Minggu, 30 Juni 2019

PURNAMA KE-4





PURNAMA KE-4

Tim merah putih sudah bersiap-siap untuk menuju ke tempat pedalaman untuk melakukan observasi. Observasi dilakukan selama seminggu. Tim merah putih diminta untuk berbaur dengan baik pada rakyat pedalaman.

Lingga sudah duduk didalam bus. Satu persatu anggota kelompok mulai masuk beserta para relawan dan pembimbing. Mereka menyewa bus hanya sampai pada kabupaten. Dari kabupaten mereka akan menyewa mobil bak belakang untuk membawa mereka menuju desa yang dituju.

Toni dan Ujang sudah pernah mendatangi desa itu. mereka mensurvey mandiri dengan tujuan akan mudah membantu teman-teman anggota yang lain beradaptasi. Didalam bus mereka tak hanya duduk manis menatap indahnya pemandangan. Mereka isi dengan berdiskusi dengan para relawan (yang rata-rata adalah senior mereka) dalam mengatur strategi dan rencana-rencana cadangan lainnya. Taktik seperti itu juga usulan dari Toni agar masing-masing anggota akan mengenal satu sama lain dengan baik sehingga keakraban dan kekompakkan tim merah putih semakin terlihat.

Lingga sudah seringkali melirik ke arah Sail yang selalu dirubungi oleh anak-anak tim merah putih. Sail bisa berbaur dengan baik walau tampang dingin dan juteknya tidak pernah pergi dari wajahnya. Otaknya yang pintar serta mulutnya yang pandai menjelaskan banyak hal membuat semua orang betah berada dekat dengannya.

Lingga tersenyum simpul karena dia belum berbicara banyak dengan Sail. Paling hanya sekedar menyapa dan bertanya kabar. Tak lebih tak kurang. Sisanya dia hanya berani curi-curi pandang saja menatap Sail.

“Kau bertemu lagi dengannya, bukan ?” colek Nayla.

“Apa kubilang, kalian jodoh” ledek Resti yang muncul dari bangku belakang.

Lingga melotot ke Nayla dan Resti. Ia mendelik dan berusaha untuk tidur saja daripada meladeni ledekan Nayla dan Resti.

Pemandangan yang indah mulai terlihat di mata anak-anak tim merah putih. Udara yang dingin dan sejuk mulai menusuk tubuh mereka namun mereka tidak peduli. Mereka semua menatap takjub akan keindahan alam bumi pertiwi yang mereka miliki. Ya, ini adalah milik mereka. Milik anak bangsa ini.

“rekan-rekan, ini bumi kita, selamat datang ke tanah sendiri” Toni mulai memegang pengeras suara yang dibawanya dari kampus.

“Harus kalian tahu, jangan pernah menyerah pada bumi ini, separah apapun tipu daya itu, yang datang baik dari dalam dan luar, sebobrok apapun sistem yang ada, begitupun semakin banyak anak negeri yang tidak tahu diuntung pergi meninggalkan bumi ini menuju bumi lain yang lebih menguntungkan dirinya seorang, tetap saja, jangan pernah menyerah pada bumi ini. Bumi kita pertiwi yang kaya!”

Suara Toni menggelegar namun tetap bisa menyentuh hati masing-masing orang yang berada di dalam bus ini. Pak supir bus bahkan mengusap ujung matanya karena terharu. Semua orang menggangguk dan sontak menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan semangat dan terharu.

Ardi menatap Toni dengan bangga. Ia merasa bisa melihat masa depan pemimpin organisasi mahasiswa selanjutnya di diri Toni. Ia juga berharap akan banyak pemimpin-pemimpin kharismatik lainnya pada anak-anak yang ada didalam bus ini.

Tim merah putih, para relawan dan dosen pembimbing sudah menginjakkan kaki di kabupaten. Dari kabupaten menuju desa Semayang (tempat observasi mereka) perlu dilanjutkan dengan mobil angkutan umum yaitu mobil bak belakang yang sudah dilengkapi dengan tempat duduk dan atap. Butuh dua mobil angkutan itu untuk bisa mengangkut mereka semua. Perjalanan dari kabupaten menuju desa berjalan lancar walau pada beberapa titik mereka harus tersendat karena hujan yang turun sehingga membuat beberapa jalanan berlumpur dan tiga kali ban mobil terjebak. Toni meminta sekretaris kelompok yaitu Ujang untuk mencatat perjalanan mereka kali ini.

20 menit kemudian mereka sudah tiba di gerbang masuk desa Semayang yang sejuk dan rindang. Tetua kampung sudah bersiap bersama rakyat lainnya dengan payung mereka menantikan kedatangan tim merah putih. Tak sia-sia Toni dan Ujang mendatangi terlebih dahulu desa ini. Sehingga rakyat langsung menyapa dan membantu membawakan barang bawaan tim merah putih menuju balai desa yang sederhana.

“Disini memang sering hujan terutama sore dan malam hari”

Tetua menjelaskan bahwa mereka sudah mempunyai genset yang berguna untuk mengalirkan listrik ke rumah warga yang berjumlah 20 kepala keluarga disini. Desa Semayang memang terpencil dari desa lainnya karena lokasi mereka berada dibelakang bukit. Jauhnya perjalanan membuat banyak individu yang enggan tinggal di desa ini. Namun syukurnya sudah ada satu sekolah dasar yang ada didesa ini walau SMP dan SMA belum ada disini. Anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah mereka harus pergi ke kabupaten. Rata-rata profesi penduduk desa adalah berkebun dan beternak.

Hari sudah mulai gelap. Tetua kampung meminta tim merah putih untuk beristirahat dan besok baru bisa observasi. Yang perempuan langsung dibawa menuju rumah tetua kampung yang cukup besar. Rumah itu adalah rumah panjang yang terbuat dari kayu. Sederhana namun sangat asri dan rapi. Sementara yang laki-laki akan ditempatkan di surau kampung.

Walau tetua meminta besok untuk observasi namun sepertinya anak-anak tim merah putih tidak sabaran. Anak lelaki berkumpul di balai kampung berdiskusi dengan para lelaki kampung ada disana sementara anak perempuan berkumpul di ruang tamu rumah tetua kampung. Mereka banyak bertanya dengan ibu-ibu kampung serta anak-anak yang ada disana.

Lingga bercengkerama dengan salah seorang putri tetua kampung. Putri tetua kampung bercerita mengenai sekolah dan kegiatannya di ladang membantu kedua orang tuanya. Lingga takjud dengan gigih dan kerja keras anak-anak kampung yang tetap memperhatikan sekolah namun masih setia membantu orangtua. Anak-anak kampung adalah anak yang penuh rasa ingin tahu. Mereka banyak bertanya tentang kehidupan dikota dan kuliah itu seperti apa.

Lingga menceritakan profesinya sebagai seorang calon guru. Lingga mengatakan bahwa banyak orang memandang remeh pekerjaan seorang guru. Namun bagi dirinya, menjadi seorang guru adalah sebuah pekerjaan mulia. Guru adalah orang yang bekerja tanpa tanda jasa, mau secara sukerela memberikan ilmunya untuk kemajuan anak-anak bangsa ini menjadi lebih baik. Resiko menjadi guru memang banyak. Dari pekerja honorer selama bertahun-tahun yang bahkan tidak digaji sama sekali. Namun semua itu tetap dilakukan sang guru dengan ikhlas karena hanya berharap Ridha dari Tuhan yang Maha Esa.

Putri tetua kampung mengerjapkan matanya. Dia berkata ingin menjadi seorang guru agar bisa mengabdi di desa. Lingga mengangguk senang.

Istri tetua kampung mulai mematikan lampu ruang tengah. Mereka benar-benar berhemat listrik disini karena genset yang disediakan memakai bahan bakar minyak yang semakin naik harganya dari tahun ketahun karena kebijakan pemerintah. Putri tetua kampung mulai menghidupkan lampu-lampu petromaks untuk menerangi rumah panggung mereka. Beberapa rumah lain juga melakukan hal yang sama. Pendar-pendar cahaya kuning dari lampu membuat cantik pemandangan desa.

Mentari pagi menyinari desa Semayang. Adzan subuh berkumandang. Anak lelaki bukan tanpa alasan mereka ditempatkan di surau melainkan agar mereka segera bangun lebih cepat karena suara adzan serta mulai raminya surau oleh para lelaki kampung untuk mendirikan shalat subuh. Sehingga anak lelaki tim merah putih mau tidak mau ikut serta meramaikan surau untuk shalat subuh berjamaah.

Sementara anak perempuan selepas shalat mulai membantu ibu-ibu di rumah tetua kampung untuk membuatkan sarapan untuk anak-anak tim merah putih. Selepas bersih-bersih dan sarapan, tim merah putih mulai menyusuri desa. Mereka menatap takjub pada hasil kebun yang melimpah karena saat ini musim panen. Anak-anak dari fakultas pertanian mulai mencatat banyak hal mengenai hasil ladang desa Semayang yang tampak ranum dan segar.

Lingga fokus pada sekolah dasar yang ada di desa itu. sekolah tersebut berlokasi didekat hulu sungai sehingga tampak sejuk dan menyenangkan. Anak-anak mulai ramai mendatangi sekolah. Ada beberapa yang bermain air di tepian sungai yang langsung diteriaki oleh guru mereka. Lingga mendekati sungai yang beraliran tenang itu. sebuah jembatan kayu berdiri kokoh tak jauh dari sekolah. Nampaknya jembatan itu baru dibuat oleh penduduk kampung.

Lingga menyentuh air sungai yang terasa dingin ditangannya. Ia mengusapkan kedua tangannya. Kapok untuk menyentuh kembali air sungai di pagi hari. Mungkin karena belum terbiasa terutama bagi dirinya yang terbiasa dengan udara kota yang hangat. Mandi saja ia lakukan dengan terburu-buru tadi selepas memasak walau ia bersyukur tidak berteriak-teriak seperti Nayla dan beberapa anak perempuan dari timnya karena dinginnya air yang meninju tubuh mereka sehingga cukup mengagetkan ibu-ibu kampung (bahkan seorang ibu-ibu mendobrak paksa pintu kamar mandi karena khawatir ada apa-apa pada mereka dikamar mandi yang membuat anak perempuan tim merah putih menjerit lagi). Lingga tergelak sendiri mengingat kejadian itu.

“Gila”

Sebuah suara memecahkan lamunan Lingga. Ia menatap pada seseorang yang mulai berjongkok di tepian sungai. mencelupkan tangannya untuk beberapa lama. Kemudian menarik tangannya dari riak air sungai.

“ah, abang Sail, apa, apanya yang gila ?” ujar Lingga tersekat.

“Gila karena mereka punya kualitas air sungai yang bagus namun tidak memanfaatkannya, terutama untuk listrik” ujar Sail dingin.

Lingga menatap Sail tidak mengerti. Ia mencoba mendekat pada Sail.

“memangnya, air sungai bisa dipake untuk listrik ?” tanya Lingga bingung.

Sail menatap Lingga dengan tatapan tidak percaya.

“aku, aku tahu air itu perantara yang baik untuk listrik, tapi ini sungai yang warga kampung bergantung padanya, bukan seperti PDAM yang memang tok digunakan untuk listrik, kalau terjadi tegangan listrik gimana ?” ujar Lingga yang seolah mengerti tatapan tidak percaya Sail.

“Kita tidak mengambil seluruh sungai, kita hanya akan memetak sungai dan mengambil bagian itu menjadi sumber listrik kita, sehingga bagian lainnya tetap aman untuk digunakan” ujar Sail sambil menatap hulu sungai.

Lingga ber-oh pelan. Tapi ia masih tidak terima dengan tatapan Sail yang seolah hendak mengatakan dia bodoh.

“Kalo itu aku setuju, dan aku tidak bodoh, juga tidak mesum” ujar Lingga manyun.

Sail menatap Lingga sebentar kemudian berlalu menuju jembatan. Lingga mengikuti langkah kaki Sail.

“Oh ya, kudengar abang berhenti kerja di chicken area karena bergabung dengan kami menjadi relawan, apa itu benar ?” tanya Lingga berusaha memecahkan suasana.

“Tidak, aku tidak berhenti, hanya sedikit mengurangi shiftku saja disana” ujar Sail.

“Lalu di tempat servis ?”

“Sama saja”

Lingga ber-oh lagi. Mereka sudah berada di jembatan kayu. Lingga menatap kebawah jembatan menatap riak air yang meliuk tenang membelah pondasi kayu jembatan.

Suasana mulai lengang. Lingga bingung hendak bercakap tentang apa lagi. Lingga menggigit bibirnya sembari curi-curi pandang menatap Sail yang masih memperhatikan jembatan dan menatap hulu sungai. Sail memakai sebuah jaket berwarna abu-abu dengan baju kaus berwarna putih didalamnya yang dipadu dengan celana jeans dan sendal gunung berwarna hitam. Tak lupa topi hitam tersemat dikepalanya.

Lingga termenung menatap Sail. Ia belum pernah melihat Sail melepas topi hitamnya. Lingga tidak sadar bahwa Sail menoleh kepadanya. Mata mereka bertemu namun Lingga masih menatap Sail seperti sedang men-sensor-sesuatu.

“Apa ?” tanya Sail memecahkan lamunan Lingga.

Lingga bisa merasakan wajahnya memerah. Ia berusaha mengalihkan pandangannya dari Sail. Lingga menatap ke hulu sungai. ia mengendalikan dirinya.

“Linggaaaa”

Lingga menoleh. Ia menatap Nayla yang berteriak nyaring memanggil namanya. ‘Oh syukurlah ada Nayla’, ujar Lingga dalam hati. Lingga berterima kasih Nayla mau menyelamatkannya dari situasi memalukan tadi walau tanpa sengaja.

“Oh, ada abang Sail, abang ngapain disini ?” tanya Nayla.

“Hanya memeriksa” ujar Sail dingin.

Lingga masih berusaha mengendalikan dirinya sementara nayla berdecak kagum menyaksikan pemandangan sungai yang indah.

“Wah, aku jadi ingin terjun dan mandi disini” ujar Nayla.

“coba saja kalau kau ingin mati kedinginan setelah itu” ujar Sail sambil berlalu meninggalkan mereka.

Nayla manyun mendengar jawaban Sail. Lingga masih menatap hulu sungai saat Sail melewatinya. Lalu hanya sebentar melirik punggung Sail yang sudah tiba di ujung jembatan. Muka Lingga memerah karena ia merasa malu tadi sudah tidak sopan memperhatikan Sail. Lingga menghembuskan napasnya pelan.

Selama seminggu tim merah putih melakukan observasi. Setiap malam mereka menyempatkan kumpul di balai dan saling berdiskusi satu sama lain. Merencakan target mereka dengan tetua kampung yang sesekali memberikan saran.

Hari terakhir mereka observasi di desa Semayang berakhir sudah. Penduduk memberikan mereka oleh-oleh yakni buah-buahan dan sayuran segar dari hasil panen. Anak-anak tim merah putih sangat senang menerimanya. Mereka sudah menuju perjalanan pulang kekota.

Lingga kembali mencoba menatap ke arah Sail. Tak ada apapun yang terjadi diantara mereka selama seminggu selain pembicaraan di atas jembatan kala itu. Selebihnya hanya seperti biasa sekedar menyapa dan ketika berdiskusi. Itu saja, tidak lebih.

***