Sabtu, 21 Desember 2013

"SESEORANG ITU"


"SESEORANG ITU"

Aku membidikkan kamera ku beberapa kali. Ini sungguh menyenangkan. Aku baru saja mendapat kamera ini sebagai hadiah ulang tahun ke-19 ku. Dikampus langsung aku pamerkan ke teman-teman ku. Teman-teman ku bilang kamera ku sangat bagus, modis, dan cocok untukku. Aku sungguh bahagia mendengarnya.
pict from Google

Ketika tengah menunggu bus yang datang untuk pulang, iseng aku mengeluarkan kamera ku. Membidik beberapa objek yang menurutku menarik minat ku. Namun entah kenapa, hari ini begitu berbeda, entah kenapa ada suatu perasaan dalam diri ini yang begitu lain.
Tiba-tiba saja aku melihat sebuah scene dalam lensa ku, aku melihat bagimana “seseorang itu” berjalan dengan sedikit tertatih ditemani oleh seorang pria muda disampingnya, kubidik sekali, terpikir olehku bagaimana bisa “seseorang itu” membawa beban selama 9 bulan seorang diri, dimana mungkin sakitnya tak tertahankan ketika mengeluarkan beban itu dari dirinya, membayangkan saja begitu ngeri, aku tak berani memikirkan ketika itu semua terjadi padaku.
Lalu  tak selang beberapa lama aku melihat “seseorang itu” yang lain datang ke sisiku hendak menunggu bus datang pula sedang menggendong sikecil yang begitu mengantuk di bahunya. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana beratnya sikecil bagi “seseorang itu”, namun tak tampak olehku sedikit pun wajah mengeluh pada “seseorang itu”, sekarang aku benar-benar heran akan keadaan itu. Ketika “seseorang itu” naik ke bus arah tujuannya, aku membidikkan sekali lagi lensa ku, Nampak punggung belakangnya yang mana pundaknya telah basah oleh air liur sikecil yang begitu nyenyak tidur tersebut. Kembali aku tidak mampu membayangkan aku membawa beban seperti itu setiap harinya yang pasti akan langsung membunuh tubuhku.
Agak beberapa lama menunggu, kembali tampak olehku sebuah pemandangan aneh. Tampak olehku “seseorang itu” yang mengantar sikecil yang berpakaian sekolah dasar kesekolah dengan berjalan kaki, tampak diwajah “seseorang itu” tersungging sebuah simpul senyum menawan. Takjub langsung kubidik pemandangan itu, entah mengapa didalam sanubari ada sedikit perasaan tersentuh seperti aku pernah merasakan sesuatu yang sangat berharga.
Setelah “seseorang itu” tadi berlalu, mulai lagi ada suatu pemandangan yang menarik minat ku lagi, kulihat dari jauh bagaimana “seseorang itu” yang separuh baya sedang menunggu dibawah panasnya terik matahari yang begitu menyengat kulit di seberang jalan. Dia melihat-lihat kearah ku, aku langsung melihat sekeliling. Baru kusadar bahwa didepan ku ada seorang anak berpakaian sekolah yang hendak menyeberang. Namun kembali seperti sesuatu ada yang mengiris sanubariku tatkala melihat “seseorang itu” menyeberangi lalu lalang kendaraan yang begitu padat dan ramai, dan itu tak membuat nyali nya ciut untuk menuju ke arahku. Aku memandanginya sejenak ketika ia sampai didepan ku dan langsung menggandeng tangan si anak sekolah tadi dengan penuh cinta dan perlindungan yang sepenuh hati. Kembali kubidikkan kearah “seseorang itu” dengan rasa aneh tadi yang menghinggapi hatiku.
Dan yang paling membuatku merasa heran, tatkala aku sudah masuk ke dalam bus, aku melihat seseorang itu yang sudah berumur sekitar 60-an. Ada bangku kosong disampingnya. Langsung saja aku duduk disana. Aku tersenyum, dia balas tersenyum.“dari mana bu ?”“dari kampung nak”“mau ngapain ke kota ?”“anak saya mau skripsi nak, saya nemenin dia, biar dia sehat tidak terlalu stress ngejalanin skripsinya”Sambil berkata demikian kulihat dia menggenggam erat sesuatu yang tampak seperti barang kesayangan sang anak, lalu tampak pula kembali sebuah senyum tersungging di bibir keriputnya yang nampak menghitam.
Aku benar-benar terenyak, betapa perasaan yang begitu mengganggu ini semakin kuat didalam diriku. Sejenak setelah terperangah aku mengambil kameraku, dan aku meminta kepada “seseorang itu” untuk mengangkat sedikit benda yang dipegangnya dan aku foto dirinya yang sedang tersenyum bahagia itu. Aku tunjukan padanya foto dirinya dan dia semakin tampak bahagia. Bisa kulihat itu di wajahnya. Seperti semua keriput itu telah hilang dari wajahnya.
Bus melaju dengan tenang dan teratur, dan akhirnya aku tiba ditempat pemberhentianku. Aku turun masih dengan perasaan mengganggu tadi dibenak ku. Aku berjalan melamun dengan pelan sambil memandangi semua bidikan-bidikan yang ku ambil tadi, mencoba menelaah perasaan yang mengganggu ini. Sampai akhirnya aku tiba didepan rumahku, dan tampak oleh ku ternyata “seseorang itu” berdiri menyambutku pulang.
Aku terdiam, sekarang aku mengerti perasaan apa yang menghinggapi ku sedari tadi. Ya, kejadian tadi seolah-olah kejadian 19 tahun yang lalu yang terjadi oleh ku berkat diri “seseorang itu”. Ya, aku merasakannya, aku semakin yakin bahwa itu seperti flashback yang tuhan berikan melalui kejadian nyata dikehidupan sekarang untuk menyadarkanku bahwa aku masih memiliki “seseorang itu”. Segera aku berlari memeluk “seseorang itu” dengan erat. Seseorang yang begitu penuh kasih dan cinta yang mempunyai peran penting dalam hidupku, “seseorang itu”.... IBU.
 
pict from Google