PURNAMA
KE-8
Pertokoan di sepanjang jalan
utama mulai ramai. Memasuki musim liburan anak-anak sekolah. Para turis lokal
maupun mancanegara memadati jalanan kota. Hujan rinai turun tidak deras
membasahi jalanan yang masih tetap ramai oleh pengunjung.
Udara sedikit dingin
terasa oleh Lingga. Gadis manis yang sedang duduk di bangku perkuliahan jurusan
keguruan. Dia sedang mengerjakan sebuah proyek ilmiah dengan teman kelompoknya
yang bernama tim merah putih. Akhir bulan ini adalah jadwal seleksi tingkat
nasional. Mereka benar-benar sibuk di ruangan menyiapkan semuanya dengan detail
dan cermat.
Lingga menatap topi pajangan yang
ada disebalik kaca toko. Dia berdiri disebuah toko topi. Lingga ingin membelikan
sebuah topi baru untuk Sail karena ia melihat ada beberapa lubang di topi yang
kerap digunakan oleh lelaki itu. Lingga tersenyum dan mantap melangkah masuk
kedalam toko.
Lingga memesan sebuah topi hitam
yang persis seperti topi yang Sail biasa kenakan. Diatas topi tersebut tertulis
sebuah tulisan kecil berwarna putih. ‘The
Smart One’. Kata itu yang tertulis rapi di pojok kanan atas bagian topi.
Lingga tersenyum manis menatap topi itu.
Lingga berjalan pelan menuju
ruangan proyek mereka. Sekarang hari jumat. Para lelaki sedang berada di masjid
kampus untuk menunaikan shalat jumat. Lingga berjalan pelan mendekati tas Sail
yang tergeletak. Benar saja, Sail meninggalkan topi hitam yang biasa
dipakainya. Tidak sia-sia Lingga selalu memperhatikan kebiasaan Sail termasuk
kebiasaan ketika shalat maka Sail akan melepas dan menyimpan topinya didalam tas.
Lingga mengambil topi Sail dan
meletakkan topi baru hadiah darinya didalam tas Sail. Lingga berharap Sail akan
suka dengan hadiah topi darinya. Ia akan menyimpan sementara topi lama Sail
sampai Sail menyadari topi hadiah darinya.
Sail dan beberapa anak lelaki
lain mulai memasuki ruangan proyek. Sail menuju ke tempat tasnya dan mengambil
topi hitam. Ia memakai topi tersebut tanpa menyadari bahwa topi itu adalah topi
yang berbeda dari biasanya.
Sail sedang mengerjakan generator
yang sudah rampung 80% hingga tiba-tiba Toni mendekat dan menatap ada sesuatu
yang berbeda dari penampilan sail.
“Wah, ada yang punya topi baru
nih” Toni terkekeh menatap Sail.
Sail mengangkat wajahnya menatap
heran ke arah Toni.
“Waw, the smart one, cocok sama abang Sail yang memang pintar” puji Ujang
mendekat.
Sail meluruskan badannya. Ia
melepaskan topi yang dipakainya. Mata Sail langsung membulat setelah mengetahui
topi yang dipakainya bukanlah topi miliknya yang biasa ia pakai. Sail berlari
cepat menuju ke arah tasnya. Ia mengeluarkan semua isi tasnya sekaligus demi
mencari topi hitam miliknya.
Darah Sail mendidih karena ia tak
menemukan topi hitam itu di tasnya. Ia memandang sekitar dan mulai mencari-cari
topi hitam miliknya siapa tahu tercecer di lantai atau dimanapun itu. Namun
tetap saja tak ia temukan. Sail mulai panik. Ia kembali mengobrak-abrik
beberapa tempat. Beberapa anak lain mulai bingung akan tingkah Sail.
“Kau sedang mencari apa ?” tanya
Ardi.
Sail mengacuhkan pertanyaan Ardi.
Ia terdiam dan mulai menatap anak-anak tim merah putih satu persatu.
“Siapa dari kalian yang mengambil
topi hitamku ?” tanya Sail dingin.
Semua mata anak-anak tim merah
putih menatap Sail. Beberapa anak masih asyik mengerjakan tugasnya.
“Siapa dari kalian yang berani
menyentuh tas ku dan mengambil topi hitamku ?” suara Sail menggelegar.
Kali ini semua mata fokus menatap
Sail. Sail mengenggam kuat topi hitam yang baru dengan tulisan ‘the smart one’ itu ditangannya. Ia
benar-benar berusaha menahan amarahnya.
Lingga tidak mengerti apa yang barusan
terjadi. Lingga menatap Sail yang berdiri dengan wajah dingin dan terlihat
sekali berusaha menahan marahnya. Sail tiba-tiba menatapnya. Tatapan mata
mereka bertemu. Lingga berusaha mengatur napasnya. Suasana semakin sepi terasa
karena anak-anak hanya diam menunggu.
Lingga akhirnya melangkahkan
kakinya mendekati Sail. Ia terlihat memegang topi hitam sail ditangannya.
