Rabu, 30 Oktober 2019

PURNAMA KE-8



PURNAMA KE-8

Pertokoan di sepanjang jalan utama mulai ramai. Memasuki musim liburan anak-anak sekolah. Para turis lokal maupun mancanegara memadati jalanan kota. Hujan rinai turun tidak deras membasahi jalanan yang masih tetap ramai oleh pengunjung. 

Udara sedikit dingin terasa oleh Lingga. Gadis manis yang sedang duduk di bangku perkuliahan jurusan keguruan. Dia sedang mengerjakan sebuah proyek ilmiah dengan teman kelompoknya yang bernama tim merah putih. Akhir bulan ini adalah jadwal seleksi tingkat nasional. Mereka benar-benar sibuk di ruangan menyiapkan semuanya dengan detail dan cermat.

Lingga menatap topi pajangan yang ada disebalik kaca toko. Dia berdiri disebuah toko topi. Lingga ingin membelikan sebuah topi baru untuk Sail karena ia melihat ada beberapa lubang di topi yang kerap digunakan oleh lelaki itu. Lingga tersenyum dan mantap melangkah masuk kedalam toko.

Lingga memesan sebuah topi hitam yang persis seperti topi yang Sail biasa kenakan. Diatas topi tersebut tertulis sebuah tulisan kecil berwarna putih. ‘The Smart One’. Kata itu yang tertulis rapi di pojok kanan atas bagian topi. Lingga tersenyum manis menatap topi itu.

Lingga berjalan pelan menuju ruangan proyek mereka. Sekarang hari jumat. Para lelaki sedang berada di masjid kampus untuk menunaikan shalat jumat. Lingga berjalan pelan mendekati tas Sail yang tergeletak. Benar saja, Sail meninggalkan topi hitam yang biasa dipakainya. Tidak sia-sia Lingga selalu memperhatikan kebiasaan Sail termasuk kebiasaan ketika shalat maka Sail akan melepas dan menyimpan topinya didalam tas.

Lingga mengambil topi Sail dan meletakkan topi baru hadiah darinya didalam tas Sail. Lingga berharap Sail akan suka dengan hadiah topi darinya. Ia akan menyimpan sementara topi lama Sail sampai Sail menyadari topi hadiah darinya.

Sail dan beberapa anak lelaki lain mulai memasuki ruangan proyek. Sail menuju ke tempat tasnya dan mengambil topi hitam. Ia memakai topi tersebut tanpa menyadari bahwa topi itu adalah topi yang berbeda dari biasanya.

Sail sedang mengerjakan generator yang sudah rampung 80% hingga tiba-tiba Toni mendekat dan menatap ada sesuatu yang berbeda dari penampilan sail.

“Wah, ada yang punya topi baru nih” Toni terkekeh menatap Sail.

Sail mengangkat wajahnya menatap heran ke arah Toni.

“Waw, the smart one, cocok sama abang Sail yang memang pintar” puji Ujang mendekat.

Sail meluruskan badannya. Ia melepaskan topi yang dipakainya. Mata Sail langsung membulat setelah mengetahui topi yang dipakainya bukanlah topi miliknya yang biasa ia pakai. Sail berlari cepat menuju ke arah tasnya. Ia mengeluarkan semua isi tasnya sekaligus demi mencari topi hitam miliknya.

Darah Sail mendidih karena ia tak menemukan topi hitam itu di tasnya. Ia memandang sekitar dan mulai mencari-cari topi hitam miliknya siapa tahu tercecer di lantai atau dimanapun itu. Namun tetap saja tak ia temukan. Sail mulai panik. Ia kembali mengobrak-abrik beberapa tempat. Beberapa anak lain mulai bingung akan tingkah Sail.

“Kau sedang mencari apa ?” tanya Ardi.

Sail mengacuhkan pertanyaan Ardi. Ia terdiam dan mulai menatap anak-anak tim merah putih satu persatu.

“Siapa dari kalian yang mengambil topi hitamku ?” tanya Sail dingin.

Semua mata anak-anak tim merah putih menatap Sail. Beberapa anak masih asyik mengerjakan tugasnya.

“Siapa dari kalian yang berani menyentuh tas ku dan mengambil topi hitamku ?” suara Sail menggelegar.

Kali ini semua mata fokus menatap Sail. Sail mengenggam kuat topi hitam yang baru dengan tulisan ‘the smart one’ itu ditangannya. Ia benar-benar berusaha menahan amarahnya.

Lingga tidak mengerti apa yang barusan terjadi. Lingga menatap Sail yang berdiri dengan wajah dingin dan terlihat sekali berusaha menahan marahnya. Sail tiba-tiba menatapnya. Tatapan mata mereka bertemu. Lingga berusaha mengatur napasnya. Suasana semakin sepi terasa karena anak-anak hanya diam menunggu.

Lingga akhirnya melangkahkan kakinya mendekati Sail. Ia terlihat memegang topi hitam sail ditangannya.

“A, aku tidak mengambilnya, aku hanya menyimpan...”

Belum selesai suara Lingga yang terbata bicara Sail langsung menyambar topi hitam miliknya yang ada ditangan Lingga. Sail tiba-tiba melempar topi pemberian Lingga di lantai.

“Apa yang kau pikirkan ? berani-beraninya kau mengambil barang milik orang lain tanpa izin ? apa kau sedang bercanda ha ? jangan seenaknya menyentuh barang milik orang lain.”

Suara tegas Sail menggema diseluruh ruangan. Semua napas tertahan melihat amarah Sail akhirnya keluar juga. Lingga kaget bukan main. Ia menatap wajah Sail yang benar-benar berbeda dari biasanya. Sail tak pernah semarah ini.

Lingga menelan ludahnya. Ia tidak bermaksud untuk bercanda ataupun mengambil barang Sail. Ia hanya menyimpan sebentar sebelum menyerahkan topi lama itu pada Sail.

Sail masih menatap Lingga dengan tatapan marah.

“tidak usah merasa penting dan sok ikut campur urusan orang lain, kau pikir dirimu itu siapa ? seenaknya saja berbuat semaumu ha ? urus saja dirimu sendiri”

“aku berhenti, aku berhenti sekarang”

Sail menatap sebentar ke wajah Lingga sebelum melangkahkan kakinya keluar ruangan. Ia benar-benar marah sekarang. Lingga menelan ludahnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Degub jantungnya terasa cepat. Ia belum mengerti situasinya. Kenapa Sail marah, kenapa sail membentaknya dan berbagai pertanyaan lainnya berkecamuk dikepala Lingga.

Lingga merasakan lututnya gemetar. Ia jatuh terduduk menatap topi hitam pemberiannya yang tadi dibanting Sail. Kata-kata Sail menusuk hatinya. Lingga mulai menangis pelan. Nayla dan Resti segera berlari ke tempat Lingga. Mereka berusaha menenangkan Lingga yang menangis walau mereka juga masih belum mengerti situasinya kenapa Sail begitu marah.

Ardi segera berlari keluar menyusul Sail. Ardi menghentikan langkah kaki Sail yang masih terlihat berusaha mengendalikan dirinya.

“ada apa denganmu ? kenapa kau semarah itu ?”

“menyingkir dari jalanku” ujar Sail dingin.

“Lingga tidak bermaksud mencuri topimu, dia hanya ingin memberimu sebuah hadiah topi baru” ujar Ardi.

Sail menatap Ardi. Ardi bercerita bahwa sebelum ke masjid dia melihat Lingga membuka tas Sail dan memasukkan sebuah topi hitam baru didalam tas itu.

“tidakkah kau sadar kalau dia begitu memperhatikanmu ? dia peduli padamu” ujar Ardi.

Sail hanya diam sebentar kemudian berlalu meninggalkan Ardi. Ardi hanya bisa menghembuskan napasnya pelan sambil menatap punggung Sail yang semakin jauh.

Malam itu Lingga masih menangis di asrama. Nayla dan Resti hanya saling tatap dengan sendu mencoba menenangkan Lingga yang kini tengah memegang erat topi hitam hadiah untuk Sail. Lingga memikirkan banyak hal yang terjadi sejak pertemuannya pertama kali dengan Sail.

‘Mengapa Sail begitu marah saat aku mengambil topinya ? apa aku salah memberinya hadiah sebuah topi baru ?’ dan banyak lagi pertanyaan berkecamuk di pikiran Lingga.

Ruangan proyek ramai oleh anak-anak. Keadaan sangat kacau balau sejak seminggu lalu Sail mengatakan berhenti sebagai relawan tim merah putih. Lomba pekan ilmiah nasional tinggal lima hari lagi. Generator tidak mau menyala dengan baik. Saat Sail pergi generator berjalan dengan baik namun dua hari yang lalu tiba-tiba mesinnya mogok dan tersendat. Asap mengepul keluar dair generator. Sistem listriknya tiba-tiba bergeser.

Toni, Indra, dan anak-anak tim merah putih beserta relawan lain (dan relawan tambahan) bahu membahu mencoba memperbaiki generator. Namun tak kunjung membaik. Beberapa anak mulai terlihat panik.

Lingga mematung menatap anak-anak tim merah putih yang masih berusaha memperbaiki generator. Ia dan beberapa anak dibidang lain menjadi tidak begitu fokus dengan bidang mereka masing-masing karena bidang yang menjadi jantung utama proyek ini sedang berjalan tidak baik.

“kita butuh seseorang” ujar Toni.

Indra menggeleng.

“percuma, aku udah berusaha membujuk, dia gak bakal mau, dia bahkan tak mau mendengar aku yang bahkan belum bicara mengenai mesin ini” ujar Indra pasrah.

Toni mendecak. Dosen pembimbing pun tak bisa banyak menolong karena yang boleh menjadi relawan hanyalah kalangan mahasiswa, bukan teknisi profesional.

“terus gimana dong ? lombanya tinggal lima hari lagi, lusa kita udah harus menyerahkan prototype ini ke panitia” ujar beberapa anak-anak tim merah putih yang mulai terlihat khawatir.

Lingga menunduk. Ini semua salahnya, pikir Lingga. Andai ia tak memberikan topi pada Sail tentu Sail masih berada disini sekarang membantu tim merah putih. Lingga benar-benar merasa menyesal terutama untuk timnya. Lingga menghembuskan napasnya. Ia berdiri dan segera berlari keluar ruangan.

Lingga berlari sekuat mungkin. Ia bahkan lupa untuk memakai sepatu karena ia harus cepat tiba ditempat itu. Tempat kerja Sail di chicken area. Lingkungan kampus yang gelap tak menggoyahkan tekadnya. Malam hari adalah shift kerja Sail di tempat itu. Ia baru sampai di depan gedung serba guna auditorium saat ia melihat sosok yang begitu dikenalnya. Sail. Sail yang menaiki sebuah sepeda sedang melaju kencang ke arahnya.

Lingga bisa melihat topi hitam itu yang melekat erat dikepala Sail. Lingga terdiam. Tubuhnya lemah bukan karena berlari cukup jauh tanpa alas kaki sehingga kaus kaki yang dipakainya menjadi hitam terkena aspal dan kerikil jalanan. Melainkan karena Lingga melihat topi hitam itu, melihat Sail.

‘Topi hitam sialan’ umpat Lingga dalam hatinya. Lingga menatap tulisan gedung serba guna auditorium, ini tempat Lingga dan Sail bertemu untuk pertama kalinya. Lingga sudah menangis. Ia terduduk sambil menundukkan kepalanya menatap jalanan dengan airmata yang terus jatuh dipipinya tepat saat sepeda Sail berhenti didepannya.

“Apa yang kau lakukan sekarang ? cepat naik” perintah Sail dingin.

Sail mengayuh dengan kencang sepedanya menuju ruangan proyek. Lingga yang duduk dibelakang hanya terdiam sambil berusaha mengendalikan dirinya. Dengan berlari Sail segera memasuki ruangan sementara Lingga berhenti dan berdiri diam didepan pintu. Sail segera menyingkirkan semua orang yang menghalangi jalannya, mendekati generator dan mulai memperbaiki mesin yang berderu itu.

Lingga bisa melihat Sail yang begitu cekatan memperbaiki semuanya dibantu dengan anak-anak tim merah putih lainnya. Lingga menunduk dan segera menyandar di dinding lorong. Ia kembali menangis sembari berdoa agar semuanya berjalan dengan baik. Perlahan tubuh Lingga jatuh terduduk dilantai.

Suasana hening sejenak. Anak-anak tim merah putih kembali memandang generator dan Sail secara bergantian. Sail menganggukkan kepalanya pada Indra yang tengah berdiri didekat sakelar lampu. Pelan tangan Indra mematikan lampu ruangan proyek. Gelap seketika. Sail dalam kegelapan mencoba menghidupkan generator. Generator hidup dengan mulus dan cahaya mulai kembali menerangi ruangan proyek dengan bantuan generator dan segentong air.

Anak-anak tim merah putih bersorak riang. Mereka saling peluk satu sama lain karena permasalahan generator sudah terpecahkan. Sail tidak melihat Lingga didalam ruangan. Ia berjalan pelan menuju keluar ruangan dan mendapati Lingga yang tengah terduduk dilantai dengan lutut yang ditekuk. Lingga terlihat sedang menghapus airmatanya dan tidak menatap Sail sama sekali.

Sail berjongkok dan mengeluarkan sebuah sapu tangan untuk membersihkan kaus kaki Lingga yang kotor namun Lingga menolak dengan menjauhkan kakinya dari tangan Sail. Sail diam menatap Lingga sebelum akhirnya meletakkan sapu tangan itu di lantai.

“aku minta maaf” ujar Sail pelan.

“aku minta maaf karena sudah membentakmu saat itu” ujar Sail.

Lingga menatap Sail. Airmatanya kembali jatuh ketika mendengar suara Sail. Entah kenapa tiba-tiba Lingga rindu dengan suara itu. Lingga menundukkan kepalanya.

“kau harus menang, tim merah putih harus menang saat lomba besok” ujar Sail.

Lingga mengangkat kepalanya. Matanya membulat saat ia menyaksikan Sail yang tengah tersenyum padanya. Sail menundukkan kepalanya malu saat Lingga masih menatapnya tidak percaya.

Senyum Sail sangat indah dipandang oleh Lingga. Wajah Sail jadi terlihat menyenangkan dan sangat tampan ditatapnya. Lingga tersenyum simpul. Ia mengangguk pelan berjanji dalam hatinya untuk membawa kemenangan tim merah putih di lomba karya ilmiah.

***

Senin, 30 September 2019

PURNAMA KE-7


PURNAMA KE-7

“jadi itu benar ? kau sering berduaan saja dengan Sail didalam ruangan proyek ?”

Salah seorang senior perempuan Lingga bertanya. Lingga menatap senior perempuan tadi dengan menunduk. Lingga menggeleng pelan. Akhir-akhir ini saja dirinya hanya sempat bertatap sebentar dengan Sail. Tak lebih tak kurang. Tak ada yang spesial.

“Lingga, kami tidak menghakimi kok, hanya saja kamu tau kan batasan-batasan kamu apalagi sebagai kader LDK. Jangan sampe kelewat batas aja” ujar salah seorang senior.

Lingga mengangguk pelan atas ‘teguran’ dari seniornya. Lingga tahu maksud mereka baik. Hanya menasihati dirinya saja. Lingga menghembuskan nafasnya berat. Ia berjalan gontai meninggalkan ruangan sekretariat LDK.

Lingga sudah berada diluar gedung saat ia menyaksikan sebuah keributan kecil didekat taman kampus. namun matanya menangkap sosok yang amat dikenalinya, yaitu Sail.

Sail terlihat dengan berhadapan dengan beberapa gerombolan laki-laki. Namun situasinya nampaknya tidak begitu bersahabat. Tangan lelaki yang berdiri didepan Sail terlihat menekan-nekan pundak sail. Lingga bersegera mendekati kerumunan itu.

“lo gak usah terlalu ikut campur dengan proyek orang lain, lo itu hanya sebatas relawan, bukan anggota kelompok, jadi gak usah sok menunjukkan kemampuan, mentang-mentang lo senior, lo pikir gue takut sama lo” ujar lelaki yang nampaknya seangkatan dengan Lingga. Lelaki itu bahkan sudah berani menepuk-nepuk pipi sail.

“ada apaan sih ini ?” ujar Lingga berani menyela.

Lelaki tadi menatap lingga. Lingga tahu bahwa lelaki itu adalah salah seorang anggota dari kelompok lain yang juga ikut proyek untuk kompetesi ini.

“ini semua juga salah lo, sebagai anggota tetap lo seharusnya bisa kasi batasan sedikit sama relawan yang lo rekrut”

“maksud kamu apaan ? mereka hanya sekedar membantu, kenapa kami harus membatasi mereka ?” sanggah Lingga.

Lelaki tadi tampak tak sabaran mulai mendekati Lingga. Dia hendak menyentuh lengan Lingga sebelum akhirnya ditahan oleh Sail.

“apa ? kenapa lo pegang tangan gue, minggir” ujar lelaki itu menepis lengan Sail.

Namun Sail tidak melepaskannya tangannya. Sail bahkan mendorong lelaki itu menjauhi Lingga.

“ini semua udah kita lakuin secara sportif dan adil. Untuk anak manja yang suka merengek karena tahu kelompoknya bakal kalah, aku saranin kamu mundur aja dari sekarang kalo kamu takut” ujar Sail dingin.

Lelaki tadi tersedak. Ia benar-benar tak bisa menahan amarahnya. Lelaki tersebut segera melayangkan tinjunya ke arah Sail. Sail tak menghindar. Ia menerima pukulan itu tepat di pipinya. Sail terjatuh dan topinya terhempas ke jalanan. Anak lelaki itu menginjak pelan topi hitam sail.

Sail menatap itu dari ujung matanya yang tertutup poni panjangnya. Darah Sail mendidih melihat lelaki itu menginjak topinya. Sail segera berdiri dan melayangkan tinjunya pula pada anak lelaki itu. perkelahian tak bisa terelakkan diantara mereka.

Sail dan lelaki itu langsung dibawa kekantor kemahasiswaan. Mereka diceramahi panjang lebar. Wakil bagian kemahasiswaan tak bisa menerima alasan kekanak-kanakan anak lelaki itu yang mengatakan bahwa Sail terlalu banyak mengerjakan proyek dibanding anggota tim merah putih itu sendiri. Akibatnya anak lelaki itu akan di skors selama seminggu dari pengerjaan proyek karena sudah menyerang Sail duluan.

Cukup lama Sail berada didalam kantor. Lingga menunggu Sail di kantor kemahasiswaan sambil membawa topi hitam Sail. Lingga bisa melihat ada beberapa lubang kecil di topi hitam itu. Lingga iseng mendekatkan topi itu ke wajahnya. Ia ingin mencium aroma rambut sail dari topi itu. Wangi sampo di topi Sail sedikit terasa meski topi itu benar-benar terlihat sangat tua dan butut. ‘Topi ini pasti sangat berharga untuknya’, pikir Lingga.

Sail dan anak lelaki itu berjalan keluar dari kantor kemahasiswaan. Sekitar wajah Sail lebam dan rambutnya terlihat sedikit berantakan. Sail baru sadar bahwa ia tidak memakai topinya. Sail terlihat panik mencari topinya namun matanya langsung tertuju pada topi hitam yang kini dipegang Lingga.

Tanpa banyak bicara Sail langsung menyambar topi hitam itu dari tangan Lingga. Sail langsung memasang topi itu ke kepalanya, menatap Lingga sebentar kemudian berlalu meninggalkan Lingga sendirian. Lingga yang ingin bertanya mengenai kondisi Sail hanya bisa terdiam menatap punggung Sail yang semakin menjauh darinya.

Lingga terdiam di kamar kosnya. Seharusnya ia segera ke ruangan proyek untuk kembali menyelesaikan tugasnya namun ia terlihat malas. Ia begitu penasaran kenapa topi itu sangat berharga bagi Sail.

Siapa yang memberikan topi itu ? pertanyaan itu menggantung di kepala Lingga. Membuatnya menjadi uring-uringan dikasur. Lingga menghembuskan napasnya. Pikiran negatif muncul di kepalanya.

Jangan-jangan, topi itu diberikan oleh orang yang dicintai Sail, itu terpikirkan oleh Lingga. Lingga segera menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia menepuk kedua pipinya dan segera bangkit dari kasur untuk bersiap-siap kembali ke ruangan proyek.

Ruangan proyek ramai oleh anak-anak kelompok yang berdiskusi mengenai perkelahian yang dilakukan Sail. Sail belum datang keruangan itu.

“Sebenarnya mereka juga udah ngancam aku untuk bisa membatasi senior-senior yang membantu” jujur Indra.

Toni menarik napas. Ia mendengarkan dengan baik semua pengaduan anggota kelompoknya yang mengaku di tindas dan diancam kelompok lain.

“Ya, ini semua jadi pelajaran buat kita, jadi, mulai sekarang, apapun yang terjadi pada kelompok maupun personal harus diberitahukan, jangan ada yang diam” pinta Toni.

Semua anggota tim merah putih mengangguk mengiyakan. Sail tiba-tiba memasuki ruangan. Semua mata memandang wajahnya yang masih terlihat lebam. Sail berdiri menatap anggota tim merah putih satu persatu. Lingga hanya bertatapan sebentar saat Sail menatapnya sebelum menunduk menatap lantai.

“kalian gak usah khawatir, semua akan baik-baik saja, tidak ada yang patut disalahkan, merekanya aja yang terlalu takut bersaing dengan kalian, tanpa kami pun kalian tetap hebat” ujar Sail tegas.

“jadi semuanya ayo kembali bekerja”

Teriakan Sail menggema diseluruh ruangan. Beberapa anggota tim merah putih sampai kaget mendengar suara Sail yang begitu tegas dan keras. Beberapa anak tertawa lega kembali seraya menuju tempat masing-masing.

Lingga berjalan pelan mendekati Sail yang tengah berdiri memperbaiki mesin generator. Sail menatap Lingga sebentar lalu kembali menoleh pada mesin generator yang mulai berbunyi deru mesinnya.

“abang baik-baik saja ?”

Sail membalas pertanyaan Lingga dengan anggukan kepalanya.

“maaf aku meninggalkanmu begitu saja saat diruang kemahasiswaan, dan, terima kasih sudah membelaku saat itu” ujar Sail.

Lingga tersenyum simpul. Ia menatap generator yang semakin menderu. Diam-diam Sail menatap wajah Lingga yang tersenyum dari balik topinya.

***

Kamis, 29 Agustus 2019

PURNAMA KE-6




PURNAMA KE-6

Sudah tiga bulan proyek tim merah putih berjalan. Semua berjalan lancar dan terkendali. Lingga pun begitu asyik dengan bidang mendongengnya. Sesuai dengan janjinya, Sail menyempatkan datang ke salah satu sekolah dimana Lingga biasa mempraktekkan ilmu mendongengnya bersama dengan beberapa teman komunitas mendongeng yang di ikuti Lingga.

Lingga mendongeng dengan sangat baik. Anak-anak begitu antusias mendengarkan Lingga yang mendongeng dengan teknik yang menarik walau masih dengan alat seadanya. Lingga memperkenalkan Sail. Lingga meminta Sail untuk mendonger satu dua buku. Sail mengambil salah satu buku yang menarik perhatiannya. Sayang Sail mendongeng dengan ekspresi dinginnya. Namun anak-anak masih terlihat berusaha menghargai Sail yang sudah mau mencoba.

Lingga terkekeh saat mereka berjalan pulang bersama anak-anak komunitas mendongeng lainnya.

“Aku tidak menyangka cara abang mendongeng akan seburuk itu” ujar Lingga ceplas ceplos.

“Kau tau, aku memikirkan sebuah konsep untuk membantu bidang mendongengmu, dengan latar proyektor ditambah beberapa lampu elektrik sederhana sehingga mendongengmu akan menjadi lebih baik” ujar Sail dingin.

Lingga cemberut. Sail sama sekali tidak mendengar guyonannya barusan. Sail malah asyik bergumul dengan pikirannya terkait teknologi terbaru untuk bidang mendongengnya. Lingga menghembuskan napasnya berat. Suasana hati Lingga sekarang sedang bagus. Ia tidak ingin merusaknya. Lagipula Lingga tahu Sail berniat membantunya.

Lingga tersenyum menatap jalanan. Udara malam menusuk tubuhnya.

“Aku sangat senang abang mau menepati janji untuk ikut kelas mendongeng bersama anak-anak” ujar Lingga pelan.

Sail menatap Lingga yang juga tengah menatap dirinya. Kemudian mengalihkan pandangannya ke jalanan. Sail masih belum tersenyum dan masih terlihat jutek. Tapi itu cukup menggemaskan bagi Lingga. Lingga kembali menatap topi hitam yang melekat dikepala Sail. Ia hendak bertanya lagi mengenai topi itu namun urung karena Sail berkata ia akan singgah sebentar di chicken area.

Lingga mengangguk. Hubungannya hanya berjalan seperti biasa di ruang proyek dengan Sail. Sekedar menyapa dan bertanya kabar setelah itu Sail akan terbenam dengan generatornya. Lingga hanya tersenyum simpul dan kembali melanjutkan perjalanannya dengan rombongan komunitas mendongengnya.

Di asramanya Lingga dan kedua sahabatnya kerap pergi keatap asrama untuk melihat pemandangan kota yang indah terutama pada subuh dan malam hari. Lingga kerap termenung memikirkan pertama kalinya dia bertemu dengan Sail yang selalu tanpa sengaja. Ia teringat ucapan resti yang mengatakan apabila ada seorang perempuan bertemu dengan seorang lelaki tanpa sengaja sebanyak tiga kali maka mereka akan berjodoh.

Iseng Lingga menghitung pertemuan tanpa sengaja dirinya dengan Sail. Lingga mengingat semuanya dan ia tak tahu kenapa ia bisa mengingat dengan detail setiap pertemuannya dengan Sail. Pertama diruang serba guna auditorium, kedua di tempat servis, ketiga di chicken area, dan yang ke empat di ruang proyek. Lingga mengerjapkan matanya. Ia tertawa malu-malu menutup muka dengan tangannya. Lingga bisa merasakan wajahnya panas memerah.

Resti iseng menimpuk Lingga dengan popcorn. Nayla terkekeh jahil melihat tingkah Lingga yang mulai termenung sendiri, tertawa sendiri, menggeleng sendiri dan segala macamnya yang dirasakan oleh orang yang sedang jatuh cinta.

“Kau benar-benar keterlaluan, Ngga, bagaimana bisa kau jatuh cinta pada seorang pria yang bertipe seperti Sail ?” ujar Resti.

“Atau jangan-jangan ucapan kau jadi doa, Res, kau kan pernah berkata bahwa mereka jodoh” Seru Nayla dengan suara nyaringnya memecah keheningan malam di atap asrama.

Resti mendongak tak percaya. Lingga kembali melotot ke kedua sahabatnya.

Diruangan proyek semua kembali seperti biasanya. Lingga hanya sekedar menyapa Sail dan bertanya kabar sebentar kemudian berlanjut pada kesibukan masing-masing. Tak ada yang spesial diantara mereka.

Namun suatu malam setelah magrib, saat semua anak-anak masih asyik mencari makan malam, Lingga kembali iseng mendatangi Sail di ruangan proyek. Ia memikirkan Sail yang akhir-akhir ini terlihat lebih sibuk namun tidak dengan generatornya melainkan dengan sesuatu alat yang baru. Lingga segan bertanya pada Sail maupun pada teman-teman tekniknya yang lain.

Lingga menyapa Sail yang masih berkutat dengan alatnya. Lingga kembali meletakkan sebuah minuman energi ke atas meja. Lingga hanya menatap kembali Sail yang masih sibuk dengan perkakasnya. Ia memperhatikan Sail yang memakai kaus polos dengan celana jeans dan masih dengan topi hitamnya.

Sail mengangkat wajahnya menatap Lingga. Lingga yang kembali ketahuan tengah memperhatikan Sail jadi salah tingkah. Lingga berusaha mengendalikan ekspresinya.

“Lihatlah” ujar Sail pelan namun masih dengan dingin.

Lingga mengerutkan dahinya. ‘Lihat apa ?’ tanyanya dalam hati.

Sebuah tampilan di dinding ruangan muncul tiba-tiba. Lingga menatap sumber tampilan itu. itu berasal dari sebuah proyektor yang berhasil di modifikasi sehingga bisa menampilkan gambar yang masih tetap menyala meski dengan adanya cahaya penerangan yang kuat.

Sail berjalan menuju sakelar. Ia mematikan lampu. Lingga memperhatikan dengan tenang. Sekarang Sail mulai mencoba menghidupkan generator. Dua kali tarikan generator Sail berhasil menyala. Lampu-lampu kerlap kerlip dengan sinar yang saling terhubung satu sama lain mulai menyala.

“Ini hanya sambungan sederhana kabel listrik, generatornya masih setengah jadi, jika benar-benar sudah sempurna mungkin bisa membantu ruangan proyek ini dengan listrik yang di alirkannya dari gentong air itu” ujar Sail menjelaskan sambil menunjuk sebuah gentong air berukuran sedang.

“Dan ini, ini proyektor untuk bidangmu, jadi bisa digunakan untuk diluar ruangan atau alam terbuka. Seperti proyektor tiga dimensi, tetap bisa menampilkan gambar meski ada cahaya terang” ujar Sail mantap.

Lingga mengerjapkan matanya menatap tidak percaya. Pemandangan didalam ruangan proyek sangat indah dilihat oleh Lingga. Dengan lampu kerlap kerlip, proyektor yang menampilkan gambaran 3D dari potongan cerita di buku dongeng yang dulu sempat dibaca Sail.

Lingga tersenyum lebar. Ia mendekati dinding tempat tampilan proyektor. Mencoba menyentuhnya walau ia tahu itu hanyalah gambar fana. Lampu kerlap-kerlip kembali menarik hatinya.

“Ini menakjubkan” ujar Lingga terpana.

“Kau benar-benar hebat, abang Sail” ujar Lingga tersenyum menatap Sail.

Sail menghembuskan napasnya pelan. Ia mendekat ke meja. Mengambil minuman energi yang diletakkan Lingga tadi disana. Sail meminum minuman itu dengan khidmat sembari duduk bersandar di meja menatap hasil karya dirinya. Lingga bisa melihat Sail cukup bangga dengan apa yang sudah di lakukannya.

“wah, ini benar-benar keren, teman-teman, lihatlah kemari” suara Indra yang memanggil anak-anak tim merah putih lainnya mengagetkan Lingga dan Sail.

Satu persatu anak-anak tim merah putih yang memasuki ruangan mendecak kagum. Seolah berada di negeri khayangan menatap kerlap kerlip dan tampilan 3D di dinding.

Lingga tersenyum menatap riang di wajah mereka. Perlahan ia kembali melirik ke arah Sail. Ternyata Sail juga tengah melirik ke arah Lingga. Lingga menyadari Sail barusan memandangnya dan saat Lingga menatap Sail, Sail langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Sail langsung memperbaiki bentuk topinya seolah sedang salah tingkah. Sail segera beranjak menarik Toni, Indra serta beberapa anak-anak lainnya. Menjelaskan sesuatu pada mereka mengenai generator.

Lingga tersenyum malu-malu masih menatap ke arah Sail yang kembali terbenam dengan generator. Lingga tak menyadari bahwa Ardi memperhatikannya.


***

Sabtu, 27 Juli 2019

PURNAMA KE-5




PURNAMA KE-5

Proyek tim merah putih baru sepertiga jalan. Mereka sepakat membuat sebuah alat generator listrik yang bertenaga air sungai untuk desa Semayang. Itu usulan indra yang langsung di mentori oleh Sail. Sail banyak mengajari indra dan anak-anak dibidang teknik lainnya dalam membuat generator itu. Sail terlihat sabar dan mampu menjelaskan dengan baik setiap bagiannya.

