Kamis, 30 Mei 2019

PURNAMA KE-3



PURNAMA KE-3

Nama Lingga, Resti dan Nayla terpampang jelas di pengumuman nama-nama yang lolos untuk ikut proyek gabungan universitas. Masing-masing akan dibagi kembali kedalam kelompok. Ada 30 nama yang lolos seleksi dari seluruh fakultas. Akan dibentuk 3 kelompok yang akan di ikutsertakan dalam kompetesi ilmiah universitas se-Indonesia. Masing-masing kelompok akan membuat konsep dalam bentuk proposal dan akan menampilkan serta menjelaskannya saat perlombaan nanti dimulai. 

Takdir kembali menyatukan Lingga dengan kedua sahabatnya dalam satu kelompok. Lingga juga satu kelompok dengan beberapa orang baru yang tidak dikenalnya. Panitia mengatakan bahwa mereka akan diberi dua orang pembimbing masing-masing kelompok. Panitia juga memberi tahu bahwa kelompok bisa meminta bantuan dari volunteer atau relawan dari kalangan mahasiswa lain untuk kesuksesan proyek mereka. Relawan yang dipakai jasanya akan diberi upah berupa uang oleh kelompok yang kemudian akan dimasukkan ke bon pengeluaran dimana uang tersebut akan diganti oleh pihak universitas. Dalam artian seluruh proyek ini akan didanai oleh pemerintah melalui universitas.

Masing-masing kelompok langsung memulai brifing pada hari pengumuman. Waktu mereka sangat terbatas. Jadi mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu yang ada. Lingga langsung menuju keruangan yang disebut panitia sebagai base camp. Ruangan Base camp masing-masing kelompok terpisah. Lingga mendapat base camp yang berada cukup dekat dengan gedung serba guna. Base camp ini juga tidak terlalu jauh dari asramanya sehingga tidak begitu merepotkan dirinya jika harus mendadak dipanggil ke base camp.

Lingga menatap tujuh orang mahasiswa lain yang ada diruangan base camp kelompok mereka. Mata Lingga menatap ke arah dua orang mahasiswa yang memakai seragam khusus anak teknik mesin. Lingga berkenalan dengan mereka. Nama mereka adalah Toni dan Indra. Toni seangkatan dengan Lingga sementara Indra berada satu tahun dibawahnya. Lalu satu orang anak fakultas seni bernama Maya, dua orang anak fakultas kedokteran yang bernama Shinta dan Ujang serta dua orang dari fakultas pertanian yang bernama Urip dan Jackson.

Lingga baru menyadari bahwa bukan tanpa alasan panitia membentuk kelompok. Dari proposal tingkat fakultas saat itu, Lingga tahu bahwa kelompok mereka adalah gabungan beberapa proyek namun tetap proyek utama kelompok mereka adalah konsep yang berbasis teknologi. Toni langsung diangkat oleh pembimbing menjadi ketua (setelah berdebat panjang) karena Ujang dan Jackson ternyata juga mahir di teknologi. Namun akhirnya suara membulat karena basic Toni memang mumpuni di bidang teknik.

Mereka mendapatkan lokasi target subjek di sebuah pedalaman yang cukup jauh dari kota tersebut. Dua hari satu malam perjalanan menuju kabupaten belum lagi memakai kendaraan kabupaten menuju desa yang dituju. Pembimbing memberikan nasihat dan wejangan bahwa ini bukanlah ajang menunjukkan kelebihan masing-masing. Semua personel kelompok harus kompak dan menyatu. Sehingga masalah apapun yang akan dihadapi kedepannya dapat terselesaikan dengan baik.

“Tujuan kalian bukanlah untuk menang kompetesi ilmiah tingkat nasional, melainkan untuk membantu ummat, mensejahterakan rakyat kalian agar menjadi lebih baik” ujar Pak Nasrul, salah seorang pembimbing kelompok Lingga.

Toni langsung menjelaskan strategi untuk konsep kelompok mereka. Toni mendengarkan juga pendapat ataupun usulan rekan-rekan yang lain dan mereka diskusikan bersama. Sesekali terdapat perbedaan pendapat satu sama lain namun semua permasalahan sepertinya bisa teratasi dengan baik karena sifat Toni yang memang sabar dan mau mendengarkan semua pihak. Mereka juga sepakat untuk menamai kelompok mereka Tim Merah Putih.

“Jadi kita butuh kira-kira 3 relawan untuk masing-masing bidang yang di garap, terutama bagian teknik, itu butuh lebih banyak lagi” ujar Toni menyimpulkan.

“Aku ada usul untuk meminta bantuan senior ku, aku kenal dekat dengannya” ujar Ujang menyela.

“Oh ya, siapa ?” tanya Urip.

“Ketua BEM universitas tahun lalu, wajahnya udah terkenal banget dan beliau mumpuni untuk masuk dan berbaur dengan rakyat pedalaman, kita bisa belajar bagaimana berkomunikasi yang baik dengan beliau, terutama untuk yang masih gagap ngomong di depan publik” ujar Ujang yakin.

Beberapa anak-anak tim merah putih manggut-manggut. Memang kebanyakan dari mereka masih ada yang suka gugup jika diminta untuk berbicara didepan umum. Anak-anak menyetujui usulan Ujang. Ujang segera bangkit dan menelepon seseorang.

“Terus, untuk yang bagian teknik, aku kenal seorang senior jenius, kalian yang dari non-teknik mungkin masih asing dengan namanya, tapi beliau pernah ikut kompetesi ini juga dua tahun lalu, walau beliau dan kelompoknya cuma jadi juara dua tapi ya setidaknya kan beliau bisa membantu kita dengan baik” ujar Indra.

Toni menganggukkan kepalanya langsung. Toni menatap teman-temannya. Mereka hanya mengangguk karena jika mereka kenal baik secara personal tentu akan lebih baik meminta para relawan untuk membantu. Toni menanyakan lagi pada beberapa bidang yang lain untuk mengambil para relawan yang akan membantu. Lingga menatap kedua sahabatnya, nampaknya ia tidak begitu membutuhkan banyak bantuan untuk bidang mendongengnya. Namun Nayla mengusulkan beberapa nama senior mereka yang akan sedikit membantu.

Minggu ketiga di purnama ke-3. Tim Merah Putih mulai mengumpulkan para relawan yang akan membantu kelompok mereka. Mata Lingga kembali membulat saat ia melihat wajah yang tidak asing lagi dalam hidupnya. Ya, lelaki bertopi hitam itu kembali muncul dihadapannya.

Setelah sesi perkenalan, masing-masing pihak langsung bekerja dan memulai aktivitas mereka untuk proyek ini. Bulan depan mereka sudah harus persiapan untuk melakukan observasi ke pedalaman. Mereka semua terlihat antusias satu sama lain. Lingga tak henti-hentinya menatap ke arah lelaki bertopi hitam alias Sail yang mengerjakan semuanya dengan serius. Sail sangat membimbing adik-adik juniornya dan mengajarkan mereka dengan baik. Benar kata salah seorang senior Lingga saat itu, Sail adalah orang baik yang mau membantu.

“Lingga”

Sebuah seruan memecahkan lamunan Lingga. Lingga menatap pada sumber suara. Disana ada Ardi, sang Ketua BEM universitas tahun lalu. Lingga mengenal Ardi karena mereka satu organisasi islam di kampus (Lembaga Dakwah Kampus).

“Bang Ardi” seru Lingga.

“Wah, hebat kamu ya, gabung kompetesi bergengsi ini gak bilang-bilang sama anak LDK yang lain” canda Ardi.

Lingga terkekeh. Lingga memberitahu bahwa ini semua idenya Nayla. Nayla tidak mau merepotkan organisasi jika organisasi tahu bahwa anggotanya ada mengikuti lomba bergengsi ini.

“Lakukanlah yang terbaik” ujar Ardi.

Lingga mengangguk mantap.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar