PURNAMA
KE-3
Nama Lingga, Resti dan Nayla
terpampang jelas di pengumuman nama-nama yang lolos untuk ikut proyek gabungan
universitas. Masing-masing akan dibagi kembali kedalam kelompok. Ada 30 nama
yang lolos seleksi dari seluruh fakultas. Akan dibentuk 3 kelompok yang akan di
ikutsertakan dalam kompetesi ilmiah universitas se-Indonesia. Masing-masing
kelompok akan membuat konsep dalam bentuk proposal dan akan menampilkan serta
menjelaskannya saat perlombaan nanti dimulai.
Takdir kembali menyatukan Lingga
dengan kedua sahabatnya dalam satu kelompok. Lingga juga satu kelompok dengan
beberapa orang baru yang tidak dikenalnya. Panitia mengatakan bahwa mereka akan
diberi dua orang pembimbing masing-masing kelompok. Panitia juga memberi tahu
bahwa kelompok bisa meminta bantuan dari volunteer
atau relawan dari kalangan mahasiswa lain untuk kesuksesan proyek mereka. Relawan
yang dipakai jasanya akan diberi upah berupa uang oleh kelompok yang kemudian
akan dimasukkan ke bon pengeluaran dimana uang tersebut akan diganti oleh pihak
universitas. Dalam artian seluruh proyek ini akan didanai oleh pemerintah
melalui universitas.
Masing-masing kelompok langsung
memulai brifing pada hari pengumuman.
Waktu mereka sangat terbatas. Jadi mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu yang
ada. Lingga langsung menuju keruangan yang disebut panitia sebagai base camp. Ruangan Base camp masing-masing kelompok terpisah. Lingga mendapat base camp yang berada cukup dekat dengan
gedung serba guna. Base camp ini juga
tidak terlalu jauh dari asramanya sehingga tidak begitu merepotkan dirinya jika
harus mendadak dipanggil ke base camp.
Lingga menatap tujuh orang
mahasiswa lain yang ada diruangan base camp
kelompok mereka. Mata Lingga menatap ke arah dua orang mahasiswa yang memakai
seragam khusus anak teknik mesin. Lingga berkenalan dengan mereka. Nama mereka
adalah Toni dan Indra. Toni seangkatan dengan Lingga sementara Indra berada
satu tahun dibawahnya. Lalu satu orang anak fakultas seni bernama Maya, dua
orang anak fakultas kedokteran yang bernama Shinta dan Ujang serta dua orang
dari fakultas pertanian yang bernama Urip dan Jackson.
Lingga baru menyadari bahwa bukan
tanpa alasan panitia membentuk kelompok. Dari proposal tingkat fakultas saat
itu, Lingga tahu bahwa kelompok mereka adalah gabungan beberapa proyek namun
tetap proyek utama kelompok mereka adalah konsep yang berbasis teknologi. Toni
langsung diangkat oleh pembimbing menjadi ketua (setelah berdebat panjang)
karena Ujang dan Jackson ternyata juga mahir di teknologi. Namun akhirnya suara
membulat karena basic Toni memang
mumpuni di bidang teknik.
Mereka mendapatkan lokasi target
subjek di sebuah pedalaman yang cukup jauh dari kota tersebut. Dua hari satu
malam perjalanan menuju kabupaten belum lagi memakai kendaraan kabupaten menuju
desa yang dituju. Pembimbing memberikan nasihat dan wejangan bahwa ini bukanlah
ajang menunjukkan kelebihan masing-masing. Semua personel kelompok harus kompak
dan menyatu. Sehingga masalah apapun yang akan dihadapi kedepannya dapat
terselesaikan dengan baik.
“Tujuan kalian bukanlah untuk
menang kompetesi ilmiah tingkat nasional, melainkan untuk membantu ummat,
mensejahterakan rakyat kalian agar menjadi lebih baik” ujar Pak Nasrul, salah
seorang pembimbing kelompok Lingga.
Toni langsung menjelaskan
strategi untuk konsep kelompok mereka. Toni mendengarkan juga pendapat ataupun
usulan rekan-rekan yang lain dan mereka diskusikan bersama. Sesekali terdapat
perbedaan pendapat satu sama lain namun semua permasalahan sepertinya bisa
teratasi dengan baik karena sifat Toni yang memang sabar dan mau mendengarkan
semua pihak. Mereka juga sepakat untuk menamai kelompok mereka Tim Merah Putih.
“Jadi kita butuh kira-kira 3
relawan untuk masing-masing bidang yang di garap, terutama bagian teknik, itu
butuh lebih banyak lagi” ujar Toni menyimpulkan.
“Aku ada usul untuk meminta
bantuan senior ku, aku kenal dekat dengannya” ujar Ujang menyela.
“Oh ya, siapa ?” tanya Urip.
“Ketua BEM universitas tahun
lalu, wajahnya udah terkenal banget dan beliau mumpuni untuk masuk dan berbaur
dengan rakyat pedalaman, kita bisa belajar bagaimana berkomunikasi yang baik
dengan beliau, terutama untuk yang masih gagap ngomong di depan publik” ujar
Ujang yakin.
Beberapa anak-anak tim merah
putih manggut-manggut. Memang kebanyakan dari mereka masih ada yang suka gugup
jika diminta untuk berbicara didepan umum. Anak-anak menyetujui usulan Ujang.
Ujang segera bangkit dan menelepon seseorang.
“Terus, untuk yang bagian teknik,
aku kenal seorang senior jenius, kalian yang dari non-teknik mungkin masih
asing dengan namanya, tapi beliau pernah ikut kompetesi ini juga dua tahun lalu, walau beliau dan kelompoknya cuma jadi juara dua tapi ya setidaknya kan beliau
bisa membantu kita dengan baik” ujar Indra.
Toni menganggukkan kepalanya
langsung. Toni menatap teman-temannya. Mereka hanya mengangguk karena jika
mereka kenal baik secara personal tentu akan lebih baik meminta para relawan
untuk membantu. Toni menanyakan lagi pada beberapa bidang yang lain untuk
mengambil para relawan yang akan membantu. Lingga menatap kedua sahabatnya,
nampaknya ia tidak begitu membutuhkan banyak bantuan untuk bidang
mendongengnya. Namun Nayla mengusulkan beberapa nama senior mereka yang akan
sedikit membantu.
Minggu ketiga di purnama ke-3. Tim
Merah Putih mulai mengumpulkan para relawan yang akan membantu kelompok mereka.
Mata Lingga kembali membulat saat ia melihat wajah yang tidak asing lagi dalam
hidupnya. Ya, lelaki bertopi hitam itu kembali muncul dihadapannya.
Setelah sesi perkenalan,
masing-masing pihak langsung bekerja dan memulai aktivitas mereka untuk proyek
ini. Bulan depan mereka sudah harus persiapan untuk melakukan observasi ke
pedalaman. Mereka semua terlihat antusias satu sama lain. Lingga tak
henti-hentinya menatap ke arah lelaki bertopi hitam alias Sail yang mengerjakan
semuanya dengan serius. Sail sangat membimbing adik-adik juniornya dan
mengajarkan mereka dengan baik. Benar kata salah seorang senior Lingga saat
itu, Sail adalah orang baik yang mau membantu.
“Lingga”
Sebuah seruan memecahkan lamunan Lingga.
Lingga menatap pada sumber suara. Disana ada Ardi, sang Ketua BEM universitas
tahun lalu. Lingga mengenal Ardi karena mereka satu organisasi islam di kampus
(Lembaga Dakwah Kampus).
“Bang Ardi” seru Lingga.
“Wah, hebat kamu ya, gabung
kompetesi bergengsi ini gak bilang-bilang sama anak LDK yang lain” canda Ardi.
Lingga terkekeh. Lingga
memberitahu bahwa ini semua idenya Nayla. Nayla tidak mau merepotkan organisasi
jika organisasi tahu bahwa anggotanya ada mengikuti lomba bergengsi ini.
“Lakukanlah yang terbaik” ujar
Ardi.
Lingga mengangguk mantap.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar