Sabtu, 27 Januari 2018

MENDENGARKAN






Assalamualaikum wr.wb

Kembali lagi bersama emendea daily, hai guys, anyeonghaeseyo?
Semoga semua yang baca blog ini selalu dalam limpahan berkah dari Allah SWT ya^^ Aamiin...

This moment just a little bit want to share about what I read before days. Yeah, this is about the book which nameThe 7 Habits of Highly Effective Teens’ a.k.a 7 Kebiasaan Remaja Yang Sangat Efektif.

Kenapa remaja ? padahal yang baca sendiri udah gak masuk lagi dalam kategori remaja *ups. Hehe namanya ilmu ya selagi itu masih bermanfaat, why not ?

Jadi content didalam buku ini neomu neomu (very very) recomended banget karena isinya benar-benar sesuatu yang sangat efektif dilakukan oleh seorang remaja yang masih dalam tahap penyesuaian diri dan tahap pencarian identitas dirinya. Is not just about the self, but it is also talk about how relationship to the others too. Jadi tidak hanya berbicara mengenai bagaimana membentuk diri menjadi lebih baik tapi juga berbicara mengenai bagaimana membentuk hubungan yang baik dengan orang lain.

Ya, you know lah kan buku tentang ‘The Seven Habit For Effective People’ karya nya Mr. Covey. Nah jadi buku ini tuh karangan anaknya pak Covey, bener banget. Nama pengarangnya adalah Sean Covey. Disini tuh si Sean menjelaskan semua kata-katanya secara unik dan lucu disertai dengan berbagai macam gambar yang keren-keren jadinya kita gak bakalan bosen bacanya. It’s my opinion right^^

Oke, kita langsung aja bahas mengenai topik Tentang Mendengarkan.       

                
                Wallahu akhrajakum mim but.uni ummahatikum lata'lamuna syai’aw wa ja'ala lakumussam’a wal abs. ara walaf‘idata la'allakum tasykurun(a)
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (Q.S. an-Nah.l [16]: 78)

Well, kebanyakan orang jarang ingin mendengarkan maunya selalu ingin didengarkan terus. Nah permasalahannya hidup kita tenteram gak sih jika semua orang maunya didengarin terus ? bakal aman gak sih kondisi hubungan dengan orang lain jika kita selalu maunya didengerin mulu gak mau denger orang lain ? gak kan, nah salah satu tips yang diberikan Pak Covey untuk bisa menjadi pendengar yang baik itu ada tiga, yuk kita simak.

 1.       Mendengarkan Dengan Mata, Hati Dan Telingamu.

                Mendengarkan dengan telinga kamu aja itu belum cukup, dear. Hanya 7% komunikasi yang terkandung dalam kata-kata yang diucapkan. Sedangkan 53% selebihnya berasal dari bahasa tubuh dan 40% nya berasal dari bagaimana kita mengucapkan kata-katanya, atau istilahnya nada bicara serta perasaan yang tercermin dalam ucapan kita.
          
      So untuk mau belajar gimana sih caranya agar bisa memahami maksud dari seseorang itu, cobalah untuk melihat dan mengobservasi apa yang mereka tidak ucapkan. Just try it. Dengarkan apa yang tidak mereka sampaikan! Terkadang kita melihat seberapa keraspun seseorang tampak dari luarnya mereka pasti punya sisi lembut dan sangat membutuhkan untuk didengarkan.

2.       Selami Perasaaan Mereka.

          Nah disini jika kamu ingin menjadi seorang pendengar yang tulus, coba deh kamu kesampingkan dulu perasaanmu. Gak usah bawa perasaan kamu dulu deh intinya.
               
 “hingga kamu berjalan satu mil dengan mengenakan sepatu orang lain, bukan berarti kamu bisa membayangkan baunya” – Robert Byrne
                
So, kamu harus berusaha untuk bisa memahami dunia mereka dari point of view mereka. Gak bisa kamu samakan kacamata kamu dengan kacamata mereka ya dear. Disini ada umpama contoh yang diberikan oleh Pak Covey.

kita sedang berdiri ditepi sungai. saya mengenakan lensa hijau sementara kamu mengenakan lensa berwarna merah.
                “wow, lihat tuh betapa hijau air sungainya”, kata saya
                “hijau ? kamu gila ya, kan airnya merah”, katamu
                “haloo ? kamu buta warna ya ? itu kan hijau”.
                “merah, tolol!”
                “hijau!”
                “merah!”

That’s it. Karena itu makanya banyak orang jadinya memandang percakapan itu sebagai persaingan. Pandangan saya versus pandangan kamu. Dan hal itu jelas gak ada yang sama-sama benar. Pada kenyataan kita semua memiliki pandangan yang sangat sangat berbeda satu sama lain.  Kita berpikir sama-sama benar dan lebih lanjutnya malah kita bertingkah konyol dengan berusaha untuk menang dalam sebuah percakapan. That’s so rude, dear hehe. So do not do that, okay^^.






        3.       Cobalah Bersikap Seperti Cermin.


Nah lho ?        
Hehe bukan itu maksudnya juga keles.
Maksudnya disini bersikap seperti cermin adalah mengulangi dengan kata-kata sendiri.
Masih gak ngerti ?

Okay gini, saat seseorang mencoba curhat dengan kita, coba deh kita ulangi lagi apa yang dia katakan dengan kata-kata kita sendiri. Yang kita ulangi itu bukan hanya kata-katanya, tapi ikut sertakan juga semua perasaan yang dirasakannya.

But, bersikap seperti cermin ini bukan maksudnya kita meniru, like a Beo. No, is it not that. Meniru adalah kalo kamu mengulangi secara persis apa yang diucapkan lawan bicaramu. Itu.
Misalnya :
                “wah Tom. Sekarang ini aku benar-benar parah disekolah”
                “kamu lagi parah-parahnya disekolah sekarang ini”
                “aku gagal disemua mata pelajaran”
                “kamu gagal disemua mata pelajaran”
               
Plaakk. Kita ngomong sama temen yang lagi curhat kaya gini mah boro-boro dianya bakal nyaman sama kita, yang ada kita malah di labrak dan dianya jadi nyesel kan curhat ke kita. Duh, jangan sampe kayak gitu ya, dear.

Bersikap seperti cermin itu kita nunjukin bahwa kita itu bisa untuk menjadi pendengar ke seseorang yang curhat ke kita. Kita tunjukin kalo kita itu bisa hangat dan peduli padanya dengan mengulangi makna dari ucapan dia, dan kita mengulangi lagi perasaan yang dirasakannya dengan kata-kata atau makna kita sendiri.

Well, memang dirasa susah ya. Ini sama seperti kita menganalisa apa yang seseorang ucapkan dan seseorang sampaikan. Ya kalo kita peka, kalo enggak ? makanya terus belajar dan keep trying. Hehe.

We can make an example about how to feels like a mirror, yuk intip. (ini juga sering saya alami sejujurnya dan baru ‘ngeh’ wah begini rupanya maksudnya *hiks)

                Suatu hari kamu ingin memakai mobil ayahmu untuk pergi dengan teman-temanmu but, ayahmu menolak dan berkata “tidak bisa! Kamu tidak boleh bawa mobil malam ini. Titik”

What you feels ? get angry ?
Kesal ?

So, jika kamu langsung menjawab ayahmu dengan berkata “ayah selalu melarang saya bawa mobil. Saya selalu harus numpang. Saya muak jadinya”

Oh my, dear, jika kamu balas dengan ucapan seperti itu tidak memungkinkan akan memicu pertengkaran yang lebih hebat lagi dan kedua belah pihak jadi sama-sama gak enak deh setelahnya.

Nah, jika kamu memilih untuk bersikap seperti cermin, maka seperti ini kisahnya.

                “tidak bisa! Kamu tidak boleh bawa mobil malam ini. Titik”
                “ayah lagi kesal ya”.
                “jelas ayah kesal. Nilai sekolahmu turun terus begitu kok, kamu tidak pantas pake mobil”.
                “ayah khawatir ya sama nilai-nilai saya”
                “iya dong. Kamu tahu kan ayah mau kamu meneruskan kuliah”
                “ayah sungguh mementingkan kuliah saya ya ?”
                “kan ayah sendiri tidak sempat kuliah. Dan akibatnya ayah tidak pernah bisa mendapatkan nafkah yang baik. Ayah tahu uang bukan segalanya, tetapi yang jelas kan banyak membantu. Ayah Cuma mau kamu mendapatkan kehidupan yang lebih baik”
                “oh gitu”
                “padahal kan kamu mampu. Maka ayah jadi kesal kalau kamu tidak sungguh-sungguh dalam sekolah. Ayah rasa kamu boleh deh pake mobil asal kamu janji mengerjakan PR-mu nanti malam. Itu saja kok, janji ya ?”

Nah kan ?
Dengan melatih keterampilan kamu memahami seperti cermin maka kamu akan mampu menemukan titik permasalahan dan menyelesaikan persoalan dengan baik. Dari cerita diatas, si Ayah sebenarnya hanya menyampaikan maksud bahwa ia khawatir akan masa depan anaknya yang bersikap terlalu santai terhadap sekolah. Bukan mempermasalahkan anaknya bawa mobil atau enggak. Begitu ia merasa anaknya paham akan maksudnya si ayah dengan mudahnya langsung membuka diri.

Well, untuk jawaban si ayah ya tergantung juga sih, bisa juga si ayah berkata “aku senang kamu paham, nah, sekarang kerjakan PR-mu” hehe. Kan bisa jadi.


Tetapi jamin deh, bersikap seperti cermin akan sedikit demi sedikit membentuk kepribadianmu dan cara pandangmu dalam memahami seseorang. Dan akan berhasil ketimbang kita memakai cara ‘lawan atau lari’ atau bahkan ‘F’ yang ketiga yakni ‘Freeze’ alias diam ditempat, duh makin ribet. Yakin deh. Hehe.


Kalo masih belum ngena juga, dicoba aja dulu. Intinya kalo kata iklan ‘tokope**a’ adalah ‘dicoba aja dulu’. Hehe. Kalo sikapmu benar tetapi kamu tidak punya keterampilan, it’s okay. But tidak sebaliknya. Because kalo kamu udah punya sikap sekaligus keterampilannya, Bboomm, selamat, kamu bakal jadi komunikator ulung^^.

Allah kembali mengingatkan dalam firman-Nya, ''Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya, mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.'' (Az-Zumar[39]:18).

Okay, sekian bahasannya kali ini dari aku guys, mohon maaf jika masih ada kurang dalam penyampian kata-katanya. Maklumat pemula ‘dicoba aja dulu’ hahaha. Terakhir aku bakal kasi sajak dari bukunya Pak Covey juga. Aku ngebacanya dan kulihat that’s great, check it out!


  


Tolonglah... Dengarkan Apa Yang Tidak Kuucapkan

Jangan terkecoh olehku. Jangan terkecoh oleh topeng yang kupakai.  Karena aku memakai topeng, aku memakai seribu topeng, topeng yang takut kulepaskan, yang tidak satupun adalah diriku. Pura-pura adalah seni yang jadi sifat kedua bagiku, tetapi jangan terkecoh deh.
... Aku memberikan kesan bahwa aku tenteram, bahwa semuanya beres, baik di dalam batin maupun lingkunganku; bahwa kepercayaan diri adalah ciri-ciriku dan sikap tenang adalah kebiasaanku; bahwa perairannya tenang dan bahwa akulah yang memegang kendalo dan aku tidak butuh siapapun. Tetapi jangan percaya deh; kumohon.
Aku ngobrol santai denganmu dengan nada basa-basi. Aku katakan segalanya yang sebenarnya tidak ada artinya, yang sama sekali lain dari pada seruan hatiku.
Jadi, kalau aku sedang berceloteh, jangan terkecoh oleh apa yang kuucapkan. Tolong dengarkan dengan seksama dan berusahalah mendengar apa yang tidak kuucapkan; apa yang ingin dapat kuucapkan; apa, demi keselamatan, yang perlu kuucapkan tetapi tidak bisa. Aku tidak suka bersembunyi. Sejujurnya lho. Aku tidak suka permainan basa-basi yang kumainkan ini.
Sebenarnya aku ingin tulus, spontan, dan menjadi diriku sendiri; tetapi kamu harus menolong aku. Kamu harus menolong aku dengan mengulurkan tanganmu, sekalipun kelihatannya aku tidak menginginkannya atau membutuhkannya. Setiap kali kamu bersikap baik serta lembut dan memberikan dorongan, setiap kali kamu berusaha mengerti karena kamu sungguh peduli, hatiku bersayap. Sayap kecil sih. Sayap lemah sih. Tetapi pokoknya bersayap. Dengan kepekaanmu dan simpatimu serta daya pengertianmu, aku bisa menanggung semuanya. Kamu bisa menghembuskan nafas kehidupan ke dalam diriku. Pasti tidak mudah bagimu. Keyakinan akan ketidakberhargaan yang sudah lama pasti membangun dinding yang kuat. Tetapi kasih itu lebih kuat dari pada dinding yang kuat, dan di sanalah letaknya perngharapanku. Tolong usahakan untuk merubuhkan dinding itu dengan tangan-tangan yang kokoh, tetapi lembut, karena seorang anak itu peka, dan aku ini anak-anak.

Siapa sih aku, mungkin kamu bertanya-tanya. Karena aku adalah setiap pria, setiap wanita, setiap anak-anak ... setiap manusia yang kamu temui.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar