Ikhlaskan Saja, Aulia~
(Aulia’s Series)
Aulia berjongkok dipelataran kebun belakang rumahnya. Ia
membawa baskom pasir tempat pup beberapa kucing peliharaan keluarganya. Ia
mengambil sekop dan mengeluarkan beberapa pup kucingnya. Cantiknya langit sore
kali ini tidak bisa ia nikmati karena bau dari pup kucing yang langsung
dirasakan oleh hidungnya. Beberapa kucingnnya bermain di dekat kakinya. Aulia
tersenyum melihat semua tingkah lucu kucing-kucingnya.
“karena itulah aku mencintai kalian, bahkan aku mencintai
pup kalian” ujar Aulia simpul.
Aulia mengais tempat pup dengan sekop mencari beberapa
pup kecil yang telah tercampur dengan pasir hingga sebuah suara mengagetkannya.
“karena itulah kau tak pernah pergi-pergi keluar rumah
dengan teman-temanmu...”
“...kau terlalu sibuk mengurus anak-anakmu dirumah
rupanya”
Aulia menoleh. Ia melihat seseorang yang sedang berada di
atap rumah dengan pakaian ala tukang dan sedang memegang peralatan bertukang
lengkap dengan palu dan topi tukangnya. Aulia tersenyum remeh.
“wah, aku tidak tahu kalo kera juga bisa ngomong” ejek
Aulia.
“hei, jaga bicaramu dengan orang yang lebih tua”
“sudah tahu tua, masih aja sok-sok-an manjat genteng”
Seseorang itu tertawa. Ia masih terlihat memukul genteng
dengan palunya memasang beberapa paku.
“kapan abang pulang ?” tanya Aulia.
“nanti saja setelah kuselesaikan pekerjaanku. Kau pun
selesaikan dulu pekerjaanmu, pembersih pup kucing” ejek seseorang itu.
Aulia mengatupkan bibirnya. ‘dasar!’ ujarnya dalam hati.
Ia kembali jongkok untuk membuang bersih semua pup kucingnya sementara
seseorang itu masih terkekeh sembari sesekali melirik Aulia dari atas genteng
rumah.
Seseorang tadi adalah bang Zaki. Zaki merupakan tetangga
sebelah rumah Aulia. Keluarga Zaki pindah ke lingkungan rumah Aulia saat Aulia
duduk dibangku kelas 2 SMA. Sekarang Aulia tengah duduk di bangku kuliah
semester 6 sementara Zaki sudah bekerja. Setelah lulus kuliah di bidang ekonomi
bisnis Zaki langsung diminta untuk menjadi salah seorang pegawai Bank di kota
itu namun hanya dua tahun berselang Zaki memutuskan keluar dari pekerjaannya.
Sekarang Zaki hanyalah seorang pengangguran dan sedang mencoba peruntungannya
dengan mencari pekerjaan lain diluar kota sejak lima bulan lalu. Namun kali ini
ia menyempatkan pulang kerumahnya.
“jadi kenapa seorang lulusan cumlaude dari universitas negeri ternama di kota ini sekarang malah
memutuskan menjadi seorang tukang genteng dikompleks kita ?” tanya Aulia.
Zaki tertawa renyah. Ia membuka tenong yang dibawa Aulia dari rumahnya. Mengetahui Zaki pulang
membuat umminya Aulia langsung membuat beberapa kue dan makanan. Aulia mencibir
kenapa umminya lebih menantikan kepulangan Zaki ketimbang memikirkan Aulia.
Aulia masih menatap Zaki yang kini melahap habis satu kue besar kedalam
mulutnya.
“wah, kue buatan ummi mu benar-benar terbaik, Ya”
“jadi kenapa ?” desak Aulia.
“yah, dia sudah punya pemikirannya sendiri, Ya, ibu pun
udah capek nyaranin dia cari kerja ini cari kerja itu aja, eh dianya yang, yaah
begitulah, banyak maunya” ujar ibu bang Zaki.
Aulia memandang ibu Zaki. Ayah Zaki sedang dinas
sementara diluar kota. Zaki memiliki seorang kakak perempuan dan seorang adik
laki-laki. Kak Ayu, kakak perempuan Zaki telah menikah dan ikut suaminya
tinggal diluar kota sementara adik laki-laki Zaki sedang menginjak bangku SMP.
Sejak kepindahan keluarga Zaki di dekat rumah Aulia membuat keluarga Aulia dan
keluarga Zaki bagai saudara dekat. Mereka sangat akrab satu sama lain. Apalagi
Aulia memiliki seorang adik laki-laki yang seusia juga dengan adik laki-laki
Zaki.
“yang diluar kota, gimana jadinya ?”
“sedang abang coba, kamu doain aja” ujar Zaki kalem.
“artinya bang Zaki akan kerja diluar kota dong”
Zaki terlihat mengangguk. Aulia tersenyum simpul sambil
memandang kue buatan umminya. Tak lama Aulia pamit dari kediaman Zaki dan pulang
menuju rumahnya yang berkisar hanya 20 langkah dari rumah Zaki. Itu benar-benar
sudah dihitung oleh Aulia. Aulia berjalan pelan. Matanya menerawang jauh.
Perlahan Aulia menghembuskan nafasnya pelan. Ia tertawa sendiri.
‘kenapa ? kan bagus kalo bang Zaki akhirnya bisa mendapat
pekerjaan’ ujar Aulia didalam hatinya. Aulia bisa merasakan hatinya sedikit
nyilu memikirkan Zaki tidak akan bisa ia lihat lagi jika benar Zaki akan
bekerja diluar kota.
Ya, sejak setahun kepindahan keluarga Zaki saat itu
membuat Aulia sering memperhatikan Zaki. Ia berusaha kuat menahan perasaannya
yang semakin aneh apalagi saat bang Zaki bergurau dan berbicara padanya.
Kenyataan bahwa mereka bertetangga semakin membuat Aulia sulit mengatur
perasaannya. Ia tidak mungkin bersikap jutek dan cuek dengan Zaki yang sudah
dianggap anak oleh orangtua Aulia. Begitupun juga Aulia yang sudah bagai anak
oleh orangtua Zaki dan Zaki bagai memandang Aulia itu adalah adiknya.
Zaki benar-benar diterima kerja diluar kota. Kota itu
adalah kota dimana tempat Zaki tinggal sebelum keluarganya pindah ke kota yang
sekarang. Zaki tinggal dirumah lamanya yang ada di Kota itu. Aulia kerap
mendapat kabar dari umminya kalo Zaki benar-benar nyaman bekerja ditempat
barunya sekarang.
“apa bang Zaki benar-benar hijrah dan ‘nyunnah’ sekarang
ummi ?” tanya Aulia pada umminya.
“ada apa kamu nanyain begitu ?”
“yah, kulihat bang Zaki benar-benar pemilih akan
pekerjaanya, tuh kerja di bank dia tinggalin, penampilannya juga perlahan
berubah, kan”
“ya bagus dong kalo itu niatnya Zaki. Kerja itu yang
penting berkahnya sayang, rezeki itu udah ada Allah yang ngatur”
“iya, bagus deh” ujar Aulia sambil menerawang. Perlahan
senyum mengembang di wajahnya.
Ummi Aulia bisa melihat ekspresi di wajah putrinya. Ummi
tahu sejak beberapa tahun belakangan ini putrinya selalu tersenyum jika hal itu
bersangkutan dengan Zaki dan terlihat seperti orang yang sedang menahan
perasaannya saat Zaki datang kerumah atau saat berpapasan dengan Zaki.
