PURNAMA
KE-5
Proyek tim merah
putih baru sepertiga jalan. Mereka sepakat membuat sebuah alat generator
listrik yang bertenaga air sungai untuk desa Semayang. Itu usulan indra yang
langsung di mentori oleh Sail. Sail banyak mengajari indra dan anak-anak
dibidang teknik lainnya dalam membuat generator itu. Sail terlihat sabar dan
mampu menjelaskan dengan baik setiap bagiannya.
Lingga sesekali
mencuri-curi waktu untuk melihat anak-anak dibidang teknik melakukan tugasnya.
Tak kurang dan tak lebih hanya untuk melihat Sail yang sedang bekerja dengan
topi hitamnya. Lingga tersenyum sebentar kemudian berlalu meninggalkan tempat
anak-anak teknik yang masih bergumul dengan generator yang belum separuh jadi.
Sudah jam 5 sore. Sail,
Indra dan Toni masih standby didalam
ruangan berdiskusi mengenai alat generator sementara anak-anak yang lain mulai
beranjak pulang. Indra dan Toni benar-benar mentok pada satu bagian generator. Sail
berusaha memeriksa dimana letak kesalahan mereka. Toni yang terlihat lelah
meminta izin untuk keluar mencari angin sebentar.
“Kau sudah shalat
ashar, Indra ?” tanya Sail.
Indra membulatkan
matanya. Ia menggeleng pelan yang langsung dibalas dengan melototnya mata Sail.
Tanpa disuruh indra segera ambil langkah seribu meninggalkan Sail sendirian
bergumul dengan generator yang masih bermasalah.
“Masih bermasalah ya
?”
Sebuah suara
memecahkan keheningan didalam ruangan. Sail menoleh ke sumber suara. Sail
melihat Lingga yang berdiri didepan pintu. Lingga berjalan pelan mendekati Sail
yang langsung mengalihkan perhatiannya pada generator.
“Jangan terlalu
lelah, bang Sail sudah banyak membantu kami” ujar Lingga sambil meletakkan
sesuatu.
Sail menatap minuman
kaleng penyegar energi yang diletakkan Lingga diatas meja. Sail kemudian
melanjutkan lagi pekerjaannya mengabaikan Lingga. Lingga menatap Sail. Sail
memakai baju kaus polos yang sudah kotor penuh dengan oli dan gomok. Namun Sail
masih setia memakai topi hitamnya.
“Apa kau tidak ada
tugas lain selain mengamati orang seperti sebuah sensor ?” tanya Sail
tiba-tiba.
Lingga tersekat. Ia
terbatuk sebentar kemudian berusaha mengatur ekspresinya.
“Aku hanya ingin
melihat-lihat” ujar Lingga asal.
“Melihat proyek atau
melihat aku ?” tanya Sail dingin.
Lingga membulatkan
matanya. Ia tidak percaya dengan kata-kata Sail barusan. ‘Hei, dia tidak sedang
bercanda kan ?’, tanya Lingga dalam hatinya.
“Aku tidak tahu abang
bisa begitu ge-er” ujar Lingga pelan.
Sail tidak menyahut.
Ia berusaha mengangkat kotak aki yang lumayan berat. Lingga sedikit berpindah
posisi untuk memberikan ruang yang lebih luas pada Sail.
“Kenapa abang selalu
memakai topi ?” tanya Lingga akhirnya.
Sail memperbaiki
posisi aki kemudian menepuk debu di kedua tangannya yang telah kotor karena
oli. Ia menatap Lingga dingin. Lingga hanya menelan ludah ditatap seperti itu
oleh Sail. Sail menghembuskan napasnya pelan. Ia memberikan sebuah kabel pada Lingga.
“Bisa kau bantu
pegang ini” ujar Sail.
Lingga menyambut
kabel yang diberikan Sail. Ia sedikit cemberut karena Sail mengabaikan
pertanyaannya. Lingga iseng bertanya tentang kabel tersebut yang langsung
dijawab Sail. Lingga kembali bertanya mengenai generator. Sail menjawab dengan
santai semua bagian generator yang ditanyakan Lingga. Lingga sampai lupa
kesalnya tadi karena sudah tertarik dengan generator yang membuatnya bertanya
lebih banyak lagi pada Sail. Namun Sail menjawab semua pertanyaan Lingga dengan
sabar dan penjelasan yang baik sehingga mudah dipahami oleh Lingga.
Toni dan indra sudah
kembali keruangan. Lingga terlalu asyik dengan pengetahuan barunya sadar
seharusnya ia segera beranjak pulang. Lingga berterima kasih pada Sail atas
ilmu yang sudah Sail berikan. Tadi juga Lingga bercerita tentang tugasnya
mendongeng dan iseng meminta bantuan Sail sesekali untuk ikut mendongeng. Lingga
menyangka bahwa Sail akan menolak namun rupanya Sail malah mengangguk
mengiyakan.
Sebelum keluar
meninggalkan ruangan, Lingga kembali menatap Sail dengan senyumnya. Yang
ditatap masih asyik menjelaskan sesuatu pada Indra dan Toni karena Sail
sepertinya berhasil menemukan letak kesalahan pada mesin generator ini (berkat
pertanyaan Lingga juga yang menyadarkan Sail letak kesalahannya) sehingga
mengabaikan Lingga yang perlahan meninggalkan ruangan.
***
