Selasa, 30 Juni 2020

PURNAMA KE-12




PURNAMA KE-12

Lingga mendengar informasi itu dari Toni. Mereka tengah berada di Desa Semayang (sedang menjalankan proyek ilmiah yang mereka menangkan beberapa bulan lalu) saat Toni tiba-tiba meminta seluruh anggota tim merah putih untuk berkumpul.

“bang Ardi menelponku memberitahu bahwa kita harus menghadiri wisuda mereka lusa” ujar Toni.

“mereka ? mereka siapa ?” tanya Maya.

“yaelah, abang-abang dan kakak-kakak relawan yang ngebantuin kita lah, ceunah” ujar Nayla.

“kita gak hanya diminta datang secara personal oleh bang Ardi, melainkan juga diminta datang sebagai tamu kehormatan oleh pihak universitas, bang Ardi bahkan maksa aku harus ngasi kata sambutan disana” ujar Toni tersipu.

Anak-anak anggota tim merah putih mulai meledek dan meracaui Toni. Toni melototi mereka satu persatu.

“yak, calon presiden mahasiswa selanjutnya mulai melotot” Goda Ujang yang disambut tawa anak-anak lain.

Anak-anak anggota tim merah putih sudah duduk di kursi tamu kehormatan untuk perayaan wisudawan tahun ini. Toni tidak bisa mengelak saat namanya dipanggil untuk memberi kata sambutan. Toni melakukannya dengan baik dan semangat. Ia sudah di canang-canangkan akan digadangkan menjadi bakal calon presiden mahasiswa selanjutnya tahun ini.

Lingga mencoba mengendalikan dirinya. Dia mendengar dari bang Ardi bahwa Sail juga di wisuda namun sosok Sail tak nampak olehnya. Lingga juga tak menemui Sail di tempat kerjanya sejak pengumuman kemenangan tim merah putih. Rekan pelayan di chicken area dan mbak-mbak CS ditempat servis mengatakan bahwa Sail sudah berhenti bekerja. Lingga membuka tasnya dan menatap sendu pada topi hitam bertuliskan ‘the smart one’ yang selalu disimpannya dengan hati-hati.

Tiba-tiba lengan Lingga disentuh oleh salah seorang panitia wisuda. Panitia itu memberikan secarik kertas pada Lingga. Lingga membaca kertas itu dan segera memberitahu Nayla bahwa ia ada sedikit urusan diluar sebentar.

Lingga berjalan pelan menuju gedung laboratorium utama universitas yang tak jauh dari gedung serba guna auditorium (tempat pelaksanaan wisuda). Pesan itu mengatakan bahwa ia harus kesana. Seluruh ruangan Laboratorium cukup ramai dengan para teknisi yang masih mengutak atik mesin yang ada didepan mereka diruangan masing-masing. Lingga menatap kertas pesan itu. Tertulis sebuah ruangan dengan nomor 203 yang terletak di lantai dua.

Lingga sudah berdiri didepan ruangan 203. Lingga menghembuskan napasnya pelan. Lingga mengetuk pintu ruangan itu. Sebuah suara  terdengar memintanya masuk. Suara itu amat dikenalnya menggema ringan ditelinga Lingga. Mata Lingga membulat. Ia tanpa komando langsung membuka pintu secara paksa dan mendapati seseorang itu (masih dengan topi hitamnya) berdiri didekat jendela.

Lingga terpaku. Ia menatap seseorang itu dari jauh. Lelaki itu memakai celana dasar berwarna hitam, kemeja hitam, dan sebuah jas lab berwarna putih. Lingga menatap sebuah toga, ijazah dan dasi tergeletak di atas meja yang tak jauh dari jendela. Diatas meja itu juga berdiri sebuah minuman penyegar energi (merek yang sama saat dulu selalu Lingga berikan padanya).

“Kembali menyensor ha ?” ujar seseorang itu.

Lingga menatap seseorang itu lekat. Suara itu, wajah itu, tak banyak berubah selama beberapa purnama terakhir saat ia menatap wajah itu dulu di lorong ruangan dengan kaus kaki kotornya karena berusaha mengejar lelaki itu.

“Tak mau memberi selamat ?” tanya seseorang itu lagi.

Lingga tersenyum. Matanya sudah berkaca-kaca namun ia berusaha menahannya. Lingga berusaha mengalihkan emosinya dengan menatap beberapa orang yang juga ada diruangan itu. Lingga melihat mereka yang masih sibuk dengan mesinnya masing-masing. Mesin ? Lingga menatap kembali pada lelaki itu. Didepan lelaki itu juga telah berdiri sebuah mesin yang nampak kokoh.

Lingga berjalan mendekati jendela. Ia menatap mesin itu dengan takjub.

