![]() |
| Pict From : IG @emendea_508 |
HIJRAHKU BERSAMAMU, SAHABAT
Gina
berjalan pelan keluar dari ruang kelas dikampusnya. Gadis berkerudung dalam itu
kini tengah asyik menyusuri lorong kampus sambil sesekali melihat mading yang
ada. Salah satu pamflet mengenai sebuah lomba Fotografi sedikit mengusik rasa
ingin tahunya. Setelah ia mencatat nomor contact
person di ponselnya ia kembali berjalan menuju parkiran untuk mengambil
kendaraan bermotornya.
Suara
adzan terdengar dan Gina merapatkan kendaraannya pada salah satu masjid yang
berada ditepi jalan. Selesai shalat Gina duduk sebentar di pelataran teras
masjid yang sejuk sambil memeriksa ponselnya. Hanya beberapa pesan yang terbaca
olehnya sampai ia dikejutkan oleh colekan sebuah tangan pada pundaknya.
“Gina!”
Gina
membulatkan matanya memandangi sosok yang sedang berdiri dihadapannya.
“Tania
?” sapa Gina ragu-ragu
“MasyaAllah
Gina, ya ampun kok bisa ketemu disini ya kita ?” gelak Tania.
Gina
masih terdiam hingga bayang-bayang masa lalu berkelebat dikepalanya.
Tania.
Ya, Tania Ramadhani, seorang teman SMA gina dahulu. Mereka bertemu saat ospek
masuk SMA dan mereka sekelas saat kelas 1. Masa kelas 1 selalu mereka habiskan
bersama dengan menyenangkan. Mereka sering Hang
Out bareng dan sudah mengenal keluarga masing-masing karena baik Gina
maupun Tania sering berkunjung kerumah satu sama lain. Mereka benar-benar lekat
hingga ada julukan dimana ada Gina selalu ada Tania. Saat kenaikan kelas mereka
terpisah karena Gina mengambil jurusan IPA sedangkan Tania mengambil jurusan
IPS. Namun walaupun mereka sudah terpisah kelas mereka masih dekat dan masih
sering Hang Out satu sama lain walau
sekarang mereka juga sudah punya teman-teman baru di kelas masing-masing.
Dikelas
IPA sekarang, Gina berkenalan dengan salah seorang anggota Rohis. Rahma
namanya. Rahma adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga yang agamis.
Ayah Rahma merupakan seorang Ustadz sekaligus Dosen. Gina mulai akrab dengan
Rahma yang penampilannya benar-benar terlihat anggun dan begitu Syar’i.
“kenapa
make kerudung yang kayak gini sih, Ma ?” Tanya Gina penasaran
“karena
kita perempuan gin, hehe” gelak Rahma
“iya,
aku tahu, tapi kan kebanyakan perempuan make kerudungnya biasa aja tuh, gak
kayak kamu, beda sendiri”
“ini
itu kerudung yang dibilang di Alquran, Gin, dimana kita mengulurkan hijab kita
menutupi dada dan gak terawang serta mencetak badan”
“emang
gak panas, Ma ?”
“awal-awal
mungkin iya, tapi setelah terbiasa enggak kok, malah adem dan melindungi”
Gina
memperhatikan Rahma yang sedang tersenyum manis dihadapannya sekarang sambil
sesekali membetulkan hijabnya. Mereka baru selesai shalat di masjid sekolah.
Gina tersenyum melihat betapa cantiknya Rahma dengan kerudungnya yang berbeda
dari anak lainnya.
Saat
keluar dari masjid sekolah tiba-tiba Gina melihat sosok bayang Tania. Tania
terlihat sedang kumpul dengan teman-temannya tak jauh dari lokasi masjid. Gina
sedikit berteriak menyapa Tania sembari melambaikan tangannya. Namun tiba-tiba
salah seorang teman Tania yaitu Anggi berteriak.
“eh,
itu ada ninja hatori lewaaaat, wuusshh” ejek Anggi yang disambut gelak tawa
teman-temannya yang lain tak terkecuali Tania.
