Kembali
lagi bersama emendea daily, hai guys, anyeonghaeseyo?
Semoga
semua yang baca blog ini selalu dalam limpahan berkah dari Allah SWT ya^^
Aamiin...
This moment just a little bit want to share
about what I read before days. Yeah, this is about the book which name ‘The 7 Habits of Highly Effective Teens’
a.k.a 7 Kebiasaan Remaja Yang Sangat
Efektif.
Kenapa
remaja ? padahal yang baca sendiri udah gak masuk lagi dalam kategori remaja
*ups. Hehe namanya ilmu ya selagi itu masih bermanfaat, why not ?
Jadi
content didalam buku ini neomu neomu
(very very) recomended banget karena isinya benar-benar sesuatu yang sangat
efektif dilakukan oleh seorang remaja yang masih dalam tahap penyesuaian diri
dan tahap pencarian identitas dirinya. Is
not just about the self, but it is also talk about how relationship to the
others too. Jadi tidak hanya berbicara mengenai bagaimana membentuk diri
menjadi lebih baik tapi juga berbicara mengenai bagaimana membentuk hubungan
yang baik dengan orang lain.
Ya, you know lah kan buku tentang ‘The Seven
Habit For Effective People’ karya nya Mr. Covey. Nah jadi buku ini tuh karangan anaknya pak Covey,
bener banget. Nama pengarangnya adalah Sean Covey. Disini tuh si Sean
menjelaskan semua kata-katanya secara unik dan lucu disertai dengan berbagai
macam gambar yang keren-keren jadinya kita gak bakalan bosen bacanya. It’s my opinion right^^
Oke,
kita langsung aja bahas mengenai topik Tentang Mendengarkan.
“Wallahu akhrajakum mim
but.uni ummahatikum lata'lamuna syai’aw wa ja'ala lakumussam’a wal
abs. ara walaf‘idata la'allakum tasykurun(a)
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan
tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan
hati nurani, agar kamu bersyukur. (Q.S. an-Nah.l [16]: 78)
Well,
kebanyakan orang jarang ingin mendengarkan maunya selalu ingin didengarkan
terus. Nah permasalahannya hidup kita tenteram gak sih jika semua orang maunya
didengarin terus ? bakal aman gak sih kondisi hubungan dengan orang lain jika
kita selalu maunya didengerin mulu gak mau denger orang lain ? gak kan, nah salah
satu tips yang diberikan Pak Covey untuk bisa menjadi pendengar yang baik itu
ada tiga, yuk kita simak.
1. Mendengarkan Dengan Mata, Hati Dan Telingamu.
1. Mendengarkan Dengan Mata, Hati Dan Telingamu.
Mendengarkan dengan telinga kamu aja itu belum cukup, dear.
Hanya 7% komunikasi yang terkandung dalam kata-kata yang diucapkan. Sedangkan
53% selebihnya berasal dari bahasa tubuh dan 40% nya berasal dari bagaimana
kita mengucapkan kata-katanya, atau istilahnya nada bicara serta perasaan yang
tercermin dalam ucapan kita. So untuk mau belajar gimana sih caranya agar bisa memahami maksud dari seseorang itu, cobalah untuk melihat dan mengobservasi apa yang mereka tidak ucapkan. Just try it. Dengarkan apa yang tidak mereka sampaikan! Terkadang kita melihat seberapa keraspun seseorang tampak dari luarnya mereka pasti punya sisi lembut dan sangat membutuhkan untuk didengarkan.
2. Selami Perasaaan Mereka.
Nah disini jika kamu ingin menjadi seorang pendengar yang
tulus, coba deh kamu kesampingkan dulu perasaanmu. Gak usah bawa perasaan kamu
dulu deh intinya.
“hingga kamu berjalan satu mil dengan
mengenakan sepatu orang lain, bukan berarti kamu bisa membayangkan baunya” –
Robert Byrne
So, kamu
harus berusaha untuk bisa memahami dunia mereka dari point of view mereka. Gak bisa kamu samakan kacamata kamu dengan
kacamata mereka ya dear. Disini ada umpama contoh yang diberikan oleh Pak
Covey.
kita
sedang berdiri ditepi sungai. saya mengenakan lensa hijau sementara kamu
mengenakan lensa berwarna merah.
“wow, lihat tuh betapa hijau air sungainya”, kata
saya
“hijau ? kamu gila ya, kan airnya merah”, katamu
“haloo ? kamu buta warna ya ? itu kan hijau”.
“merah, tolol!”