“perkenalkan, namanya Purnama, hari ini adalah hari jadinya karena sudah bisa beroperasi dengan baik dan siap untuk digunakan, setelah kupatenkan pastinya.” ujar Sail.

Lingga menatap Sail. Yang ditatap sedang menatap ‘Purnama’ dengan bangganya. Sail tengah tersenyum saat ini dan ditatap takjub oleh Lingga.

“aku minta maaf karena telah menghilang beberapa bulan belakangan” ujar Sail pelan.

Sail dan Lingga berdiri dengan latar cahaya yang masuk melalui jendela besar itu. Lingga masih belum mengalihkan tatapan dari wajah Sail.

well, selain merampungkan skripsiku, aku juga ditawarkan beberapa program oleh universitas untuk mengembangkan alat ini bersama beberapa rekanku yang lain, kau bisa lihat mereka kan ?” ujar Sail sambil menunjuk beberapa rekannya diruangan itu.

Sail menatap Lingga. Senyum diwajahnya perlahan memudar dan kembali menampakkan sosok wajah dingin dan jutek yang begitu dikenal Lingga.

“selamat untuk kemenanganmu, kau sudah menepati janjimu” ujar Sail dingin.

Lingga menghembuskan napasnya. Ia menatap jauh ke jendela. Menyaksikan keramaian wisuda dibawah sana. Lingga membuka tasnya dan mengeluarkan topi hitam ‘the smart one’ itu. Lingga menatap topi itu sebentar kemudian menyerahkannya pada Sail.

Sail mengambil topi hitam itu. Ia menatap pada tulisan ‘the smart one’ yang ada di topi itu.

“aku belum minta maaf sama abang untuk itu” ujar Lingga lirih.

Sail menggeleng. Ia melepas topi hitam yang dipakainya. Sail menatap topi hitam yang selalu dipakainya itu. Lingga turut menatap topi hitam itu. ia selalu penasaran kenapa topi hitam itu begitu berharga bagi Sail.

Sail akhirnya menceritakan segalanya pada Lingga. Tentang topi itu itu, tentang hidupnya, tentang keluarganya, tentang masa lalunya hingga sampai pada tentang pertemuan mereka berdua yang pertama kalinya.

Setelah Sail selesai bercerita, Lingga menatap Sail dengan perasaan menyesal. Lingga baru mengetahui bahwa Sail merupakan seorang anak yatim. Ibunya mati-matian menghidupinya seorang diri hingga penyakit kanker perut menggerogoti tubuh ibunya. Ibu Sail meninggal diusia yang sangat muda. Meninggalkan seorang Sail kecil yang berusia 7 tahun. Ibu Sail memberikan hadiah topi hitam itu saat ulang tahun Sail yang ke-7 dan itu adalah hadiah terakhir dari sang ibu. Maka dari itu Sail menganggap bahwa topi hitam itu adalah barang yang sangat berharga baginya.

Setelah kematian sang ibu, Sail dirawat oleh keluarga ibunya sampai sekarang. Sail bercerita bahwa ia tidak mau merepotkan keluarga ibunya makanya sejak SMA Sail sudah memulai hidup mandiri dengan bekerja sambilan. Saat memutuskan kuliah pun Sail memilih kampus yang jauh dari daerah lamanya agar tidak membebani keluarga ibunya yang sudah sangat baik padanya.

Sail hidup tak muluk-muluk. Hidup yang sederhana adalah cukup baginya. Selama ia bisa hidup tenang tanpa masalah dan menganggu atau menyusahkan orang lain. Makanya Sail berperawakan dingin dan jutek pada setiap orang.

“walau tak jarang itu justru malah menjadi masalah karena beberapa orang melabrakku gara-gara tampangku ini” canda Sail namun masih dengan wajah dinginnya.

Lingga bisa melihat Sail sedikit tersipu karena mencoba bercanda. Sail mengusap-usap rambutnya yang tidak gatal.

“jadi, apa aku boleh memakai topi ini sekarang karena sudah menceritakan semuanya padamu ?” tanya Sail.

Lingga tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia turut menyesal karena sudah berburuk sangka perihal topi hitam Sail yang ternyata adalah pemberian dari mendiang ibunya. Lingga melihat Sail kembali menyimpan dengan erat topi hitam sang ibu didalam tas ranselnya.

“terima kasih, Lingga, terima kasih untuk semuanya, aku tahu aku adalah orang paling bodoh didunia ini” ujar Sail menunduk menatap topi hitam pemberian Lingga.

Lingga menatap Sail tidak mengerti.

“aku bodoh karena selama ini begitu tega dan sengaja tidak peduli sama kamu yang ternyata begitu peduli padaku, aku berusaha menekan semuanya, perhatian darimu dulu selalu aku anggap beban karena kupikir saat itu, bahwa ini belum saatnya, namun...”

Sail menarik dan menghembuskan napas pelan.

“.... namun aku juga tidak bisa bohong pada diriku sendiri. Maaf aku belum bisa menjanjikan apapun saat ini, belum bisa Lingga...” ujar Sail pelan.

Lingga menunduk. Ia tak berani menatap wajah Sail.

“aku dapat tawaran melanjutkan studiku di Jepang dengan beasiswa, Lingga, aku, aku tidak akan mengikatmu, jika memang kita berjodoh maka kita akan bertemu kembali dengan cara yang pantas, namun...”

“...namun jika tidak, jika ternyata ada orang baik yang datang duluan padamu, terima saja dia, aku akan mengikhlaskan” ujar Sail.

Sail terdiam. Lingga menghembuskan napasnya pelan.

“itu hak ku” suara Lingga terdengar tegas oleh Sail. Sail menatap Lingga tidak mengerti.

“itu adalah hak ku untuk menerima ataupun menolak siapapun yang datang kelak. Itu bukan urusan abang dan abang tidak berhak sama sekali untuk menghendaki aku harus bersikap seperti apa” ujar Lingga tegas.

“yang hanya ingin kutahu sekarang adalah, bagaimana, bagaimana perasaan abang kepadaku ?” tanya Lingga dengan menunduk.

Kali ini Sail yang menghembuskan napasnya pelan. Sail berdeham sejenak kemudian mengangguk pelan. Memang bukan haknya untuk mengatur sikap Lingga seperti apa.

“aku, jujur, aku suka sama kamu, Lingga” ujar Sail tenang.

Lingga bisa merasa dadanya hangat dan berdegub kencang. Ia bisa menebak Sail akan mengatakan itu. Lingga tersenyum menunduk memandang jalanan yang ramai oleh acara wisuda.

“oke, sekarang semuanya sudah jelas, untuk bagaimana kedepannya kita emang gak tahu, termasuk apakah perasaan abang akan tetap sama atau malah berubah, begitu pun aku” ujar Lingga tenang.

Lingga mengangkat kepalanya menatap Sail. Senyum Lingga mengembang. Sail terdiam tak menatap Lingga. Sail tahu Lingga juga menyukainya. Sangat jelas malah. Sail juga berpikir bahwa memang kedepannya dirinya dan Lingga tak pernah tahu bagaimana perasaan masing-masing. Apakah akan tetap sama atau malah berubah. Karena memang begitu kodratnya hati bukan. Dan Tuhan lah yang Maha membolak-balikkan hati manusia.

“selamat menempuh hidup S2 abang, tetap semangat, tetaplah jadi pintar dan jenius yang selalu mau membantu orang lain tanpa pamrih, selalu bermanfaat untuk orang lain” ujar Lingga tulus.

Sail tersenyum. Sail memakaikan topi hitam yang bertuliskan ‘the smart one’ itu dikepalanya dengan mantap. Sail menganggukkan kepalanya pelan sambil menatap Lingga yang mulai kembali menatap keluar jendela.

Takdir mereka dimulai lagi sekarang. Karena memang, perkara hati tiada siapa yang tahu melainkan Tuhan, diri sendiri, dan masa depan.


-The End- ?

Senin, 20 April 2020

PURNAMA KE-9



PURNAMA KE-9

Tim merah putih keluar dari ruangan tempat penyelenggaraan lomba. Mereka menang menungguli banyak peserta lain dari universitas yang bahkan lebih bergengsi dibanding universitas mereka. Lingga tersenyum senang menatap rekan-rekannya. Tak sia-sia kerja keras mereka selama ini.

Dalam dua bulan kedepan mereka akan disibukkan dengan terjun ke lapangan untuk memasangkan generator hebat itu (begitu kata juri) ke Desa Semayang. Lingga dan beberapa anak Tim merah putih yang akan melaksanakan KKN juga dibebaskan dari KKN karena lomba ini. Mereka tidak perlu mengikuti KKN.

Tim merah putih mengadakan pesta kecil-kecilan sekaligus pelepasan untuk para relawan yang membantu di ruangan proyek. Namun Lingga tak melihat Sail disana. Indra mengadu pada Toni mengatakan bahwa ponsel Sail tak bisa dihubungi.

Lingga diam dan hanya menatap jauh ke jendela menatap hujan rinai yang mulai turun dari langit. Lingga teringat janjinya. ‘Bukankah aku akan menunjukkan kemenangan ini padamu’, kesal Lingga dalam hatinya. Lingga menghembuskan napasnya pelan.

***