PURNAMA
KE-4
Tim merah putih sudah
bersiap-siap untuk menuju ke tempat pedalaman untuk melakukan observasi.
Observasi dilakukan selama seminggu. Tim merah putih diminta untuk berbaur
dengan baik pada rakyat pedalaman.
Lingga sudah duduk didalam bus.
Satu persatu anggota kelompok mulai masuk beserta para relawan dan pembimbing.
Mereka menyewa bus hanya sampai pada kabupaten. Dari kabupaten mereka akan
menyewa mobil bak belakang untuk membawa mereka menuju desa yang dituju.
Toni dan Ujang sudah pernah
mendatangi desa itu. mereka mensurvey mandiri dengan tujuan akan mudah membantu
teman-teman anggota yang lain beradaptasi. Didalam bus mereka tak hanya duduk
manis menatap indahnya pemandangan. Mereka isi dengan berdiskusi dengan para
relawan (yang rata-rata adalah senior mereka) dalam mengatur strategi dan
rencana-rencana cadangan lainnya. Taktik seperti itu juga usulan dari Toni agar
masing-masing anggota akan mengenal satu sama lain dengan baik sehingga
keakraban dan kekompakkan tim merah putih semakin terlihat.
Lingga sudah seringkali melirik
ke arah Sail yang selalu dirubungi oleh anak-anak tim merah putih. Sail bisa
berbaur dengan baik walau tampang dingin dan juteknya tidak pernah pergi dari
wajahnya. Otaknya yang pintar serta mulutnya yang pandai menjelaskan banyak hal
membuat semua orang betah berada dekat dengannya.
Lingga tersenyum simpul karena
dia belum berbicara banyak dengan Sail. Paling hanya sekedar menyapa dan
bertanya kabar. Tak lebih tak kurang. Sisanya dia hanya berani curi-curi
pandang saja menatap Sail.
“Kau bertemu lagi dengannya,
bukan ?” colek Nayla.
“Apa kubilang, kalian jodoh”
ledek Resti yang muncul dari bangku belakang.
Lingga melotot ke Nayla dan
Resti. Ia mendelik dan berusaha untuk tidur saja daripada meladeni ledekan
Nayla dan Resti.
Pemandangan yang indah mulai
terlihat di mata anak-anak tim merah putih. Udara yang dingin dan sejuk mulai
menusuk tubuh mereka namun mereka tidak peduli. Mereka semua menatap takjub
akan keindahan alam bumi pertiwi yang mereka miliki. Ya, ini adalah milik
mereka. Milik anak bangsa ini.
“rekan-rekan, ini bumi kita,
selamat datang ke tanah sendiri” Toni mulai memegang pengeras suara yang
dibawanya dari kampus.
“Harus kalian tahu, jangan pernah
menyerah pada bumi ini, separah apapun tipu daya itu, yang datang baik dari
dalam dan luar, sebobrok apapun sistem yang ada, begitupun semakin banyak anak
negeri yang tidak tahu diuntung pergi meninggalkan bumi ini menuju bumi lain
yang lebih menguntungkan dirinya seorang, tetap saja, jangan pernah menyerah
pada bumi ini. Bumi kita pertiwi yang kaya!”
Suara Toni menggelegar namun
tetap bisa menyentuh hati masing-masing orang yang berada di dalam bus ini. Pak
supir bus bahkan mengusap ujung matanya karena terharu. Semua orang menggangguk
dan sontak menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan semangat dan terharu.
Ardi menatap Toni dengan bangga.
Ia merasa bisa melihat masa depan pemimpin organisasi mahasiswa selanjutnya di
diri Toni. Ia juga berharap akan banyak pemimpin-pemimpin kharismatik lainnya
pada anak-anak yang ada didalam bus ini.
Tim merah putih, para relawan dan
dosen pembimbing sudah menginjakkan kaki di kabupaten. Dari kabupaten menuju
desa Semayang (tempat observasi mereka) perlu dilanjutkan dengan mobil angkutan
umum yaitu mobil bak belakang yang sudah dilengkapi dengan tempat duduk dan
atap. Butuh dua mobil angkutan itu untuk bisa mengangkut mereka semua.