“hijau!”
“merah!”
That’s it. Karena
itu makanya banyak orang jadinya memandang percakapan itu sebagai persaingan.
Pandangan saya versus pandangan kamu. Dan hal itu jelas gak ada yang sama-sama
benar. Pada kenyataan kita semua memiliki pandangan yang sangat sangat berbeda
satu sama lain. Kita berpikir sama-sama
benar dan lebih lanjutnya malah kita bertingkah konyol dengan berusaha untuk
menang dalam sebuah percakapan. That’s so
rude, dear hehe. So do not do that, okay^^.
3.
Cobalah
Bersikap Seperti Cermin.
Nah lho ?
Hehe bukan itu maksudnya juga keles.
Maksudnya disini bersikap seperti cermin adalah mengulangi
dengan kata-kata sendiri.
Masih gak ngerti ?
Okay gini, saat seseorang mencoba curhat
dengan kita, coba deh kita ulangi lagi apa yang dia katakan dengan kata-kata
kita sendiri. Yang kita ulangi itu bukan hanya kata-katanya, tapi ikut sertakan
juga semua perasaan yang dirasakannya.
But, bersikap seperti
cermin ini bukan maksudnya kita meniru, like
a Beo. No, is it not that. Meniru
adalah kalo kamu mengulangi secara persis apa yang diucapkan lawan bicaramu.
Itu.
Misalnya :
“wah Tom. Sekarang ini aku benar-benar parah
disekolah”
“kamu lagi parah-parahnya disekolah sekarang ini”
“aku gagal disemua mata pelajaran”
“kamu gagal disemua mata pelajaran”
Plaakk. Kita ngomong sama temen yang lagi curhat kaya gini mah
boro-boro dianya bakal nyaman sama kita, yang ada kita malah di labrak dan
dianya jadi nyesel kan curhat ke kita. Duh, jangan sampe kayak gitu ya, dear.
Bersikap seperti cermin itu kita nunjukin
bahwa kita itu bisa untuk menjadi pendengar ke seseorang yang curhat ke kita.
Kita tunjukin kalo kita itu bisa hangat dan peduli padanya dengan mengulangi
makna dari ucapan dia, dan kita mengulangi lagi perasaan yang dirasakannya
dengan kata-kata atau makna kita sendiri.
Well,
memang dirasa susah ya. Ini sama seperti kita menganalisa apa yang seseorang
ucapkan dan seseorang sampaikan. Ya kalo kita peka, kalo enggak ? makanya terus
belajar dan keep trying. Hehe.
We can make an example
about how to feels like a mirror, yuk intip. (ini juga sering saya alami
sejujurnya dan baru ‘ngeh’ wah begini rupanya maksudnya *hiks)
Suatu hari kamu ingin memakai mobil ayahmu
untuk pergi dengan teman-temanmu but, ayahmu menolak dan berkata “tidak bisa!
Kamu tidak boleh bawa mobil malam ini. Titik”
What you feels ? get
angry ?
Kesal ?

Oh my, dear, jika kamu balas dengan ucapan seperti itu tidak
memungkinkan akan memicu pertengkaran yang lebih hebat lagi dan kedua belah
pihak jadi sama-sama gak enak deh setelahnya.
Nah, jika kamu memilih untuk bersikap seperti cermin, maka
seperti ini kisahnya.
“tidak bisa! Kamu tidak boleh bawa mobil
malam ini. Titik”
“ayah lagi kesal ya”.
“jelas ayah kesal. Nilai sekolahmu turun terus begitu
kok, kamu tidak pantas pake mobil”.
“ayah khawatir ya sama nilai-nilai saya”
“iya dong. Kamu tahu kan ayah mau kamu meneruskan
kuliah”
“ayah sungguh mementingkan kuliah saya ya ?”
“kan ayah sendiri tidak sempat kuliah. Dan akibatnya
ayah tidak pernah bisa mendapatkan nafkah yang baik. Ayah tahu uang bukan
segalanya, tetapi yang jelas kan banyak membantu. Ayah Cuma mau kamu
mendapatkan kehidupan yang lebih baik”
“oh gitu”
“padahal kan kamu mampu. Maka ayah jadi kesal kalau
kamu tidak sungguh-sungguh dalam sekolah. Ayah rasa kamu boleh deh pake mobil
asal kamu janji mengerjakan PR-mu nanti malam. Itu saja kok, janji ya ?”
Nah kan ?