Siang ini matahari bersinar cukup terik. Aulia sedang
asyik membuat tugas kuliahnya sambil sesekali melirik pada kucing-kucingnya
yang berkeliaran disekitarnya. Ia tersenyum dan sesekali memainkan penanya pada
kucing yang langsung mengejar penanya. Tak lama kemudian Aulia mendengar pintu
rumahnya diketuk seseorang. Ia bisa mendengar suara umminya berbicara dengan
seseorang. Iseng Aulia berdiri dan melongok ke pintu kamarnya. Dari balik pintu
kamarnya ia bisa menangkap sosok Zaki yang sedang berdiri berbicara pada
umminya. Matanya Aulia membulat. Disamping Zaki juga berdiri ibunya Zaki. Ummi
Aulia terlihat begitu senang dan menatap Zaki dan ibunya dengan mata
membelalak. Aulia bisa melihat tingkah Zaki yang malu-malu dengan tangannya
yang mengusap tengkuk kepalanya. Saat ummi Aulia dan ibunya Zaki segera duduk
dimeja makan Aulia bisa melihat Zaki menghadapkan kepalanya ke samping dan mata
Zaki menangkap sosok Aulia yang sedang mengintip.
Aulia menangkap mata Zaki. Dengan cepat Aulia segera
menutup pintu kamarnya dengan keras. Ia terlihat begitu malu karena ketahuan
mengintip padahal ia sedang dirumahnya sendiri. Aulia bisa merasakan gemuruh di
dadanya. Ia sedikit heran ada apa diluar sana namun hati kecilnya mengatakan
tidak usah keluar. Aulia memegang kepalanya. ‘ada apa dengan tatapan bang Zaki
tadi ?’ tanyanya dalam hati. Aulia menggelengkan kepalanya. Kucing-kucingnya
bergerumul manja dibawah kakinya saat ini.
Malam telah tiba.
Ummi sedang asyik berceloteh dengan abi sementara adik laki-laki Aulia masih
asyik dengan gadgetnya. Aulia masih makan di meja makan.
“...iya beneran abi, apalagi dia udah terlihat siap nikah,
kan bagus” ujar ummi Aulia.
Aulia mengintip dari balik dapur. ‘nikah ? ummi sedang
bicarain nikah sama abi’ ujar Aulia dalam hatinya. Aulia segera menyelesaikan
makannya.
“ummi lagi bicarain apa sama abi ?”
Ummi memandang Aulia. Abi masih asyik dengan buku yang
ada ditangannya.
“nah ini nih, kamu udah semester 6, cepet siapin
kuliahnya biar bisa langsung juga”
“langsung apaan, ummi ?” tanya Aulia.
“kamu mau nikah, kan ?” tanya ummi.
Serrr. Degub jantung Aulia bergetar. Ia terlihat
malu-malu sekarang.
“tuh tuh, kamu mulai malu-malu”
“iya bener anak abi mau nikah ?”
Aulia terdiam sejenak. Ia ingat akan kedatangan Zaki dan
ibunya tadi kerumah juga dengan ekspresi kaget ibunya. Jantung Aulia semakin
berdegub kencang. Ia mencoba menahan perasaannya dan mencoba mengatur logikanya
se-realistis-mungkin.
“ya, ya maulah abi. Emang udah ada yang nanya ?” tanya
Aulia tergagap.
“hmm, ya sebenernya calon yang ummi inginkan dari dulu
untuk kamu udah ada, Cuma.. ya mungkin bukan takdir” ujar ummi pelan.
“maksud ummi ?” tanya Aulia.
Terlihat sedikit keraguan di wajah ummi. Aulia tidak
mengerti apa-apa saat ini. Ummi mengambil sebuah kertas yang terlihat jelas itu
merupakan kertas undangan. Ummi memberikan kertas itu ketangan Aulia. Aulia
menghembuskan nafasnya. Matanya dengan jelas membaca nama yang tertera di
kertas undangan itu.
Undangan Pernikahan.
Zaki dan Airin.
Aulia tersenyum. Senyum yang begitu simpul. Degub
jantungnya semakin bertambah tak karuan. Matanya mulai hangat dirasakan oleh
Aulia. Masih dengan senyuman Aulia memberikan kembali kertas undangan tadi pada
umminya. Ia tidak mampu mengatakan apapun saat ini dan ia juga tidak mampu
menangis disini. Aulia segera berdiri dan berjalan pelan menuju kamarnya.
Abinya heran mengapa Aulia bersikap seperti itu sementara umminya hanya menatap
Aulia sedih.
Aulia tidak tahu kenapa ia malah menangis saat ini
dikamarnya. Kucing-kucingnya malah terlihat asyik bergelayut disekitarnya tanpa
memperdulikan Aulia yang bersedih. Tak lama ummi datang ke kamar Aulia. Ummi
tersenyum seadanya dan duduk mendekat pada Aulia.
“kenapa, kenapa aku nangis, ummi ?” tanya Aulia.
Ummi merangkul Aulia dan menepuk pelan pundak Aulia.
“karena kamu suka, kan, sama Zaki”
“entahlah, ummi, aku... entah kenapa kalo bang Zaki
datang kerumah aku bawaannya senang dan sekarang disini rasanya sakit banget,
ummi” ujar Aulia sambil menunjuk
dadanya.
“namanya suka ya wajar sayang, dan kamu berusaha
menahannya itu bagus. Terlihat jelas banget tau sama ummi. Dan, ya, untuk
sekarang mah ummi juga gak bisa apa-apa, toh Zaki udah memilih jalannya
sendiri, kan, dan kamunya juga masih kuliah makanya ummi belum nanyain ke orang
tua Zaki...”
“... ikhlaskan saja, ya sayang, yang namanya jodoh,
rezeki, kematian, itu kita gak ada satupun yang tahu. Tapi itu semua sudah ada
kepastian dan sudah di atur dengan sebaik mungkin oleh Sang Maha Pengatur,
dengan sebaik-baik aturan-Nya, yaitu Allah SWT...”
“... kita hanya bisa ikhtiar, doa dan usaha, tapi apapun
kita dapatnya, pasti itu yang terbaik yang dikasi Allah”
Aulia terdiam menatap lantai. Hatinya sedikit lebih lega
mendengar ucapan dari ummi.
“apa aku bakal kuat ummi ?” tanya Aulia.
Ummi tersenyum.
“harus!, kamu harus kuat. Yakinlah bahwa Allah sudah
mempersiapkan yang lebih baik untukmu dimasa depan. Apa yang menurutmu bagus
belum tentu bagus disisi Allah, begitu pun sebaliknya. Apa yang menurutmu tidak
bagus, belum tentu juga tidak bagus di sisi Allah. Allah mengetahui sedang kita
tidak...”
“eh, Aulia inget gak, orang yang baik dan berusaha
menjadi baik akan dipertemukan dengan jodoh yang baik, inget, kan ?” tanya
ummi.
Aulia mengangguk. Ia tersenyum simpul. Aulia sadar
permainan perasaannya saat ini hanyalah tipu daya setan terhadap dirinya. Ia
bertekad untuk lebih menjaga hati dan pandangannya serta memperbaiki dirinya
menjadi lebih baik lagi. Walau kini bayang-bayang Zaki masih ada pada kepalanya
namun ia berusaha untuk perlahan melupakan Zaki.
“iya ummi, bang Zaki orang baik, tentu akan berjodoh
dengan yang baik, tak sepatutnya juga aku menganggap semua ini salah, akulah
yang salah” ujar Aulia.
Ummi tersenyum mendengar ucapan bijak putri semata
wayangnya. Ia mengusap airmata Aulia dan memeluk Aulia sembari berharap esok
hari seseorang yang baik hatinya mau datang mengetuk pintu rumah mereka untuk
Aulia.
-Samudera Mengering-










