hadiah sebuah topi baru ?’ dan banyak lagi pertanyaan berkecamuk di pikiran Lingga.

Ruangan proyek ramai oleh anak-anak. Keadaan sangat kacau balau sejak seminggu lalu Sail mengatakan berhenti sebagai relawan tim merah putih. Lomba pekan ilmiah nasional tinggal lima hari lagi. Generator tidak mau menyala dengan baik. Saat Sail pergi generator berjalan dengan baik namun dua hari yang lalu tiba-tiba mesinnya mogok dan tersendat. Asap mengepul keluar dair generator. Sistem listriknya tiba-tiba bergeser.

Toni, Indra, dan anak-anak tim merah putih beserta relawan lain (dan relawan tambahan) bahu membahu mencoba memperbaiki generator. Namun tak kunjung membaik. Beberapa anak mulai terlihat panik.

Lingga mematung menatap anak-anak tim merah putih yang masih berusaha memperbaiki generator. Ia dan beberapa anak dibidang lain menjadi tidak begitu fokus dengan bidang mereka masing-masing karena bidang yang menjadi jantung utama proyek ini sedang berjalan tidak baik.

“kita butuh seseorang” ujar Toni.

Indra menggeleng.

“percuma, aku udah berusaha membujuk, dia gak bakal mau, dia bahkan tak mau mendengar aku yang bahkan belum bicara mengenai mesin ini” ujar Indra pasrah.

Toni mendecak. Dosen pembimbing pun tak bisa banyak menolong karena yang boleh menjadi relawan hanyalah kalangan mahasiswa, bukan teknisi profesional.

“terus gimana dong ? lombanya tinggal lima hari lagi, lusa kita udah harus menyerahkan prototype ini ke panitia” ujar beberapa anak-anak tim merah putih yang mulai terlihat khawatir.

Lingga menunduk. Ini semua salahnya, pikir Lingga. Andai ia tak memberikan topi pada Sail tentu Sail masih berada disini sekarang membantu tim merah putih. Lingga benar-benar merasa menyesal terutama untuk timnya. Lingga menghembuskan napasnya. Ia berdiri dan segera berlari keluar ruangan.

Lingga berlari sekuat mungkin. Ia bahkan lupa untuk memakai sepatu karena ia harus cepat tiba ditempat itu. Tempat kerja Sail di chicken area. Lingkungan kampus yang gelap tak menggoyahkan tekadnya. Malam hari adalah shift kerja Sail di tempat itu. Ia baru sampai di depan gedung serba guna auditorium saat ia melihat sosok yang begitu dikenalnya. Sail. Sail yang menaiki sebuah sepeda sedang melaju kencang ke arahnya.

Lingga bisa melihat topi hitam itu yang melekat erat dikepala Sail. Lingga terdiam. Tubuhnya lemah bukan karena berlari cukup jauh tanpa alas kaki sehingga kaus kaki yang dipakainya menjadi hitam terkena aspal dan kerikil jalanan. Melainkan karena Lingga melihat topi hitam itu, melihat Sail.

‘Topi hitam sialan’ umpat Lingga dalam hatinya. Lingga menatap tulisan gedung serba guna auditorium, ini tempat Lingga dan Sail bertemu untuk pertama kalinya. Lingga sudah menangis. Ia terduduk sambil menundukkan kepalanya menatap jalanan dengan airmata yang terus jatuh dipipinya tepat saat sepeda Sail berhenti didepannya.

“Apa yang kau lakukan sekarang ? cepat naik” perintah Sail dingin.

Sail mengayuh dengan kencang sepedanya menuju ruangan proyek. Lingga yang duduk dibelakang hanya terdiam sambil berusaha mengendalikan dirinya. Dengan berlari Sail segera memasuki ruangan sementara Lingga berhenti dan berdiri diam didepan pintu. Sail segera menyingkirkan semua orang yang menghalangi jalannya, mendekati generator dan mulai memperbaiki mesin yang berderu itu.

Lingga bisa melihat Sail yang begitu cekatan memperbaiki semuanya dibantu dengan anak-anak tim merah putih lainnya. Lingga menunduk dan segera menyandar di dinding lorong. Ia kembali menangis sembari berdoa agar semuanya berjalan dengan baik. Perlahan tubuh Lingga jatuh terduduk dilantai.

Suasana hening sejenak. Anak-anak tim merah putih kembali memandang generator dan Sail secara bergantian. Sail menganggukkan kepalanya pada Indra yang tengah berdiri didekat sakelar lampu. Pelan tangan Indra mematikan lampu ruangan proyek. Gelap seketika. Sail dalam kegelapan mencoba menghidupkan generator. Generator hidup dengan mulus dan cahaya mulai kembali menerangi ruangan proyek dengan bantuan generator dan segentong air.

Anak-anak tim merah putih bersorak riang. Mereka saling peluk satu sama lain karena permasalahan generator sudah terpecahkan. Sail tidak melihat Lingga didalam ruangan. Ia berjalan pelan menuju keluar ruangan dan mendapati Lingga yang tengah terduduk dilantai dengan lutut yang ditekuk. Lingga terlihat sedang menghapus airmatanya dan tidak menatap Sail sama sekali.

Sail berjongkok dan mengeluarkan sebuah sapu tangan untuk membersihkan kaus kaki Lingga yang kotor namun Lingga menolak dengan menjauhkan kakinya dari tangan Sail. Sail diam menatap Lingga sebelum akhirnya meletakkan sapu tangan itu di lantai.

“aku minta maaf” ujar Sail pelan.

“aku minta maaf karena sudah membentakmu saat itu” ujar Sail.

Lingga menatap Sail. Airmatanya kembali jatuh ketika mendengar suara Sail. Entah kenapa tiba-tiba Lingga rindu dengan suara itu. Lingga menundukkan kepalanya.

“kau harus menang, tim merah putih harus menang saat lomba besok” ujar Sail.

Lingga mengangkat kepalanya. Matanya membulat saat ia menyaksikan Sail yang tengah tersenyum padanya. Sail menundukkan kepalanya malu saat Lingga masih menatapnya tidak percaya.

Senyum Sail sangat indah dipandang oleh Lingga. Wajah Sail jadi terlihat menyenangkan dan sangat tampan ditatapnya. Lingga tersenyum simpul. Ia mengangguk pelan berjanji dalam hatinya untuk membawa kemenangan tim merah putih di lomba karya ilmiah.

***