“A, aku tidak mengambilnya, aku
hanya menyimpan...”
Belum selesai suara Lingga yang
terbata bicara Sail langsung menyambar topi hitam miliknya yang ada ditangan Lingga.
Sail tiba-tiba melempar topi pemberian Lingga di lantai.
“Apa yang kau pikirkan ?
berani-beraninya kau mengambil barang milik orang lain tanpa izin ? apa kau
sedang bercanda ha ? jangan seenaknya menyentuh barang milik orang lain.”
Suara tegas Sail menggema
diseluruh ruangan. Semua napas tertahan melihat amarah Sail akhirnya keluar
juga. Lingga kaget bukan main. Ia menatap wajah Sail yang benar-benar berbeda
dari biasanya. Sail tak pernah semarah ini.
Lingga menelan ludahnya. Ia tidak
bermaksud untuk bercanda ataupun mengambil barang Sail. Ia hanya menyimpan
sebentar sebelum menyerahkan topi lama itu pada Sail.
Sail masih menatap Lingga dengan
tatapan marah.
“tidak usah merasa penting dan
sok ikut campur urusan orang lain, kau pikir dirimu itu siapa ? seenaknya saja
berbuat semaumu ha ? urus saja dirimu sendiri”
“aku berhenti, aku berhenti
sekarang”
Sail menatap sebentar ke wajah Lingga
sebelum melangkahkan kakinya keluar ruangan. Ia benar-benar marah sekarang.
Lingga menelan ludahnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Degub jantungnya terasa
cepat. Ia belum mengerti situasinya. Kenapa Sail marah, kenapa sail
membentaknya dan berbagai pertanyaan lainnya berkecamuk dikepala Lingga.
Lingga merasakan lututnya
gemetar. Ia jatuh terduduk menatap topi hitam pemberiannya yang tadi dibanting
Sail. Kata-kata Sail menusuk hatinya. Lingga mulai menangis pelan. Nayla dan Resti
segera berlari ke tempat Lingga. Mereka berusaha menenangkan Lingga yang
menangis walau mereka juga masih belum mengerti situasinya kenapa Sail begitu
marah.
Ardi segera berlari keluar
menyusul Sail. Ardi menghentikan langkah kaki Sail yang masih terlihat berusaha
mengendalikan dirinya.
“ada apa denganmu ? kenapa kau
semarah itu ?”
“menyingkir dari jalanku” ujar Sail
dingin.
“Lingga tidak bermaksud mencuri
topimu, dia hanya ingin memberimu sebuah hadiah topi baru” ujar Ardi.
Sail menatap Ardi. Ardi bercerita
bahwa sebelum ke masjid dia melihat Lingga membuka tas Sail dan memasukkan
sebuah topi hitam baru didalam tas itu.
“tidakkah kau sadar kalau dia
begitu memperhatikanmu ? dia peduli padamu” ujar Ardi.
Sail hanya diam sebentar kemudian
berlalu meninggalkan Ardi. Ardi hanya bisa menghembuskan napasnya pelan sambil
menatap punggung Sail yang semakin jauh.
Malam itu Lingga masih menangis
di asrama. Nayla dan Resti hanya saling tatap dengan sendu mencoba menenangkan
Lingga yang kini tengah memegang erat topi hitam hadiah untuk Sail. Lingga
memikirkan banyak hal yang terjadi sejak pertemuannya pertama kali dengan Sail.
‘Mengapa Sail begitu marah saat
aku mengambil topinya ? apa aku salah memberinya hadiah sebuah topi baru ?’ dan
banyak lagi pertanyaan berkecamuk di pikiran Lingga.
Ruangan proyek ramai oleh
anak-anak. Keadaan sangat kacau balau sejak seminggu lalu Sail mengatakan
berhenti sebagai relawan tim merah putih. Lomba pekan ilmiah nasional tinggal
lima hari lagi. Generator tidak mau menyala dengan baik. Saat Sail pergi
generator berjalan dengan baik namun dua hari yang lalu tiba-tiba mesinnya
mogok dan tersendat. Asap mengepul keluar dair generator. Sistem listriknya
tiba-tiba bergeser.
Toni, Indra, dan anak-anak tim
merah putih beserta relawan lain (dan relawan tambahan) bahu membahu mencoba
memperbaiki generator. Namun tak kunjung membaik. Beberapa anak mulai terlihat
panik.
Lingga mematung menatap anak-anak
tim merah putih yang masih berusaha memperbaiki generator. Ia dan beberapa anak
dibidang lain menjadi tidak begitu fokus dengan bidang mereka masing-masing
karena bidang yang menjadi jantung utama proyek ini sedang berjalan tidak baik.
“kita butuh seseorang” ujar Toni.
Indra menggeleng.
“percuma, aku udah berusaha
membujuk, dia gak bakal mau, dia bahkan tak mau mendengar aku yang bahkan belum
bicara mengenai mesin ini” ujar Indra pasrah.
Toni mendecak. Dosen pembimbing
pun tak bisa banyak menolong karena yang boleh menjadi relawan hanyalah
kalangan mahasiswa, bukan teknisi profesional.
“terus gimana dong ? lombanya
tinggal lima hari lagi, lusa kita udah harus menyerahkan prototype ini ke panitia” ujar beberapa anak-anak tim merah putih
yang mulai terlihat khawatir.
Lingga menunduk. Ini semua
salahnya, pikir Lingga. Andai ia tak memberikan topi pada Sail tentu Sail masih
berada disini sekarang membantu tim merah putih. Lingga benar-benar merasa
menyesal terutama untuk timnya. Lingga menghembuskan napasnya. Ia berdiri dan
segera berlari keluar ruangan.
Lingga berlari sekuat mungkin. Ia
bahkan lupa untuk memakai sepatu karena ia harus cepat tiba ditempat itu.
Tempat kerja Sail di chicken area. Lingkungan
kampus yang gelap tak menggoyahkan tekadnya. Malam hari adalah shift kerja Sail di tempat itu. Ia baru
sampai di depan gedung serba guna auditorium saat ia melihat sosok yang begitu
dikenalnya. Sail. Sail yang menaiki sebuah sepeda sedang melaju kencang ke
arahnya.
Lingga bisa melihat topi hitam itu
yang melekat erat dikepala Sail. Lingga terdiam. Tubuhnya lemah bukan karena berlari
cukup jauh tanpa alas kaki sehingga kaus kaki yang dipakainya menjadi hitam
terkena aspal dan kerikil jalanan. Melainkan karena Lingga melihat topi hitam
itu, melihat Sail.
‘Topi hitam sialan’ umpat Lingga
dalam hatinya. Lingga menatap tulisan gedung serba guna auditorium, ini tempat
Lingga dan Sail bertemu untuk pertama kalinya. Lingga sudah menangis. Ia
terduduk sambil menundukkan kepalanya menatap jalanan dengan airmata yang terus
jatuh dipipinya tepat saat sepeda Sail berhenti didepannya.
“Apa yang kau lakukan sekarang ?
cepat naik” perintah Sail dingin.
Sail mengayuh dengan kencang
sepedanya menuju ruangan proyek. Lingga yang duduk dibelakang hanya terdiam
sambil berusaha mengendalikan dirinya. Dengan berlari Sail segera memasuki
ruangan sementara Lingga berhenti dan berdiri diam didepan pintu. Sail segera
menyingkirkan semua orang yang menghalangi jalannya, mendekati generator dan
mulai memperbaiki mesin yang berderu itu.
Lingga bisa melihat Sail yang
begitu cekatan memperbaiki semuanya dibantu dengan anak-anak tim merah putih
lainnya. Lingga menunduk dan segera menyandar di dinding lorong. Ia kembali
menangis sembari berdoa agar semuanya berjalan dengan baik. Perlahan tubuh
Lingga jatuh terduduk dilantai.
Suasana hening sejenak. Anak-anak
tim merah putih kembali memandang generator dan Sail secara bergantian. Sail
menganggukkan kepalanya pada Indra yang tengah berdiri didekat sakelar lampu.
Pelan tangan Indra mematikan lampu ruangan proyek. Gelap seketika. Sail dalam
kegelapan mencoba menghidupkan generator. Generator hidup dengan mulus dan
cahaya mulai kembali menerangi ruangan proyek dengan bantuan generator dan
segentong air.
Anak-anak tim merah putih
bersorak riang. Mereka saling peluk satu sama lain karena permasalahan
generator sudah terpecahkan. Sail tidak melihat Lingga didalam ruangan. Ia
berjalan pelan menuju keluar ruangan dan mendapati Lingga yang tengah terduduk
dilantai dengan lutut yang ditekuk. Lingga terlihat sedang menghapus airmatanya
dan tidak menatap Sail sama sekali.
Sail berjongkok dan mengeluarkan
sebuah sapu tangan untuk membersihkan kaus kaki Lingga yang kotor namun Lingga
menolak dengan menjauhkan kakinya dari tangan Sail. Sail diam menatap Lingga
sebelum akhirnya meletakkan sapu tangan itu di lantai.
“aku minta maaf” ujar Sail pelan.
“aku minta maaf karena sudah
membentakmu saat itu” ujar Sail.
Lingga menatap Sail. Airmatanya
kembali jatuh ketika mendengar suara Sail. Entah kenapa tiba-tiba Lingga rindu
dengan suara itu. Lingga menundukkan kepalanya.
“kau harus menang, tim merah
putih harus menang saat lomba besok” ujar Sail.
Lingga mengangkat kepalanya.
Matanya membulat saat ia menyaksikan Sail yang tengah tersenyum padanya. Sail menundukkan
kepalanya malu saat Lingga masih menatapnya tidak percaya.
Senyum Sail sangat indah
dipandang oleh Lingga. Wajah Sail jadi terlihat menyenangkan dan sangat tampan
ditatapnya. Lingga tersenyum simpul. Ia mengangguk pelan berjanji dalam hatinya
untuk membawa kemenangan tim merah putih di lomba karya ilmiah.
***