Lingga sesekali mencuri-curi waktu untuk melihat anak-anak dibidang teknik melakukan tugasnya. Tak kurang dan tak lebih hanya untuk melihat Sail yang sedang bekerja dengan topi hitamnya. Lingga tersenyum sebentar kemudian berlalu meninggalkan tempat anak-anak teknik yang masih bergumul dengan generator yang belum separuh jadi.

Sudah jam 5 sore. Sail, Indra dan Toni masih standby didalam ruangan berdiskusi mengenai alat generator sementara anak-anak yang lain mulai beranjak pulang. Indra dan Toni benar-benar mentok pada satu bagian generator. Sail berusaha memeriksa dimana letak kesalahan mereka. Toni yang terlihat lelah meminta izin untuk keluar mencari angin sebentar.

“Kau sudah shalat ashar, Indra ?” tanya Sail.

Indra membulatkan matanya. Ia menggeleng pelan yang langsung dibalas dengan melototnya mata Sail. Tanpa disuruh indra segera ambil langkah seribu meninggalkan Sail sendirian bergumul dengan generator yang masih bermasalah.

“Masih bermasalah ya ?”

Sebuah suara memecahkan keheningan didalam ruangan. Sail menoleh ke sumber suara. Sail melihat Lingga yang berdiri didepan pintu. Lingga berjalan pelan mendekati Sail yang langsung mengalihkan perhatiannya pada generator.

“Jangan terlalu lelah, bang Sail sudah banyak membantu kami” ujar Lingga sambil meletakkan sesuatu.

Sail menatap minuman kaleng penyegar energi yang diletakkan Lingga diatas meja. Sail kemudian melanjutkan lagi pekerjaannya mengabaikan Lingga. Lingga menatap Sail. Sail memakai baju kaus polos yang sudah kotor penuh dengan oli dan gomok. Namun Sail masih setia memakai topi hitamnya.

“Apa kau tidak ada tugas lain selain mengamati orang seperti sebuah sensor ?” tanya Sail tiba-tiba.

Lingga tersekat. Ia terbatuk sebentar kemudian berusaha mengatur ekspresinya.

“Aku hanya ingin melihat-lihat” ujar Lingga asal.

“Melihat proyek atau melihat aku ?” tanya Sail dingin.

Lingga membulatkan matanya. Ia tidak percaya dengan kata-kata Sail barusan. ‘Hei, dia tidak sedang bercanda kan ?’, tanya Lingga dalam hatinya.

“Aku tidak tahu abang bisa begitu ge-er” ujar Lingga pelan.

Sail tidak menyahut. Ia berusaha mengangkat kotak aki yang lumayan berat. Lingga sedikit berpindah posisi untuk memberikan ruang yang lebih luas pada Sail.

“Kenapa abang selalu memakai topi ?” tanya Lingga akhirnya.

Sail memperbaiki posisi aki kemudian menepuk debu di kedua tangannya yang telah kotor karena oli. Ia menatap Lingga dingin. Lingga hanya menelan ludah ditatap seperti itu oleh Sail. Sail menghembuskan napasnya pelan. Ia memberikan sebuah kabel pada Lingga.

“Bisa kau bantu pegang ini” ujar Sail.

Lingga menyambut kabel yang diberikan Sail. Ia sedikit cemberut karena Sail mengabaikan pertanyaannya. Lingga iseng bertanya tentang kabel tersebut yang langsung dijawab Sail. Lingga kembali bertanya mengenai generator. Sail menjawab dengan santai semua bagian generator yang ditanyakan Lingga. Lingga sampai lupa kesalnya tadi karena sudah tertarik dengan generator yang membuatnya bertanya lebih banyak lagi pada Sail. Namun Sail menjawab semua pertanyaan Lingga dengan sabar dan penjelasan yang baik sehingga mudah dipahami oleh Lingga.

Toni dan indra sudah kembali keruangan. Lingga terlalu asyik dengan pengetahuan barunya sadar seharusnya ia segera beranjak pulang. Lingga berterima kasih pada Sail atas ilmu yang sudah Sail berikan. Tadi juga Lingga bercerita tentang tugasnya mendongeng dan iseng meminta bantuan Sail sesekali untuk ikut mendongeng. Lingga menyangka bahwa Sail akan menolak namun rupanya Sail malah mengangguk mengiyakan.

Sebelum keluar meninggalkan ruangan, Lingga kembali menatap Sail dengan senyumnya. Yang ditatap masih asyik menjelaskan sesuatu pada Indra dan Toni karena Sail sepertinya berhasil menemukan letak kesalahan pada mesin generator ini (berkat pertanyaan Lingga juga yang menyadarkan Sail letak kesalahannya) sehingga mengabaikan Lingga yang perlahan meninggalkan ruangan.

***