Gina
bisa merasakan pipinya memerah. Gina tahu mereka mengejek Rahma karena cukup sering
Rahma dibilang seperti ninja hatori, fanatik, teroris, taplak lebar berjalan,
sok alim dan lain sebagainya oleh anak-anak lain terutama oleh rombongan
anak-anak IPS yang notabene kebanyakan bahkan tak memakai kerudung, termasuk
Tania. Gina sudah akan mengeluarkan kata-katanya sebelum ia ditahan oleh Rahma.
“kamu kok selama ini gak ngebalas sih, Ma ?
mereka jahat banget tahu” kesal Gina
“mereka
gak jahat kok, Gin, mereka cuma belum tahu” ujar Rahma tenang namun Gina masih
belum bisa mengendalikan ekspresinya hingga membuat Rahma tertawa.
“aku
tahu, memang kadang kesal juga sih denger mereka bilang gitu, tapi Abi bilang kita harus sabar, dan kasi
tahu mereka kalo inilah hijab yang sesungguhnya diperintahkan Allah, tapi
sebaik-baik pakaian itu adalah pakaian Taqwa, tak hanya berhijab kita juga
harus memperbaiki akhlak kita salah satunya dengan gak balas semua perlakuan
jahat mereka ke kita. Jadi intinya kita pake hijab lalu perbaiki diri” ujar
Rahma dengan senyum.
Gina
tersentuh mendengar ucapan Rahma. Dalam hatinya ia bertekad untuk mengubah cara
berkerudungnya menjadi lebih syar’i. Esoknya Gina benar-benar berubah. Tak
hanya dari segi penampilan, Gina juga berusaha memperbaiki akhlaknya. Namun
ternyata hijrah tak semudah yang dibayangkan Gina. Syukur orangtua Gina
mendukung pilihannya namun tidak dengan sebagian teman-teman Gina. Salah
satunya Tania. Beberapa kali Tania terlihat tidak nyaman saat mereka Hang Out bareng dengan penampilan baru
Gina yang syar’I dan juga dengan semua penjelasan Gina kepadanya tentang hijab
syar’i. Hingga suatu hari Tania mendatangi Gina dengan raut kesal.
“kok
kamu berubah sih, aneh gitu ?” Tanya Tania dengan sinis
“berubah
gimana maksudmu ?” Tanya Gina heran
“iya,
kamu jadi seperti ninja hatori gini!”
“lah,
terus memangnya kenapa, Tan ?”
“aku
malu tahu, aku jadi sering diejek dikelas karena kita itu temen deket, aku
terus dibilang sahabatnya ninja hatori bahkan sampe digelari itu, aku gak suka!”
teriak Tania dengan emosi marah.
Gina
terdiam. entah kenapa hatinya sakit mendengar sahabatnya berkata seperti itu.
“ini
pasti karena si Rahma itu kan ? yang membuat kamu kayak gini, stop aja deh berteman sama dia, kamu
jadi aneh tahu!” Tania masih mengeluarkan semua uneg-unegnya yang selama ini
disimpannya.
“enggak,
Tan, ini semua murni keinginan hati aku, aku pengen berubah, aku pengen hijrah
jadi lebih baik, bukan karena Rahma, kamu jangan nge-Judge Rahma”
“kalo
gitu kita gak usah bareng-bareng lagi, Gin” ujar Tania pelan
Gina
membulatkan matanya. Dadanya semakin sesak sekarang.
“kamu
gak mau temenan sama aku lagi, Tan ?”
Tania
terdiam. Ia menundukkan pandangan matanya menatap rumput yang ada dikakinya
sebelum akhirnya Tania beranjak pergi meninggalkan Gina yang kini terisak
sendiri dibawah pohon rindang taman sekolah.
“well, kalo kamu maunya gitu, yaudah,
tapi aku tetap nganggap kamu sahabat aku kok, seperti kata Rahma, kamu cuma
belum tahu, besok kalo kamu udah tahu, aku yakin kita bakal jadi temen lagi”
ujar Gina dalam hati dengan perlahan menghapus airmatanya.
Gina
mulai tersadar dari lamunannya. Ia benar-benar memperhatikan Tania dari ujung
kepala sampai ujung kaki. Tania sudah berubah total dengan penampilan syar’i.
Tania terlihat malu melihat Gina yang masih menatapnya dari atas hingga
kebawah.
“maafin
aku, Gin, maafin aku waktu dulu malah ninggalin kamu dan ngehancurin
persahabatan kita” ujar Tania lirih
Tania
mulai mengajak Gina untuk duduk dan mendengarkan kisahnya bagaimana ia bisa
hijrah. Tania bercerita bahwa ia mulai hijrah sejak ia semester tiga dibangku
perkuliahan. Ia mengikuti sebuah forum lembaga dakwah kampus yang membimbingnya
menemukan ketenangan diri. Sejak ia memutuskan untuk meninggalkan
persahabatannya dengan Gina memang awal-awal ia merasa bebas dan teman-teman
sekolahnya tidak lagi mengejeknya namun entah kenapa hatinya terasa aneh. Ia merasakan
bagaimana hidupnya sia-sia dengan
lingkungan pergaulannya yang semakin kacau dan bebas. Tania bercerita bahwa ia
benar-benar mantap merubah hidupnya saat kematian salah seorang temannya.
“saat
itu aku berpikir kalo maut gak mengenal usia, Gin, dan aku takut aku bakal
meninggal dengan banyak penyesalan, aku gak mau” isak Tania lirih.
“setahun
terakhir aku mencoba merubah semuanya, ya, teman-temanku yang lama mulai
menjauh seperti dulu aku menjauhi kamu, tapi, aku gak sedih, Gin, karena dari
itu aku tahu kalo Allah lebih tahu mana yang baik untuk aku, dan Alhamdulillah,
aku dikasi teman-teman baru yang membantu aku untuk istiqomah dalam hijrahku”
“sampai
akhirnya aku inget kamu, Gin, sejak beberapa bulan terakhir aku coba cari
kontak kamu tapi saat itu gak dapat, dua bulan yang lalu aku dapat kontak kamu
dari Rahma, tapi aku takut buat menghubungi kamu, aku takut kamu gak mau nerima
aku lagi, Gin, karena kesalahan aku yang dulu jahat sama kamu” Tania menunduk
menatap lantai masjid.
“aku
minta maaf, Gin, aku….”
Belum
sempat Tania menyelesaikan kata-katanya, Gina sudah merangkul dan memeluk
sahabatnya yang telah lama ia rindukan.
“aku
tuh bakal nerima kamu kapanpun dan bagaimana pun kondisi kamu, Tan, kamu itu
sabahat aku dan tetap bakal jadi sahabat aku selamanya” isak Gina dipundak
Tania. Tania menghembuskan nafasnya lega dan menitikkan airmata merangkul Gina.
Ia benar-benar bahagia sekarang.
“kamu
bener, Ma, kamu bener, dulu Tania belum tahu, sekarang Tania sudah tahu”
Gina
dan Tania keluar masjid dengan saling bergandeng. Sudah lama mereka tidak
melakukan hal itu. Tania bertanya hendak kemana Gina selanjutnya. Gina berkata
bahwa dia ingin mendaftar lomba Fotografi dan ingin membayar insert-nya. Gina mengatakan bahwa ia
akan pergi ke salah satu Bank syariah.
“kenapa
harus Bank Syariah, Gin ?”
“kan
kalo hijrah gak boleh setengah-setengah, Tan, termasuk soal uang, Bank biasa
itu pake sistem Riba, kan Riba diharamkan Allah” ujar Gina menjelaskan
Tania
tampak mengangguk pelan.
“kalo
gitu lain kali temenin aku juga ya untuk buka rekening baru di Bank Syariah”
pinta Tania yang disahut dengan anggukan dari Gina.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar