Senin, 12 Februari 2018

Aulia's Series #2


Partner in Crime, Aulia~
(Aulia’s Series)
Pesta pernikahan Zaki berlangsung lancar dan khidmat. Keluarga Zaki menyewa sebuah gedung pernikahan di kota itu. Aulia memandang dengan senyum melihat pengantin yang begitu serasi dan begitu manis. Aulia dan keluarganya turut membantu kelancaran pesta. Aulia diminta untuk bisa menjadi penjaga buku tamu seminggu sebelum hari H. Awalnya Aulia ragu tapi karena ia ingin menguatkan hatinya ia terima permintaan keluarga Zaki.
Aulia mendengar kabar dari umminya bahwa benar Zaki benar-benar total ingin berhijrah dulu karena melihat bagaimana indahnya kehidupan keluarga Aulia yang berusaha mengikuti sunnah dan sangat dekat dengan agama. Selama proses perubahannya itu sangat banyak pertentangan dalam hati Zaki namun ia kembali kuat untuk menapak jalan hijrah. Saat sudah diterima kerja di luar kota rupanya ada proposal yang masuk melalui murabi Zaki. Zaki sempat memikirkan lama karena Zaki merasa ada yang cukup mengganjal hatinya. Zaki juga mendiskusikan dengan orang tua Zaki hingga akhirnya Zaki memutuskan untuk menerima proposal itu dan terjadilah pernikahan ini.
Aulia sudah bersiap untuk menuju ke tempat buku tamu. Ia juga sudah didandan cukup oleh perias pesta. Saat selesai dirias ibu Zaki memuji Aulia yang terlihat cantik walau dengan sedikit make up dan hijab yang dibentuk modern namun masih tetap syari. Dengan tergesa Aulia berjalan cepat menuju tempat meja tamu.
“aduh, saya belum bilang kalo Aulia bakal ditemani sama salah satu sepupunya Airin” ujar ibu Zaki.
“tidak apa-apa, Aulia bisa kok, tidak akan jadi masalah, nanti saya akan coba bilang ke dia” ujar Ummi Aulia.
Aulia sudah berada di tempat meja tamu dengan senyumnya. Satu persatu tamu sudah mulai berdatangan walau masih belum terlalu ramai. Saat sedang mempersiapkan souvenir Aulia melihat sosok seseorang datang menuju ke arahnya. Aulia merasa seperti pernah melihat orang itu disuatu tempat tapi lupa dimana. Orang yang sedang ditatap Aulia semakin lama semakin dekat. Hingga mereka sudah berhadapan satu sama lain barulah Aulia sadar siapa orang itu. Matanya membulat, wajahnya merah. Orang itu membuka mulutnya sama menatap heran Aulia juga.
“Aulia ?” tanya orang itu.
“Yeni ?” tanya Aulia.
Aulia tersedak sementara orang yang Aulia panggil dengan nama Yeni tersebut menutup mulutnya lalu tertawa. Setelah menenangkan tersedaknya Aulia menatap Yeni dengan seksama. Yeni, partner in crime Aulia pada masa SMP.
Semua bagai flashback bagi Aulia. Aulia kembali ke masa-masa yang menurutnya adalah yang paling indah dalam hidupnya. Masa dimana saat itu Aulia sedang bandel-bandelnya menurut Aulia. Ditambah saat itu Aulia bertemu dengan Yeni dan beberapa teman-teman Aulia yang lain. Walau Aulia dan Yeni bersekolah di SMP-IT khusus wanita namun tetap saja Aulia punya masa-masa nakal dan jahil dalam hidupnya kala itu.
Aulia baru kelas 1 saat itu. Mereka yang kelas satu diminta berbaris dilapangan oleh Ustadzah* dan senior. Aulia berbaris dibarisan ke enam. Saat itu tiba-tiba ada yang mencolek pundaknya. Aulia menoleh kebelakang dan langsung menatap wajah manis seseorang itu. Ya, orang itu adalah Yeni. Yeni tersenyum dan memberikan sesuatu kepada Aulia. Sebuah permen lotte yang sudah keluar ujungnya langsung diambil Aulia tanpa ragu karena bosan dengan acara yang berlangsung. Pekik Aulia langsung menggema ketika ia tahu bahwa yang diambilnya bukanlah permen melainkan muncul sebuah kecoa mainan yang melekat pada jarinya. Aulia langsung melempar jauh permen yang ada kecoa mainan tersebut masih dengan pekiknya sementara Yeni tertawa dibelakangnya. Acara yang sebelumnya berlangsung senyap langsung gaduh karena suara pekik Aulia yang sangat nyaring. Beberapa senior langsung terlihat berjalan mendekati Aulia. Acara menjadi sedikit terganggu karenanya.
Aulia dan Yeni sudah berada diruang BK sekarang. Seorang ustadzah masih mencatat sesuatu di meja.
“aku minta maaf” bisik Yeni.
Aulia masih membuang muka tidak menatap Yeni sama sekali. Aulia masih kesal karena dikerjai oleh Yeni.
“aku melihatmu sudah menunduk menahan kantuk. Kepalamu akan sakit jika kau terus memaksa seperti itu” ujar Yeni masih secara bisik.
Aulia terdiam. ‘benar juga, aku bahkan sampai lupa bahwa aku hampir tertidur saat acara tadi’ ujar Aulia dalam hatinya.
“tetapi tetap saja, itu tadi keterlaluan” ujar Aulia dengan berbisik pula.
Yeni terkikik sejenak.
“tapi seru kan” ujar Yeni.
“hei kalian, masih bisa-bisanya ngobrol saat begini” ujar Bu Rini, salah seorang ustadzah BK.
“kalian akan diberi tugas untuk menghapal sebuah surat dan harus menyetorkan hapalan kalian ke ibu minggu depan. Kalian berdua”
Aulia dan Yeni tampak menunduk. Mereka berdua sudah dipersilahkan untuk keluar dari ruang BK. Aulia berjalan didepan meninggalkan Yeni. Namun Yeni berusaha menyusul Aulia.
“namaku Yeni, aku dikelas yang sama denganmu, aku tidak tahu namamu” ujar Yeni dari jauh yang masih diabaikan Aulia.
Dikelas diam-diam Aulia memperhatikan Yeni. Yeni orang yang supel dan ceria. Ia bisa dengan mudah beradaptasi dengan siapapun termasuk dengan para ustadzah. Dalam seminggu para rekan seangkatan mereka dan beberapa senior langsung terlihat akrab dan tahu nama Yeni padahal ia baru duduk dikelas satu. Yeni juga tipe yang sedikit jahil dan bisa melontarkan guyonan lucu pada teman-temannya.
“Aulia, kamu harus cobain coklat ini deh” ujar Yeni saat mereka hendak menyetor hapalan mereka.
“nggak mau. Ntar aneh-aneh lagi” ujar Aulia.
“yaudah” ujar Yeni sambil memakan coklat yang dipegangnya.
Mereka terdiam. Yeni tampak menatap seseorang. Aulia ikut menatap ke arah pandangan Yeni.
“kamu tahu dia, dia senior kita di tingkat 2, orang-orang bilang dia si perfeksionis. Panikan banget kalo ada hal yang luput dari perkiraannya, tapi tenang dia tetap orang baik kok” ujar Yeni.
“kamu ghibah ih” ketus Aulia.
“yee, enggak gitu juga, aku Cuma penasaran aja, bentar deh pas dia lewat sini”
“kamu gak usah iseng-iseng sama senior” cegah Aulia.
Namun Yeni seperti tidak mendengarnya. Saat senior mereka lewat Yeni langsung berdiri dengan coklat yang sudah ia lumatkan ditangannya. Yeni berpura-pura jatuh hingga tangannya menggapai bagian belakang rok senior tersebut. Coklat yang ia lumurkan ditangannya sontak mengotori bagian belakang rok senior itu. Senior itu kalang kabut mengeluarkan kata-kata kesalnya pada Yeni. Semua orang disekitar mereka terperangah dengan apa yang mereka lihat termasuk Aulia. Yeni sembari menahan tawa diam mendengar semua ocehan senior itu.
Aulia sekilas melihat sesuatu di belakang senior tersebut berupa bercak merah pada bagian belakangnya. Aulia menutup mulutnya. Aulia hendak tertawa tapi berusaha kuat menahan tawanya. Aulia terdiam sejenak kemudian mendekati Yeni dan senior yang masih terlihat kesal itu.
“kakak jangan marah sama dia. Kupikir kakak akan mengerti ketika sudah mencuci rok kakak” ujar Aulia kalem.
“apa maksudmu ? aku tidak mengerti”
“bukankah sudah kubilang kakak akan mengerti saat kakak mencuci rok kakak, nih aku tambahin biar kakak lebih cepat mencuci rok kakak” ujar Aulia sambil menyiram air minumnya pada bagian belakang rok senior tersebut.
Semua orang semakin terperangah termasuk Yeni. Aulia dengan cepat meraih tangan Yeni dan langsung berlari kencang dengan Yeni menyisakan senior tadi yang semakin merah mukanya. Namun senior tadi ketika melihat roknya ia menyadari sesuatu. Ya, darah haidnya yang tembus pada roknya yang sedikit tertutupi dengan coklat dan air yang diberikan Yeni dan Aulia tadi.
Aulia dan Yeni sudah kembali ke kelas. Mereka terdiam satu sama lain sebelum akhirnya tertawa lepas. Tangan mereka masih saling menggenggam sembari mereka mengatur napas mereka.
“kau curang, seharusnya kau tidak memberitahu dia” ujar Yeni sambil memukul pelan lengan Aulia.
Aulia tertawa lepas. sejak itu mereka menjadi teman satu sama lain. Yeni sebenarnya bermaksud baik Cuma mengutarakannya secara jahil dan penuh canda. Aulia yang penasaran bertanya kenapa Yeni berbuat seperti itu. Yeni langsung mengatakan bahwa ia bosan dengan yang biasa-biasa saja.
“tapi jangan sampai terlalu keterlaluan ya” ujar Aulia.
“maka dari itu aku butuh kamu, untuk ngingetin aku kalo aku nyerosok takutnya besok, haha” gelak Yeni.
“kamu itu susah dikasi tahu, percuma” geleng Aulia sambil tersenyum menatap sahabatnya.
Kelas Aulia sedang melakukan sebuah praktikum di lab Boga. Mereka akan bereksperiman membuat sebuah desert dari coklat. Aulia dan Yeni berbeda kelompok. Saat sudah selesai Aulia masih melihat Yeni yang fokus pada kegiatannya membuat sebuah coklat. Aulia mendatangi Yeni dan melihat hasil coklat yang tampak bagus. Aulia hendak mengambil sepotong coklat itu saat Yeni pergi mencuci tangannya. Aulia sudah akan memakan coklat itu sampai tangan yeni menyelanya.
“kenapa ?” tanya Aulia.
“kenapa kau mau makan ini, ini tanah liat” ujar Yeni sambil membelah coklat yang ada ditangan Aulia.
Aulia membulatkan matanya. Didalam coklat yang sudah mengeras ada bentukan persegi tanah liat yang dilapisi coklat diluarnya.
“aku akan menyimpannya di lemari pendingin untuk kugunakan besok, ini akan jadi eksperimen ku yang akan kugunakan untuk coklat gratis mereka yang merayakan valentine bentar lagi” gelak Yeni yang disambut Aulia dengan tawa.
Aulia mengerti akan maksud Yeni. Esoknya mereka berdua langsung pergi menuju keramaian kota dan langsung membagikan ‘coklat’ gratis kepada siapapun yang mau mengambilnya. Mereka hanya berdiam sembari memegang coklat di tangan kanan dan tangan kiri memegang flyer bertuliskan ‘coklat gratis untuk valentinemu’. Dalam hitungan menit coklat mereka ludes diambil oleh masyarakat. Dengan cepat pula mereka langsung pergi melarikan diri dan menatap dari jauh ekspresi orang-orang yang baru saja memakan coklat mereka. Aulia dan Yeni tertawa ngakak. Beberapa orang terlihat berusaha mencari keberadaan Aulia dan Yeni namun mereka dengan cepat lari dan pulang kerumah masing-masing.
Esoknya sekolah diramaikan dengan kedatangan beberapa tamu dari luar yang komplain dengan kelakuan iseng Aulia dan Yeni yang membagikan coklat tanah liat tersebut.
“kenapa Anda berpikir anak-anak itu dari SMP kami ?” tanya Ustadzah kepala.
“karena mereka memakai pakaian anak SMP disini” teriak tamu tersebut dengan protes.
“jadi hanya karena itu kalian berasumsi, mereka hanya anak-anak, bukan ?” ujar Ustadzah kepala kalem.
Tamu tersebut mengeluarkan sebuah foto yang diambil dari CCTV tokonya yang tepat mengambil gambar Aulia dan Yeni yang menjajakan coklat tanah liat tepat didepan toko miliknya kala itu. Ustadzah kepala tetap tenang dan tersenyum simpul. Ustadzah kepala langsung meminta Ustadzah Rini untuk memanggil Aulia dan Yeni. Aulia dan Yeni sudah diruangan. Para tamu langsung menunjuk bahwa benar Aulia dan Yeni lah anak-anak nakal pemberi coklat tanah liat gratis itu dengan marah.
“coba tenang dulu, kalo boleh saya bertanya mengapa Anda mau untuk mengambil coklat itu dari mereka”, ujar Ustadzah kepala tenang.
“ya, karena itu gratis, jadi apa salahnya”
“kalo anda lihat dari gambar ini, bukankah mereka membawa flyer ‘coklat gratis untuk valentinemu’, bukan ?” tanya Ustadzah kepala.
“benar” ujar mereka heran.
“anda Islam ?”
“i,iya”
“lalu kenapa anda mengambilnya ? bukankah dalam islam dilarang untuk ikut perayaan ini termasuk ikut-ikutan dalam coklatnya, karena coklat mereka ini juga berbau valentine, bukan ?”
“ya, itu...”
“maaf, Bu, bukan bermaksud membela anak-anak didikku, tapi apa yang mereka lakukan sekedar ingin mengingatkan masyarakat akan maksud dari tidak bolehnya kita merayakan valentine itu sendiri, karena kita orang islam, makanya mereka membuat coklat prank itu...”
“...maksud saya, ini baru coklat tanah liat, bagaimana dengan coklat gratis lainnya diluar sana, apakah anda yakin itu halal, bagaimana jika coklat gratis itu malah mengandung unsur haram seperti minyak babi dan sebagainya, apa anda akan bisa menuntut itu karena itu justru sangat tidak terlihat, kan ?” ujar Ustadzah kepala.
“jadi kupikir ini tidak ada masalah sama sekali, kuharap anda mengerti, tapi anda tenang saja, pihak kami akan tetap memberi mereka hukuman kok” ujar Ustadzah kepala.
Ibu-ibu yang marah tadi terdiam mendengar penjelasan ustadzah kepala. Mereka juga tak banyak menuntut lagi ketika ibu kepala mengatakan akan tetap menghukum Aulia dan Yeni. Setelah ‘para tamu’ tadi pulang Ustadzah kepala kembali menatap Aulia dan Yeni. Sesaat kemudian Ustadzah kepala mengacungkan kedua jempolnya dihadapan Aulia dan Yeni.
“kalian dihukum untuk kembali membuat coklat tanah liat tahun depan untuk dibagikan lagi seperti ini, tapi targetnya harus anak muda kalo bisa, ya” ujar Ustadzah kepala yang langsung membuat Aulia dan Yeni membelalakkan matanya. Ustadzah kepala tersenyum manis sebelum meninggalkan ruangannya.
“jadi sekarang kita bertemu disini, aah masa itu benar-benar masa yang sangat asyik dalam hidupku...” ujar Aulia.
“...apa kau masih sering melakukan ‘prank’ seperti dulu ?” tanya Aulia.
Yeni menggerakkan matanya dengan senyum jahilnya. Banyak yang ingin mereka ceritakan sepanjang mereka sama-sama menjadi penyambut tamu. Aulia benar-benar rindu dengan sahabatnya yang satu ini. Tak henti-hentinya ia pandangi sahabatnya.
“hei kau tidak ingin berbuat ‘sesuatu’ pada pesta ini ?” tanya Aulia iseng.
“hmm, ingin sih, tapi nanti kita bakal kena balasan yang lebih greget lagi ntar”
“maksudmu ?”
“yah, ‘mentor’ yang mengajariku semua metode ‘prank’ itu sedang menjadi ratunya pesta hari ini” ujar Yeni mengerutkan keningnya.
Aulia menutup mulutnya. Mereka berdua tertawa bersama.   

-Dramarama-