Dengan melatih keterampilan kamu memahami seperti cermin maka
kamu akan mampu menemukan titik permasalahan dan menyelesaikan persoalan dengan
baik. Dari cerita diatas, si Ayah sebenarnya hanya menyampaikan maksud bahwa ia
khawatir akan masa depan anaknya yang bersikap terlalu santai terhadap sekolah.
Bukan mempermasalahkan anaknya bawa mobil atau enggak. Begitu ia merasa anaknya
paham akan maksudnya si ayah dengan mudahnya langsung membuka diri.
Well, untuk jawaban
si ayah ya tergantung juga sih, bisa juga si ayah berkata “aku senang kamu paham, nah, sekarang kerjakan PR-mu” hehe. Kan
bisa jadi.
Kalo masih belum ngena juga, dicoba aja
dulu. Intinya kalo kata iklan ‘tokope**a’ adalah ‘dicoba aja dulu’. Hehe. Kalo
sikapmu benar tetapi kamu tidak punya keterampilan, it’s okay. But tidak
sebaliknya. Because kalo kamu udah
punya sikap sekaligus keterampilannya, Bboomm,
selamat, kamu bakal jadi komunikator ulung^^.
Allah kembali
mengingatkan dalam firman-Nya, ''Yang
mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya, mereka
itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah
orang-orang yang mempunyai akal.'' (Az-Zumar[39]:18).
Okay, sekian bahasannya kali ini dari aku guys, mohon maaf jika masih ada kurang dalam penyampian
kata-katanya. Maklumat pemula ‘dicoba aja dulu’ hahaha. Terakhir aku bakal kasi
sajak dari bukunya Pak Covey juga. Aku ngebacanya dan kulihat that’s great,
check it out!
Tolonglah... Dengarkan Apa Yang Tidak
Kuucapkan
Jangan terkecoh olehku. Jangan terkecoh
oleh topeng yang kupakai. Karena aku
memakai topeng, aku memakai seribu topeng, topeng yang takut kulepaskan, yang
tidak satupun adalah diriku. Pura-pura adalah seni yang jadi sifat kedua
bagiku, tetapi jangan terkecoh deh.
... Aku memberikan kesan bahwa aku
tenteram, bahwa semuanya beres, baik di dalam batin maupun lingkunganku; bahwa
kepercayaan diri adalah ciri-ciriku dan sikap tenang adalah kebiasaanku; bahwa
perairannya tenang dan bahwa akulah yang memegang kendalo dan aku tidak butuh
siapapun. Tetapi jangan percaya deh; kumohon.
Aku ngobrol santai denganmu dengan nada
basa-basi. Aku katakan segalanya yang sebenarnya tidak ada artinya, yang sama
sekali lain dari pada seruan hatiku.
Jadi, kalau aku sedang berceloteh, jangan
terkecoh oleh apa yang kuucapkan. Tolong dengarkan dengan seksama dan
berusahalah mendengar apa yang tidak kuucapkan; apa yang ingin dapat kuucapkan;
apa, demi keselamatan, yang perlu kuucapkan tetapi tidak bisa. Aku tidak suka
bersembunyi. Sejujurnya lho. Aku tidak suka permainan basa-basi yang kumainkan
ini.
Sebenarnya aku ingin tulus, spontan, dan
menjadi diriku sendiri; tetapi kamu harus menolong aku. Kamu harus menolong aku
dengan mengulurkan tanganmu, sekalipun kelihatannya aku tidak menginginkannya
atau membutuhkannya. Setiap kali kamu bersikap baik serta lembut dan memberikan
dorongan, setiap kali kamu berusaha mengerti karena kamu sungguh peduli, hatiku
bersayap. Sayap kecil sih. Sayap lemah sih. Tetapi pokoknya bersayap. Dengan
kepekaanmu dan simpatimu serta daya pengertianmu, aku bisa menanggung semuanya.
Kamu bisa menghembuskan nafas kehidupan ke dalam diriku. Pasti tidak mudah
bagimu. Keyakinan akan ketidakberhargaan yang sudah lama pasti membangun
dinding yang kuat. Tetapi kasih itu lebih kuat dari pada dinding yang kuat, dan
di sanalah letaknya perngharapanku. Tolong usahakan untuk merubuhkan dinding
itu dengan tangan-tangan yang kokoh, tetapi lembut, karena seorang anak itu
peka, dan aku ini anak-anak.
Siapa sih aku, mungkin kamu
bertanya-tanya. Karena aku adalah setiap pria, setiap wanita, setiap anak-anak
... setiap manusia yang kamu temui.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar