Senin, 23 Oktober 2017

HIJRAHKU BERSAMAMU, SAHABAT

Pict From : IG @emendea_508
HIJRAHKU BERSAMAMU, SAHABAT
Gina berjalan pelan keluar dari ruang kelas dikampusnya. Gadis berkerudung dalam itu kini tengah asyik menyusuri lorong kampus sambil sesekali melihat mading yang ada. Salah satu pamflet mengenai sebuah lomba Fotografi sedikit mengusik rasa ingin tahunya. Setelah ia mencatat nomor contact person di ponselnya ia kembali berjalan menuju parkiran untuk mengambil kendaraan bermotornya.
Suara adzan terdengar dan Gina merapatkan kendaraannya pada salah satu masjid yang berada ditepi jalan. Selesai shalat Gina duduk sebentar di pelataran teras masjid yang sejuk sambil memeriksa ponselnya. Hanya beberapa pesan yang terbaca olehnya sampai ia dikejutkan oleh colekan sebuah tangan pada pundaknya.
“Gina!”
Gina membulatkan matanya memandangi sosok yang sedang berdiri dihadapannya.
“Tania ?” sapa Gina ragu-ragu
“MasyaAllah Gina, ya ampun kok bisa ketemu disini ya kita ?” gelak Tania.
Gina masih terdiam hingga bayang-bayang masa lalu berkelebat dikepalanya.
Tania. Ya, Tania Ramadhani, seorang teman SMA gina dahulu. Mereka bertemu saat ospek masuk SMA dan mereka sekelas saat kelas 1. Masa kelas 1 selalu mereka habiskan bersama dengan menyenangkan. Mereka sering Hang Out bareng dan sudah mengenal keluarga masing-masing karena baik Gina maupun Tania sering berkunjung kerumah satu sama lain. Mereka benar-benar lekat hingga ada julukan dimana ada Gina selalu ada Tania. Saat kenaikan kelas mereka terpisah karena Gina mengambil jurusan IPA sedangkan Tania mengambil jurusan IPS. Namun walaupun mereka sudah terpisah kelas mereka masih dekat dan masih sering Hang Out satu sama lain walau sekarang mereka juga sudah punya teman-teman baru di kelas masing-masing.
Dikelas IPA sekarang, Gina berkenalan dengan salah seorang anggota Rohis. Rahma namanya. Rahma adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga yang agamis. Ayah Rahma merupakan seorang Ustadz sekaligus Dosen. Gina mulai akrab dengan Rahma yang penampilannya benar-benar terlihat anggun dan begitu Syar’i.
“kenapa make kerudung yang kayak gini sih, Ma ?” Tanya Gina penasaran
“karena kita perempuan gin, hehe” gelak Rahma
“iya, aku tahu, tapi kan kebanyakan perempuan make kerudungnya biasa aja tuh, gak kayak kamu, beda sendiri”
“ini itu kerudung yang dibilang di Alquran, Gin, dimana kita mengulurkan hijab kita menutupi dada dan gak terawang serta mencetak badan”
“emang gak panas, Ma ?”
“awal-awal mungkin iya, tapi setelah terbiasa enggak kok, malah adem dan melindungi”
Gina memperhatikan Rahma yang sedang tersenyum manis dihadapannya sekarang sambil sesekali membetulkan hijabnya. Mereka baru selesai shalat di masjid sekolah. Gina tersenyum melihat betapa cantiknya Rahma dengan kerudungnya yang berbeda dari anak lainnya.
Saat keluar dari masjid sekolah tiba-tiba Gina melihat sosok bayang Tania. Tania terlihat sedang kumpul dengan teman-temannya tak jauh dari lokasi masjid. Gina sedikit berteriak menyapa Tania sembari melambaikan tangannya. Namun tiba-tiba salah seorang teman Tania yaitu Anggi berteriak.
“eh, itu ada ninja hatori lewaaaat, wuusshh” ejek Anggi yang disambut gelak tawa teman-temannya yang lain tak terkecuali Tania.
Gina bisa merasakan pipinya memerah. Gina tahu mereka mengejek Rahma karena cukup sering Rahma dibilang seperti ninja hatori, fanatik, teroris, taplak lebar berjalan, sok alim dan lain sebagainya oleh anak-anak lain terutama oleh rombongan anak-anak IPS yang notabene kebanyakan bahkan tak memakai kerudung, termasuk Tania. Gina sudah akan mengeluarkan kata-katanya sebelum ia ditahan oleh Rahma.
 “kamu kok selama ini gak ngebalas sih, Ma ? mereka jahat banget tahu” kesal Gina
“mereka gak jahat kok, Gin, mereka cuma belum tahu” ujar Rahma tenang namun Gina masih belum bisa mengendalikan ekspresinya hingga membuat Rahma tertawa.
“aku tahu, memang kadang kesal juga sih denger mereka bilang gitu, tapi Abi bilang kita harus sabar, dan kasi tahu mereka kalo inilah hijab yang sesungguhnya diperintahkan Allah, tapi sebaik-baik pakaian itu adalah pakaian Taqwa, tak hanya berhijab kita juga harus memperbaiki akhlak kita salah satunya dengan gak balas semua perlakuan jahat mereka ke kita. Jadi intinya kita pake hijab lalu perbaiki diri” ujar Rahma dengan senyum.
Gina tersentuh mendengar ucapan Rahma. Dalam hatinya ia bertekad untuk mengubah cara berkerudungnya menjadi lebih syar’i. Esoknya Gina benar-benar berubah. Tak hanya dari segi penampilan, Gina juga berusaha memperbaiki akhlaknya. Namun ternyata hijrah tak semudah yang dibayangkan Gina. Syukur orangtua Gina mendukung pilihannya namun tidak dengan sebagian teman-teman Gina. Salah satunya Tania. Beberapa kali Tania terlihat tidak nyaman saat mereka Hang Out bareng dengan penampilan baru Gina yang syar’I dan juga dengan semua penjelasan Gina kepadanya tentang hijab syar’i. Hingga suatu hari Tania mendatangi Gina dengan raut kesal.
“kok kamu berubah sih, aneh gitu ?” Tanya Tania dengan sinis
“berubah gimana maksudmu ?” Tanya Gina heran
“iya, kamu jadi seperti ninja hatori gini!”
“lah, terus memangnya kenapa, Tan ?”
“aku malu tahu, aku jadi sering diejek dikelas karena kita itu temen deket, aku terus dibilang sahabatnya ninja hatori bahkan sampe digelari itu, aku gak suka!” teriak Tania dengan emosi marah.
Gina terdiam. entah kenapa hatinya sakit mendengar sahabatnya berkata seperti itu.
“ini pasti karena si Rahma itu kan ? yang membuat kamu kayak gini, stop aja deh berteman sama dia, kamu jadi aneh tahu!” Tania masih mengeluarkan semua uneg-unegnya yang selama ini disimpannya.
“enggak, Tan, ini semua murni keinginan hati aku, aku pengen berubah, aku pengen hijrah jadi lebih baik, bukan karena Rahma, kamu jangan nge-Judge Rahma”
“kalo gitu kita gak usah bareng-bareng lagi, Gin” ujar Tania pelan
Gina membulatkan matanya. Dadanya semakin sesak sekarang.
“kamu gak mau temenan sama aku lagi, Tan ?”
Tania terdiam. Ia menundukkan pandangan matanya menatap rumput yang ada dikakinya sebelum akhirnya Tania beranjak pergi meninggalkan Gina yang kini terisak sendiri dibawah pohon rindang taman sekolah.
well, kalo kamu maunya gitu, yaudah, tapi aku tetap nganggap kamu sahabat aku kok, seperti kata Rahma, kamu cuma belum tahu, besok kalo kamu udah tahu, aku yakin kita bakal jadi temen lagi” ujar Gina dalam hati dengan perlahan menghapus airmatanya.
Gina mulai tersadar dari lamunannya. Ia benar-benar memperhatikan Tania dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tania sudah berubah total dengan penampilan syar’i. Tania terlihat malu melihat Gina yang masih menatapnya dari atas hingga kebawah.
“maafin aku, Gin, maafin aku waktu dulu malah ninggalin kamu dan ngehancurin persahabatan kita” ujar Tania lirih
Tania mulai mengajak Gina untuk duduk dan mendengarkan kisahnya bagaimana ia bisa hijrah. Tania bercerita bahwa ia mulai hijrah sejak ia semester tiga dibangku perkuliahan. Ia mengikuti sebuah forum lembaga dakwah kampus yang membimbingnya menemukan ketenangan diri. Sejak ia memutuskan untuk meninggalkan persahabatannya dengan Gina memang awal-awal ia merasa bebas dan teman-teman sekolahnya tidak lagi mengejeknya namun entah kenapa hatinya terasa aneh. Ia merasakan bagaimana hidupnya  sia-sia dengan lingkungan pergaulannya yang semakin kacau dan bebas. Tania bercerita bahwa ia benar-benar mantap merubah hidupnya saat kematian salah seorang temannya.
“saat itu aku berpikir kalo maut gak mengenal usia, Gin, dan aku takut aku bakal meninggal dengan banyak penyesalan, aku gak mau” isak Tania lirih.
“setahun terakhir aku mencoba merubah semuanya, ya, teman-temanku yang lama mulai menjauh seperti dulu aku menjauhi kamu, tapi, aku gak sedih, Gin, karena dari itu aku tahu kalo Allah lebih tahu mana yang baik untuk aku, dan Alhamdulillah, aku dikasi teman-teman baru yang membantu aku untuk istiqomah dalam hijrahku”
“sampai akhirnya aku inget kamu, Gin, sejak beberapa bulan terakhir aku coba cari kontak kamu tapi saat itu gak dapat, dua bulan yang lalu aku dapat kontak kamu dari Rahma, tapi aku takut buat menghubungi kamu, aku takut kamu gak mau nerima aku lagi, Gin, karena kesalahan aku yang dulu jahat sama kamu” Tania menunduk menatap lantai masjid.
“aku minta maaf, Gin, aku….”
Belum sempat Tania menyelesaikan kata-katanya, Gina sudah merangkul dan memeluk sahabatnya yang telah lama ia rindukan.
“aku tuh bakal nerima kamu kapanpun dan bagaimana pun kondisi kamu, Tan, kamu itu sabahat aku dan tetap bakal jadi sahabat aku selamanya” isak Gina dipundak Tania. Tania menghembuskan nafasnya lega dan menitikkan airmata merangkul Gina. Ia benar-benar bahagia sekarang.
“kamu bener, Ma, kamu bener, dulu Tania belum tahu, sekarang Tania sudah tahu”
Gina dan Tania keluar masjid dengan saling bergandeng. Sudah lama mereka tidak melakukan hal itu. Tania bertanya hendak kemana Gina selanjutnya. Gina berkata bahwa dia ingin mendaftar lomba Fotografi dan ingin membayar insert-nya. Gina mengatakan bahwa ia akan pergi ke salah satu Bank syariah.
“kenapa harus Bank Syariah, Gin ?”
“kan kalo hijrah gak boleh setengah-setengah, Tan, termasuk soal uang, Bank biasa itu pake sistem Riba, kan Riba diharamkan Allah” ujar Gina menjelaskan
Tania tampak mengangguk pelan.
“kalo gitu lain kali temenin aku juga ya untuk buka rekening baru di Bank Syariah” pinta Tania yang disahut dengan anggukan dari Gina.