Perjalanan dari kabupaten menuju desa berjalan lancar walau pada beberapa titik
mereka harus tersendat karena hujan yang turun sehingga membuat beberapa jalanan
berlumpur dan tiga kali ban mobil terjebak. Toni meminta sekretaris kelompok
yaitu Ujang untuk mencatat perjalanan mereka kali ini.
20 menit kemudian mereka sudah
tiba di gerbang masuk desa Semayang yang sejuk dan rindang. Tetua kampung sudah
bersiap bersama rakyat lainnya dengan payung mereka menantikan kedatangan tim
merah putih. Tak sia-sia Toni dan Ujang mendatangi terlebih dahulu desa ini.
Sehingga rakyat langsung menyapa dan membantu membawakan barang bawaan tim
merah putih menuju balai desa yang sederhana.
“Disini memang sering hujan
terutama sore dan malam hari”
Tetua menjelaskan bahwa mereka
sudah mempunyai genset yang berguna untuk mengalirkan listrik ke rumah warga
yang berjumlah 20 kepala keluarga disini. Desa Semayang memang terpencil dari
desa lainnya karena lokasi mereka berada dibelakang bukit. Jauhnya perjalanan
membuat banyak individu yang enggan tinggal di desa ini. Namun syukurnya sudah
ada satu sekolah dasar yang ada didesa ini walau SMP dan SMA belum ada disini.
Anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah mereka harus pergi ke kabupaten.
Rata-rata profesi penduduk desa adalah berkebun dan beternak.
Hari sudah mulai gelap. Tetua
kampung meminta tim merah putih untuk beristirahat dan besok baru bisa
observasi. Yang perempuan langsung dibawa menuju rumah tetua kampung yang cukup
besar. Rumah itu adalah rumah panjang yang terbuat dari kayu. Sederhana namun
sangat asri dan rapi. Sementara yang laki-laki akan ditempatkan di surau
kampung.
Walau tetua meminta besok untuk
observasi namun sepertinya anak-anak tim merah putih tidak sabaran. Anak lelaki
berkumpul di balai kampung berdiskusi dengan para lelaki kampung ada disana
sementara anak perempuan berkumpul di ruang tamu rumah tetua kampung. Mereka
banyak bertanya dengan ibu-ibu kampung serta anak-anak yang ada disana.
Lingga bercengkerama dengan salah
seorang putri tetua kampung. Putri tetua kampung bercerita mengenai sekolah dan
kegiatannya di ladang membantu kedua orang tuanya. Lingga takjud dengan gigih
dan kerja keras anak-anak kampung yang tetap memperhatikan sekolah namun masih
setia membantu orangtua. Anak-anak kampung adalah anak yang penuh rasa ingin
tahu. Mereka banyak bertanya tentang kehidupan dikota dan kuliah itu seperti
apa.
Lingga menceritakan profesinya sebagai
seorang calon guru. Lingga mengatakan bahwa banyak orang memandang remeh
pekerjaan seorang guru. Namun bagi dirinya, menjadi seorang guru adalah sebuah
pekerjaan mulia. Guru adalah orang yang bekerja tanpa tanda jasa, mau secara
sukerela memberikan ilmunya untuk kemajuan anak-anak bangsa ini menjadi lebih
baik. Resiko menjadi guru memang banyak. Dari pekerja honorer selama
bertahun-tahun yang bahkan tidak digaji sama sekali. Namun semua itu tetap
dilakukan sang guru dengan ikhlas karena hanya berharap Ridha dari Tuhan yang
Maha Esa.
Putri tetua kampung mengerjapkan
matanya. Dia berkata ingin menjadi seorang guru agar bisa mengabdi di desa. Lingga
mengangguk senang.
Istri tetua kampung mulai
mematikan lampu ruang tengah. Mereka benar-benar berhemat listrik disini karena
genset yang disediakan memakai bahan bakar minyak yang semakin naik harganya
dari tahun ketahun karena kebijakan pemerintah. Putri tetua kampung mulai
menghidupkan lampu-lampu petromaks untuk menerangi rumah panggung mereka.
Beberapa rumah lain juga melakukan hal yang sama. Pendar-pendar cahaya kuning
dari lampu membuat cantik pemandangan desa.
Mentari pagi menyinari desa
Semayang. Adzan subuh berkumandang. Anak lelaki bukan tanpa alasan mereka
ditempatkan di surau melainkan agar mereka segera bangun lebih cepat karena
suara adzan serta mulai raminya surau oleh para lelaki kampung untuk mendirikan
shalat subuh. Sehingga anak lelaki tim merah putih mau tidak mau ikut serta
meramaikan surau untuk shalat subuh berjamaah.
Sementara anak perempuan selepas
shalat mulai membantu ibu-ibu di rumah tetua kampung untuk membuatkan sarapan
untuk anak-anak tim merah putih. Selepas bersih-bersih dan sarapan, tim merah
putih mulai menyusuri desa. Mereka menatap takjub pada hasil kebun yang
melimpah karena saat ini musim panen. Anak-anak dari fakultas pertanian mulai
mencatat banyak hal mengenai hasil ladang desa Semayang yang tampak ranum dan
segar.
Lingga fokus pada sekolah dasar
yang ada di desa itu. sekolah tersebut berlokasi didekat hulu sungai sehingga
tampak sejuk dan menyenangkan. Anak-anak mulai ramai mendatangi sekolah. Ada
beberapa yang bermain air di tepian sungai yang langsung diteriaki oleh guru
mereka. Lingga mendekati sungai yang beraliran tenang itu. sebuah jembatan kayu
berdiri kokoh tak jauh dari sekolah. Nampaknya jembatan itu baru dibuat oleh
penduduk kampung.
Lingga menyentuh air sungai yang
terasa dingin ditangannya. Ia mengusapkan kedua tangannya. Kapok untuk
menyentuh kembali air sungai di pagi hari. Mungkin karena belum terbiasa
terutama bagi dirinya yang terbiasa dengan udara kota yang hangat. Mandi saja
ia lakukan dengan terburu-buru tadi selepas memasak walau ia bersyukur tidak
berteriak-teriak seperti Nayla dan beberapa anak perempuan dari timnya karena
dinginnya air yang meninju tubuh mereka sehingga cukup mengagetkan ibu-ibu
kampung (bahkan seorang ibu-ibu mendobrak paksa pintu kamar mandi karena
khawatir ada apa-apa pada mereka dikamar mandi yang membuat anak perempuan tim
merah putih menjerit lagi). Lingga tergelak sendiri mengingat kejadian itu.
“Gila”
Sebuah suara memecahkan lamunan Lingga.
Ia menatap pada seseorang yang mulai berjongkok di tepian sungai. mencelupkan
tangannya untuk beberapa lama. Kemudian menarik tangannya dari riak air sungai.
“ah, abang Sail, apa, apanya yang
gila ?” ujar Lingga tersekat.
“Gila karena mereka punya
kualitas air sungai yang bagus namun tidak memanfaatkannya, terutama untuk
listrik” ujar Sail dingin.
Lingga menatap Sail tidak
mengerti. Ia mencoba mendekat pada Sail.
“memangnya, air sungai bisa
dipake untuk listrik ?” tanya Lingga bingung.
Sail menatap Lingga dengan
tatapan tidak percaya.
“aku, aku tahu air itu perantara
yang baik untuk listrik, tapi ini sungai yang warga kampung bergantung padanya,
bukan seperti PDAM yang memang tok digunakan untuk listrik, kalau terjadi
tegangan listrik gimana ?” ujar Lingga yang seolah mengerti tatapan tidak
percaya Sail.
“Kita tidak mengambil seluruh
sungai, kita hanya akan memetak sungai dan mengambil bagian itu menjadi sumber
listrik kita, sehingga bagian lainnya tetap aman untuk digunakan” ujar Sail
sambil menatap hulu sungai.
Lingga ber-oh pelan. Tapi ia
masih tidak terima dengan tatapan Sail yang seolah hendak mengatakan dia bodoh.
“Kalo itu aku setuju, dan aku
tidak bodoh, juga tidak mesum” ujar Lingga manyun.
Sail menatap Lingga sebentar
kemudian berlalu menuju jembatan. Lingga mengikuti langkah kaki Sail.
“Oh ya, kudengar abang berhenti
kerja di chicken area karena
bergabung dengan kami menjadi relawan, apa itu benar ?” tanya Lingga berusaha
memecahkan suasana.
“Tidak, aku tidak berhenti, hanya
sedikit mengurangi shiftku saja
disana” ujar Sail.
“Lalu di tempat servis ?”
“Sama saja”
Lingga ber-oh lagi. Mereka sudah
berada di jembatan kayu. Lingga menatap kebawah jembatan menatap riak air yang
meliuk tenang membelah pondasi kayu jembatan.
Suasana mulai lengang. Lingga
bingung hendak bercakap tentang apa lagi. Lingga menggigit bibirnya sembari
curi-curi pandang menatap Sail yang masih memperhatikan jembatan dan menatap
hulu sungai. Sail memakai sebuah jaket berwarna abu-abu dengan baju kaus berwarna
putih didalamnya yang dipadu dengan celana jeans dan sendal gunung berwarna
hitam. Tak lupa topi hitam tersemat dikepalanya.
Lingga termenung menatap Sail. Ia
belum pernah melihat Sail melepas topi hitamnya. Lingga tidak sadar bahwa Sail
menoleh kepadanya. Mata mereka bertemu namun Lingga masih menatap Sail seperti
sedang men-sensor-sesuatu.
“Apa ?” tanya Sail memecahkan
lamunan Lingga.
Lingga bisa merasakan wajahnya
memerah. Ia berusaha mengalihkan pandangannya dari Sail. Lingga menatap ke hulu
sungai. ia mengendalikan dirinya.
“Linggaaaa”
Lingga menoleh. Ia menatap Nayla
yang berteriak nyaring memanggil namanya. ‘Oh syukurlah ada Nayla’, ujar Lingga
dalam hati. Lingga berterima kasih Nayla mau menyelamatkannya dari situasi
memalukan tadi walau tanpa sengaja.
“Oh, ada abang Sail, abang
ngapain disini ?” tanya Nayla.
“Hanya memeriksa” ujar Sail
dingin.
Lingga masih berusaha
mengendalikan dirinya sementara nayla berdecak kagum menyaksikan pemandangan
sungai yang indah.
“Wah, aku jadi ingin terjun dan
mandi disini” ujar Nayla.
“coba saja kalau kau ingin mati
kedinginan setelah itu” ujar Sail sambil berlalu meninggalkan mereka.
Nayla manyun mendengar jawaban Sail.
Lingga masih menatap hulu sungai saat Sail melewatinya. Lalu hanya sebentar
melirik punggung Sail yang sudah tiba di ujung jembatan. Muka Lingga memerah
karena ia merasa malu tadi sudah tidak sopan memperhatikan Sail. Lingga
menghembuskan napasnya pelan.
Selama seminggu tim merah putih
melakukan observasi. Setiap malam mereka menyempatkan kumpul di balai dan
saling berdiskusi satu sama lain. Merencakan target mereka dengan tetua kampung
yang sesekali memberikan saran.
Hari terakhir mereka observasi di
desa Semayang berakhir sudah. Penduduk memberikan mereka oleh-oleh yakni
buah-buahan dan sayuran segar dari hasil panen. Anak-anak tim merah putih
sangat senang menerimanya. Mereka sudah menuju perjalanan pulang kekota.
Lingga kembali mencoba menatap ke
arah Sail. Tak ada apapun yang terjadi diantara mereka selama seminggu selain
pembicaraan di atas jembatan kala itu. Selebihnya hanya seperti biasa sekedar
menyapa dan ketika berdiskusi. Itu saja, tidak lebih.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar