Jumat, 02 Maret 2018

Aulia's Series #3



Ingat Masa Ospek, Aulia~
(Aulia’s Series)
Aulia sudah terdaftar sebagai mahasiswi di salah satu universitas negeri yang ada di kota tempat tinggalnya. Kala itu ospek pertama Aulia di kampusnya. Aulia mempersiapkan segala atribut yang harus dikenakannya selama ospek. Baju kemeja putih, jilbab hitam dengan rok hitam bagi mahasiswi sedangkan untuk sepatu bebas. Abi sudah siap untuk mengantar Aulia menuju kampusnya. Dengan memakan waktu kira-kira 20 menit Aulia sudah menjejakkan kaki ke lokasi tempatnya menuntut ilmu. Aulia  mengambil jurusan Desainer karena memang minatnya ingin terjun di bidang Fashion terutama untuk fashion muslim yang semakin marak saat ini.
Para mahasiswa dan mahasiswi baru sudah diperintahkan untuk berbaris didepan gedung serbaguna. Aulia langsung segera mencari rombongan dari jurusannya. Tak sulit untuk menemukan rekan-rekannya yang satu jurusan dengannya. Saat tinggal 10 langkah lagi menuju barisan tiba-tiba seseorang menabrak Aulia. Aulia tak seimbang dan langsung jatuh terduduk. Aulia memandang orang yang memandangnya. Seorang lelaki berpakaian maba* sedang menggenggam handphone dan terlihat seperti sedang menelepon. Lelaki tersebut memandang Aulia sebentar sebelum akhirnya menyahut kembali pembicaraannya di telepon dan berlalu meninggalkan Aulia yang masih terduduk di lantai.
Aulia geram. Aulia berdiri dengan dibantu oleh dua perempuan asing yang juga maba. Mata Aulia masih belum berhenti menatap bagian belakang kepala botak lelaki tersebut. Bunyi peluit keras menandakan bahwa acara pembukaan akan segera dimulai. Aulia segera menyerobot banyak orang karena ia harus berburu segera berbaris di jurusannya.
Rektor mengatakan bahwa selama lima hari berturut-turut, acara pengenalan kampus kepada mahasiswa baru akan dilaksanakan. Namun, pengenalan kampus ini akan dilakukan dengan dicampurnya mahasiswa seluruh jurusan untuk dibentuk berkelompok. Aulia sudah mendapat kartu yang berisi nama-nama kelompok dan kakak pembimbingnya selama lima hari kedepan. Ada seorang wanita yang satu jurusan dengannya sementara tiga orang pria dan dua orang wanita lainnya merupakan mahasiswi jurusan dan fakultas lain.
Aulia bersama Dasya -teman sejurusan yang sekelompok dengan Aulia, red- segera menuju ke kelas yang ditujukan untuk tempat berkumpul kelompoknya. Saat sudah mencapai pintu mereka masuk dengan senyuman. Semua yang ada dikelompok itu saling menyapa dengan ramah satu sama lain. Namun mata Aulia membulat saat melihat seseorang itu dikelompoknya. Ya, lelaki yang menabraknya hingga jatuh tadi pagi ada dikelompoknya.
Lelaki itu mahasiswa baru yang bernama Izam. Izam sepertinya juga menyadari bahwa Aulia adalah orang yang ditabraknya pagi tadi. Namun Izam terlihat hanya bersikap cuek seperti tak ada kejadian apapun. Hal itu membuat kepala Aulia mendidih. Aulia segera mendekati Izam.
“hei, kamu itu yang nabrak aku tadi pagi!” ujar Aulia. Ia masih terlihat berusaha menahan amarahnya.
“terus ?” tanya Izam.
“ya kamu harus minta maaf, kamu kan salah”
Nada bicara Aulia terlihat semakin meninggi yang langsung membuat kakak pembimbing dan teman-teman Aulia menatap mereka sekarang.
“kamu juga salah, jalan gak lihat-lihat juga kok tadi kamunya” ujar Izam membela.
Aulia mengatupkan kedua mulutnya. Ia benar-benar hendak marah sekarang. Kakak pembimbing mendatangi mereka. Aulia menceritakan apa yang terjadi. Izam juga tak mau kalah menimpali kalau Aulia juga salah. Kakak pembimbing meminta Izam untuk meminta maaf saja sama Aulia.
“aku tidak mau, aku tidak salah sepenuhnya, dia juga harus minta maaf”
what the!’ ujar Aulia dalam hatinya. Semua teman-teman kelompok masih menatap mereka. Aulia menjadi tidak enak karena dirinya dan Izam membuat kegiatan hari pertama sudah terganggu. Aulia menatap Izam sebentar sebelum akhirnya berlalu meninggalkannya dan kembali ke tempat duduknya. Kakak pembimbing juga kembali ke tempat dan langsung memberikah arahan untuk lima hari kedepan.
“jadi, selama lima hari esok kita semua akan bersatu sebagai tim. Kakak dan abang ingin kalian semua itu kompak. Kalo ada permasalahan yang menganggu, mari kita selesaikan bersama” ujar kak Risa, kakak pembimbing kelompok Aulia.
Aulia masih terlihat kesal. Saat masuk Ishoma* kak Risa dan bang Nanda langsung meminta Aulia dan Izam untuk menemui mereka selepas shalat. Aulia sudah selesai shalat. Sambil membawa kotak bekalnya menuju lorong kampus yang sejuk. Mata Aulia langsung menangkap wajah kak Risa yang melambai ke arahnya. Aulia juga melihat Izam yang sudah duduk disamping bang Nanda
Kak Risa segera menanyakan permasalahan yang terjadi pada Aulia dan Izam. Aulia mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak terlalu mempermasalahkan kejadian tadi pagi.
“hanya saja tak ada tabiat baik dari Izam bahkan untuk meminta maaf” ujar Aulia.
Izam hanya diam. kak Risa segera bertanya pada Izam apa ia mau minta maaf.
“baiklah, aku minta maaf” ujar Izam.
Aulia ketus melihat permintaan maaf Izam yang terlihat sangat tidak tulus. Namun ia tidak ingin berlarut-larut. Aulia mengangguk cepat dan segera membuka kotak bekalnya. Ia sangat lapar sekarang.
Izam berdiri dan izin meninggalkan kak Risa, bang Nanda dan Aulia. Ia tidak menatap Aulia sama sekali.
“lho, bukannya maba diminta membawa bekal” tanya bang Nanda.
“gak sempat bang, aku duluan ya” ujar Izam segera berlalu.
Setelah ‘permintaan maaf’ dari Izam tadi nyatanya tidak membuat hubungan Aulia dengan Izam membaik. Izam masih saja terlihat ketus kepada Aulia. Aulia berusaha menahan kesalnya karena jika ia bersikap ramah dengan tersenyum kepada Izam hanya akan membuat dirinya menjadi orang bermuka dua dan senyum dari Aulia pun hanya akan dibalas cuek oleh Izam.
“ah, aku tidak tahu lagi, Sya, entah siapa yang salah sekarang” ujar Aulia kepada Dasya.
“sabar aja Ya, mungkin dia lagi ada masalah makanya seperti itu”
“iya, dan masalahnya itu sama aku, dengan kalian dia bisa bersikap seperti seorang teman, dengan aku ? dia palingin wajah terus dari aku” keluh Aulia.
Dasya hanya bisa diam dan menatap Aulia dengan lirih. Aulia terlihat sedih sekarang.
“tetaplah berbuat baik kepadanya, Ya, mungkin suatu saat Allah merubah hatinya” ujar Dasya pelan.
Mereka sudah berkumpul. Ini hari ke empat pengenalan kampus. Esok adalah hari terakhir dan itu akan diisi dengan outbond kelompok. ‘well, akhirnya ini akan berakhir juga’ ujar Aulia dalam hatinya. Ia sudah cukup lelah terus sekelompok dengan Izam. Aulia menyemangatkan hatinya untuk besok karena esok adalah hari pembebasannya.
Outbond sudah dimulai. Beberapa permainan ada yang bisa dimenangkan oleh kelompok Aulia hingga mereka bisa melaju ke final. Permainan yang dimainkan di final adalah perang balon air. Ada peraturan dimana jika mengenai sang penjaga gawang maka kelompok tersebut akan kalah. Aulia mengajukan diri sebagai penjaga gawang. Awalnya Izam menolak dan meminta yang lain saja. Kembali mereka cekcok dan Aulia kekeuh ingin jadi penjaga gawang. Izam terlihat sangat geram. Teman-teman yang lain ‘mendinginkan’ mereka dan membujuk Izam supaya membiarkan Aulia yang menjadi penjaga gawang. Izam diam dan segera mengambil posisinya. Persiapan balon yang berisi air sudah dipersiapkan sebanyak mungkin untuk masing-masing kelompok. Siapa yang berhasil mengenai sang penjaga dengan balon air tersebut artinya kelompok sang penjaga itu kalah. Intinya jangan biarkan sang penjaga itu basah. Permainan sudah dimulai dan langsung riuh dan suara pecah balon air dan basahnya anak-anak yang bermain. Bagi yang sudah lima kali terkena balon air maka otomatis dia diharuskan out dan berdiri di belakang baris pertahanan lawan untuk membantu temannya yang masih bermain seperti permainan dodgeball*. Sedangkan satu orang terakhir yang tersisa tidak bisa out karena menjadi guard untuk penjaga.
Aulia masih bertahan dengan kondisi kering. Ia cukup gesit walau bermain menggunakan rok. Teman-teman kelompoknya berusaha melindunginya kecuali Izam. Sedikit pun Izam tak pernah berusaha dekat dan melindunginya. Namun Izam juga masih belum out dan basah sama sekali karena gesit dan lincahnya. Izam sudah berhasil melumpuhkan seorang pemain lawan dengan mengenainya balon air sebanyak lima kali. Kelompok Aulia semakin garang menyerang. Namun tiba-tiba kelompok lawan merubah taktik mereka. Mereka mengikut gaya Izam memburu habis-habisan satu orang lawan terlebih dahulu. Perlahan-lahan dua orang anggota kelompok Aulia out, salah satunya Dasya. Izam masih berusaha menyerang walau orang-orang mulai menyerangnya dan menyerang Aulia. Izam dan empat orang lain masih menyerang. Mereka mengenai kelompok lawan hingga dua orang juga out. Kelompok lawan tak ambil pusing karena yang tersisa memang yang gesit dan kuat. Mereka balas menyerang dan berhasil mengenai dua orang kelompok Aulia secara telak. Tinggal Aulia, Izam dan seorang perempuan dari jurusan lain yang bernama Tika. Tika sangat berusaha melindungi Aulia sementara Izam masih fokus menyerang dua pemain lawan. Izam bertempur habis-habisan dari menjaga agar bola tidak mengenainya dan melempar tepat bola ke arah lawan. Dua orang dari lawan out olehnya namun Tika juga out dibuat oleh lawan karena melindungi Aulia terus-terusan.
Pluit istirahat berbunyi. Saat ini skor seri antara kelompok Aulia dengan kelompok lawan. Anggota kelompok Aulia segera mengerubungi Aulia dan Izam untuk menyemangati mereka berdua. Aulia menatap Izam. Izam juga menatap Aulia. Izam otomatis menjadi guard yang akan melindungi Aulia sampai Aulia out terkena balon air sedangkan Izam tidak akan out sama sekali. Baru saja Aulia hendak berbicara, Izam sudah memotong ucapannya duluan.
“kau jangan bandel, jangan menjauh dan ikut semua intruksiku, aku tak akan menyentuhmu sama sekali asal kau bisa peka mendengar semua ucapanku. Kau dengar! semua ucapanku! Kalo kau ingin kelompok kita menjadi pemenang umum” ujar Izam ketus namun Izam terlihat serius saat ini.
Aulia bisa melihat sorot kompetitif di mata Izam. Tampak jelas Izam tak setengah-setengah dan ingin menang dalam rangkaian acara outbond ini mengingat mereka yang berhasil masuk final dan memang salah satunya berkat Izam yang atletis dan cerdas. Aulia juga berpikir bahwa Izam benar. Tidak mungkin ia membiarkan Izam menyentuhnya hanya untuk melindunginya. Ini hanya permainan. Syariat tetap syariat. Dalam hatinya Aulia sedikit tersentuh Izam mau mengerti akan keadaannya sebagai seorang muslimah.
“makasih” ujar Aulia.
Teman-teman yang lain saling pandang melihat Izam dan Aulia yang sangat mereka harapkan untuk akur dan tidak cekcok lagi. Izam segera menjauh dari kelompok untuk meregangkan ototnya. Ia tampak bersemangat sekarang.
Peluit tanda istirahat habis berbunyi. Tak langsung lama mereka memulai permainan. Suit pihak lawan menang. Pihak lawan langsung menggempur Izam dan Aulia habis-habisan. Guard lawan yang berbadan kekar melempar balon air cukup kuat mengenai pundak Izam yang sangat cepat refleks melindungi Aulia. Seperti yang dikatakan Izam, Aulia hanya perlu mendengar semua ucapan Izam.
“Aulia kekananmu....”
“Aulia mundur ke belakang....”
“....loncat Aulia...”
“.....awas, kekiri cepat!....”
Dan teriakan lainnya dari Izam sambil terus mengorban dirinya basah terkena balon air. Tak sedikitpun Izam menyeret paksa tangan Aulia untuk mengikuti intruksinya karena Aulia langsung gesit mengikuti semua ucapan Izam.
Pihak guard lawan terlihat semakin kesulitan menembus dinding pertahanan Izam. Izam melihat kesempatan itu. Ia berbisik pelan ke Aulia. Aulia menatap Izam yang benar-benar basah dan juga lelah. Aulia mengangguk mantap mendengar strategi yang diberikan Izam.
Izam menyerang dan terus berusaha mencari celah dari pihak lawan. Pihak lawan mulai terlihat bangkit dan ketika sudah mendapat giliran sang guard lawan menyerang tanpa ampun. Izam memberi kode ke Aulia yang telah bersiap dengan segerumbul balon air di tangannya. Izam menahan semua serangan lawan dengan tubuhnya. Perlahan-lahan mereka maju kedepan hingga hampir mendekati baris pembatas zona. Izam merasakan sakit terkena balon air semakin kuat namun ia tetap bisa melindungi dengan memberikan intruksi pada Aulia dengan jelas. Stok balon air lawan semakin menipis. Saat stok balon lawan sudah benar-benar habis langsung tanpa aba-aba Izam mengambil balon sebagian dari tangan Aulia dan segera menyingkirkan badannya dari Aulia sehingga Aulia bisa melempar balon ke penjaga gawang namun ditepis oleh guard. Izam yang menyingkir ke samping tadi melihat peluang yang sangat besar dari sisi samping dan langsung melempar balon tepat ke kaki penjaga gawang. Izam dan Aulia menang.
Kelompok Aulia diumumkan menjadi pemenang umum dalam outbond oleh rektor saat penutupan pengenalan kampus. Perwakilan kelompok diminta maju ke depan podium untuk menerima penghargaan. Kelompok kompak menunjuk Izam. Izam malu-malu maju ke depan walau masih sok tampak cool. Aulia terlihat senang. Mereka semakin akrab satu sama lain bahkan membuat grup kelompok dan meminta jangan melupakan satu sama lain meski perkuliahan dimulai besok.
“badanku sakit semua...” ujar Izam.
“...makanya aku sudah bilang aku tidak mau dia yang jadi penjaga gawangnya dulu”.
Mereka bertujuh sedang ngumpul setelah sebulan perkuliahan di kantin kampus.
“yaakk, dia mulai lagi” ujar Aulia geram dengan suara sepelan mungkin.
Izam bisa mendengar ucapan Aulia yang langsung membuat wajah ketusnya pada Aulia.
Sejak kemenangan itu hubungan Aulia dan Izam sudah membaik hanya saja sikap Izam memang masih rada cuek dan ketus pada anak-anak terutama pada Aulia. sejak itu pula Izam menjadi terkenal di fakultasnya sebagai maba atletis yang gesit dan cerdas. Banyak klub yang menawarinya untuk join namun seperti Izam benar-benar cuek dan tidak peduli sama sekali.
            “aku masih memikirkannya” ujar Izam saat ditanya Koko ia ingin masuk klub apa.
            “yasudah, satu lagi untuk yang itu juga jangan terlalu lama mikirnya, langsung pastiin dan ungkapin....”
            Hadi belum selesai bicara saat Izam sudah melempar tasnya ke arah Hadi yang membuat Aulia, Dasya, Jihan, dan Tika kaget sementara Hadi dan Koko tertawa ngakak.

-Missing You-

Senin, 12 Februari 2018

Aulia's Series #2


Partner in Crime, Aulia~
(Aulia’s Series)
Pesta pernikahan Zaki berlangsung lancar dan khidmat. Keluarga Zaki menyewa sebuah gedung pernikahan di kota itu. Aulia memandang dengan senyum melihat pengantin yang begitu serasi dan begitu manis. Aulia dan keluarganya turut membantu kelancaran pesta. Aulia diminta untuk bisa menjadi penjaga buku tamu seminggu sebelum hari H. Awalnya Aulia ragu tapi karena ia ingin menguatkan hatinya ia terima permintaan keluarga Zaki.
Aulia mendengar kabar dari umminya bahwa benar Zaki benar-benar total ingin berhijrah dulu karena melihat bagaimana indahnya kehidupan keluarga Aulia yang berusaha mengikuti sunnah dan sangat dekat dengan agama. Selama proses perubahannya itu sangat banyak pertentangan dalam hati Zaki namun ia kembali kuat untuk menapak jalan hijrah. Saat sudah diterima kerja di luar kota rupanya ada proposal yang masuk melalui murabi Zaki. Zaki sempat memikirkan lama karena Zaki merasa ada yang cukup mengganjal hatinya. Zaki juga mendiskusikan dengan orang tua Zaki hingga akhirnya Zaki memutuskan untuk menerima proposal itu dan terjadilah pernikahan ini.
Aulia sudah bersiap untuk menuju ke tempat buku tamu. Ia juga sudah didandan cukup oleh perias pesta. Saat selesai dirias ibu Zaki memuji Aulia yang terlihat cantik walau dengan sedikit make up dan hijab yang dibentuk modern namun masih tetap syari. Dengan tergesa Aulia berjalan cepat menuju tempat meja tamu.
“aduh, saya belum bilang kalo Aulia bakal ditemani sama salah satu sepupunya Airin” ujar ibu Zaki.
“tidak apa-apa, Aulia bisa kok, tidak akan jadi masalah, nanti saya akan coba bilang ke dia” ujar Ummi Aulia.
Aulia sudah berada di tempat meja tamu dengan senyumnya. Satu persatu tamu sudah mulai berdatangan walau masih belum terlalu ramai. Saat sedang mempersiapkan souvenir Aulia melihat sosok seseorang datang menuju ke arahnya. Aulia merasa seperti pernah melihat orang itu disuatu tempat tapi lupa dimana. Orang yang sedang ditatap Aulia semakin lama semakin dekat. Hingga mereka sudah berhadapan satu sama lain barulah Aulia sadar siapa orang itu. Matanya membulat, wajahnya merah. Orang itu membuka mulutnya sama menatap heran Aulia juga.
“Aulia ?” tanya orang itu.
“Yeni ?” tanya Aulia.
Aulia tersedak sementara orang yang Aulia panggil dengan nama Yeni tersebut menutup mulutnya lalu tertawa. Setelah menenangkan tersedaknya Aulia menatap Yeni dengan seksama. Yeni, partner in crime Aulia pada masa SMP.
Semua bagai flashback bagi Aulia. Aulia kembali ke masa-masa yang menurutnya adalah yang paling indah dalam hidupnya. Masa dimana saat itu Aulia sedang bandel-bandelnya menurut Aulia. Ditambah saat itu Aulia bertemu dengan Yeni dan beberapa teman-teman Aulia yang lain. Walau Aulia dan Yeni bersekolah di SMP-IT khusus wanita namun tetap saja Aulia punya masa-masa nakal dan jahil dalam hidupnya kala itu.
Aulia baru kelas 1 saat itu. Mereka yang kelas satu diminta berbaris dilapangan oleh Ustadzah* dan senior. Aulia berbaris dibarisan ke enam. Saat itu tiba-tiba ada yang mencolek pundaknya. Aulia menoleh kebelakang dan langsung menatap wajah manis seseorang itu. Ya, orang itu adalah Yeni. Yeni tersenyum dan memberikan sesuatu kepada Aulia. Sebuah permen lotte yang sudah keluar ujungnya langsung diambil Aulia tanpa ragu karena bosan dengan acara yang berlangsung. Pekik Aulia langsung menggema ketika ia tahu bahwa yang diambilnya bukanlah permen melainkan muncul sebuah kecoa mainan yang melekat pada jarinya. Aulia langsung melempar jauh permen yang ada kecoa mainan tersebut masih dengan pekiknya sementara Yeni tertawa dibelakangnya. Acara yang sebelumnya berlangsung senyap langsung gaduh karena suara pekik Aulia yang sangat nyaring. Beberapa senior langsung terlihat berjalan mendekati Aulia. Acara menjadi sedikit terganggu karenanya.
Aulia dan Yeni sudah berada diruang BK sekarang. Seorang ustadzah masih mencatat sesuatu di meja.
“aku minta maaf” bisik Yeni.
Aulia masih membuang muka tidak menatap Yeni sama sekali. Aulia masih kesal karena dikerjai oleh Yeni.
“aku melihatmu sudah menunduk menahan kantuk. Kepalamu akan sakit jika kau terus memaksa seperti itu” ujar Yeni masih secara bisik.
Aulia terdiam. ‘benar juga, aku bahkan sampai lupa bahwa aku hampir tertidur saat acara tadi’ ujar Aulia dalam hatinya.
“tetapi tetap saja, itu tadi keterlaluan” ujar Aulia dengan berbisik pula.
Yeni terkikik sejenak.
“tapi seru kan” ujar Yeni.
“hei kalian, masih bisa-bisanya ngobrol saat begini” ujar Bu Rini, salah seorang ustadzah BK.
“kalian akan diberi tugas untuk menghapal sebuah surat dan harus menyetorkan hapalan kalian ke ibu minggu depan. Kalian berdua”
Aulia dan Yeni tampak menunduk. Mereka berdua sudah dipersilahkan untuk keluar dari ruang BK. Aulia berjalan didepan meninggalkan Yeni. Namun Yeni berusaha menyusul Aulia.
“namaku Yeni, aku dikelas yang sama denganmu, aku tidak tahu namamu” ujar Yeni dari jauh yang masih diabaikan Aulia.
Dikelas diam-diam Aulia memperhatikan Yeni. Yeni orang yang supel dan ceria. Ia bisa dengan mudah beradaptasi dengan siapapun termasuk dengan para ustadzah. Dalam seminggu para rekan seangkatan mereka dan beberapa senior langsung terlihat akrab dan tahu nama Yeni padahal ia baru duduk dikelas satu. Yeni juga tipe yang sedikit jahil dan bisa melontarkan guyonan lucu pada teman-temannya.
“Aulia, kamu harus cobain coklat ini deh” ujar Yeni saat mereka hendak menyetor hapalan mereka.
“nggak mau. Ntar aneh-aneh lagi” ujar Aulia.
“yaudah” ujar Yeni sambil memakan coklat yang dipegangnya.
Mereka terdiam. Yeni tampak menatap seseorang. Aulia ikut menatap ke arah pandangan Yeni.
“kamu tahu dia, dia senior kita di tingkat 2, orang-orang bilang dia si perfeksionis. Panikan banget kalo ada hal yang luput dari perkiraannya, tapi tenang dia tetap orang baik kok” ujar Yeni.
“kamu ghibah ih” ketus Aulia.
“yee, enggak gitu juga, aku Cuma penasaran aja, bentar deh pas dia lewat sini”
“kamu gak usah iseng-iseng sama senior” cegah Aulia.
Namun Yeni seperti tidak mendengarnya. Saat senior mereka lewat Yeni langsung berdiri dengan coklat yang sudah ia lumatkan ditangannya. Yeni berpura-pura jatuh hingga tangannya menggapai bagian belakang rok senior tersebut. Coklat yang ia lumurkan ditangannya sontak mengotori bagian belakang rok senior itu. Senior itu kalang kabut mengeluarkan kata-kata kesalnya pada Yeni. Semua orang disekitar mereka terperangah dengan apa yang mereka lihat termasuk Aulia. Yeni sembari menahan tawa diam mendengar semua ocehan senior itu.
Aulia sekilas melihat sesuatu di belakang senior tersebut berupa bercak merah pada bagian belakangnya. Aulia menutup mulutnya. Aulia hendak tertawa tapi berusaha kuat menahan tawanya. Aulia terdiam sejenak kemudian mendekati Yeni dan senior yang masih terlihat kesal itu.
“kakak jangan marah sama dia. Kupikir kakak akan mengerti ketika sudah mencuci rok kakak” ujar Aulia kalem.
“apa maksudmu ? aku tidak mengerti”
“bukankah sudah kubilang kakak akan mengerti saat kakak mencuci rok kakak, nih aku tambahin biar kakak lebih cepat mencuci rok kakak” ujar Aulia sambil menyiram air minumnya pada bagian belakang rok senior tersebut.
Semua orang semakin terperangah termasuk Yeni. Aulia dengan cepat meraih tangan Yeni dan langsung berlari kencang dengan Yeni menyisakan senior tadi yang semakin merah mukanya. Namun senior tadi ketika melihat roknya ia menyadari sesuatu. Ya, darah haidnya yang tembus pada roknya yang sedikit tertutupi dengan coklat dan air yang diberikan Yeni dan Aulia tadi.
Aulia dan Yeni sudah kembali ke kelas. Mereka terdiam satu sama lain sebelum akhirnya tertawa lepas. Tangan mereka masih saling menggenggam sembari mereka mengatur napas mereka.
“kau curang, seharusnya kau tidak memberitahu dia” ujar Yeni sambil memukul pelan lengan Aulia.
Aulia tertawa lepas. sejak itu mereka menjadi teman satu sama lain. Yeni sebenarnya bermaksud baik Cuma mengutarakannya secara jahil dan penuh canda. Aulia yang penasaran bertanya kenapa Yeni berbuat seperti itu. Yeni langsung mengatakan bahwa ia bosan dengan yang biasa-biasa saja.
“tapi jangan sampai terlalu keterlaluan ya” ujar Aulia.
“maka dari itu aku butuh kamu, untuk ngingetin aku kalo aku nyerosok takutnya besok, haha” gelak Yeni.
“kamu itu susah dikasi tahu, percuma” geleng Aulia sambil tersenyum menatap sahabatnya.
Kelas Aulia sedang melakukan sebuah praktikum di lab Boga. Mereka akan bereksperiman membuat sebuah desert dari coklat. Aulia dan Yeni berbeda kelompok. Saat sudah selesai Aulia masih melihat Yeni yang fokus pada kegiatannya membuat sebuah coklat. Aulia mendatangi Yeni dan melihat hasil coklat yang tampak bagus. Aulia hendak mengambil sepotong coklat itu saat Yeni pergi mencuci tangannya. Aulia sudah akan memakan coklat itu sampai tangan yeni menyelanya.
“kenapa ?” tanya Aulia.
“kenapa kau mau makan ini, ini tanah liat” ujar Yeni sambil membelah coklat yang ada ditangan Aulia.
Aulia membulatkan matanya. Didalam coklat yang sudah mengeras ada bentukan persegi tanah liat yang dilapisi coklat diluarnya.
“aku akan menyimpannya di lemari pendingin untuk kugunakan besok, ini akan jadi eksperimen ku yang akan kugunakan untuk coklat gratis mereka yang merayakan valentine bentar lagi” gelak Yeni yang disambut Aulia dengan tawa.
Aulia mengerti akan maksud Yeni. Esoknya mereka berdua langsung pergi menuju keramaian kota dan langsung membagikan ‘coklat’ gratis kepada siapapun yang mau mengambilnya. Mereka hanya berdiam sembari memegang coklat di tangan kanan dan tangan kiri memegang flyer bertuliskan ‘coklat gratis untuk valentinemu’. Dalam hitungan menit coklat mereka ludes diambil oleh masyarakat. Dengan cepat pula mereka langsung pergi melarikan diri dan menatap dari jauh ekspresi orang-orang yang baru saja memakan coklat mereka. Aulia dan Yeni tertawa ngakak. Beberapa orang terlihat berusaha mencari keberadaan Aulia dan Yeni namun mereka dengan cepat lari dan pulang kerumah masing-masing.
Esoknya sekolah diramaikan dengan kedatangan beberapa tamu dari luar yang komplain dengan kelakuan iseng Aulia dan Yeni yang membagikan coklat tanah liat tersebut.
“kenapa Anda berpikir anak-anak itu dari SMP kami ?” tanya Ustadzah kepala.
“karena mereka memakai pakaian anak SMP disini” teriak tamu tersebut dengan protes.
“jadi hanya karena itu kalian berasumsi, mereka hanya anak-anak, bukan ?” ujar Ustadzah kepala kalem.
Tamu tersebut mengeluarkan sebuah foto yang diambil dari CCTV tokonya yang tepat mengambil gambar Aulia dan Yeni yang menjajakan coklat tanah liat tepat didepan toko miliknya kala itu. Ustadzah kepala tetap tenang dan tersenyum simpul. Ustadzah kepala langsung meminta Ustadzah Rini untuk memanggil Aulia dan Yeni. Aulia dan Yeni sudah diruangan. Para tamu langsung menunjuk bahwa benar Aulia dan Yeni lah anak-anak nakal pemberi coklat tanah liat gratis itu dengan marah.
“coba tenang dulu, kalo boleh saya bertanya mengapa Anda mau untuk mengambil coklat itu dari mereka”, ujar Ustadzah kepala tenang.
“ya, karena itu gratis, jadi apa salahnya”
“kalo anda lihat dari gambar ini, bukankah mereka membawa flyer ‘coklat gratis untuk valentinemu’, bukan ?” tanya Ustadzah kepala.
“benar” ujar mereka heran.
“anda Islam ?”
“i,iya”
“lalu kenapa anda mengambilnya ? bukankah dalam islam dilarang untuk ikut perayaan ini termasuk ikut-ikutan dalam coklatnya, karena coklat mereka ini juga berbau valentine, bukan ?”
“ya, itu...”
“maaf, Bu, bukan bermaksud membela anak-anak didikku, tapi apa yang mereka lakukan sekedar ingin mengingatkan masyarakat akan maksud dari tidak bolehnya kita merayakan valentine itu sendiri, karena kita orang islam, makanya mereka membuat coklat prank itu...”
“...maksud saya, ini baru coklat tanah liat, bagaimana dengan coklat gratis lainnya diluar sana, apakah anda yakin itu halal, bagaimana jika coklat gratis itu malah mengandung unsur haram seperti minyak babi dan sebagainya, apa anda akan bisa menuntut itu karena itu justru sangat tidak terlihat, kan ?” ujar Ustadzah kepala.
“jadi kupikir ini tidak ada masalah sama sekali, kuharap anda mengerti, tapi anda tenang saja, pihak kami akan tetap memberi mereka hukuman kok” ujar Ustadzah kepala.
Ibu-ibu yang marah tadi terdiam mendengar penjelasan ustadzah kepala. Mereka juga tak banyak menuntut lagi ketika ibu kepala mengatakan akan tetap menghukum Aulia dan Yeni. Setelah ‘para tamu’ tadi pulang Ustadzah kepala kembali menatap Aulia dan Yeni. Sesaat kemudian Ustadzah kepala mengacungkan kedua jempolnya dihadapan Aulia dan Yeni.
“kalian dihukum untuk kembali membuat coklat tanah liat tahun depan untuk dibagikan lagi seperti ini, tapi targetnya harus anak muda kalo bisa, ya” ujar Ustadzah kepala yang langsung membuat Aulia dan Yeni membelalakkan matanya. Ustadzah kepala tersenyum manis sebelum meninggalkan ruangannya.
“jadi sekarang kita bertemu disini, aah masa itu benar-benar masa yang sangat asyik dalam hidupku...” ujar Aulia.
“...apa kau masih sering melakukan ‘prank’ seperti dulu ?” tanya Aulia.
Yeni menggerakkan matanya dengan senyum jahilnya. Banyak yang ingin mereka ceritakan sepanjang mereka sama-sama menjadi penyambut tamu. Aulia benar-benar rindu dengan sahabatnya yang satu ini. Tak henti-hentinya ia pandangi sahabatnya.
“hei kau tidak ingin berbuat ‘sesuatu’ pada pesta ini ?” tanya Aulia iseng.
“hmm, ingin sih, tapi nanti kita bakal kena balasan yang lebih greget lagi ntar”
“maksudmu ?”
“yah, ‘mentor’ yang mengajariku semua metode ‘prank’ itu sedang menjadi ratunya pesta hari ini” ujar Yeni mengerutkan keningnya.
Aulia menutup mulutnya. Mereka berdua tertawa bersama.   

-Dramarama-

Rabu, 31 Januari 2018

Aulia's Series #1


Ikhlaskan Saja, Aulia~
(Aulia’s Series)
Aulia berjongkok dipelataran kebun belakang rumahnya. Ia membawa baskom pasir tempat pup beberapa kucing peliharaan keluarganya. Ia mengambil sekop dan mengeluarkan beberapa pup kucingnya. Cantiknya langit sore kali ini tidak bisa ia nikmati karena bau dari pup kucing yang langsung dirasakan oleh hidungnya. Beberapa kucingnnya bermain di dekat kakinya. Aulia tersenyum melihat semua tingkah lucu kucing-kucingnya.
“karena itulah aku mencintai kalian, bahkan aku mencintai pup kalian” ujar Aulia simpul.
Aulia mengais tempat pup dengan sekop mencari beberapa pup kecil yang telah tercampur dengan pasir hingga sebuah suara mengagetkannya.
“karena itulah kau tak pernah pergi-pergi keluar rumah dengan teman-temanmu...”
“...kau terlalu sibuk mengurus anak-anakmu dirumah rupanya”
Aulia menoleh. Ia melihat seseorang yang sedang berada di atap rumah dengan pakaian ala tukang dan sedang memegang peralatan bertukang lengkap dengan palu dan topi tukangnya. Aulia tersenyum remeh.
“wah, aku tidak tahu kalo kera juga bisa ngomong” ejek Aulia.
“hei, jaga bicaramu dengan orang yang lebih tua”
“sudah tahu tua, masih aja sok-sok-an manjat genteng”
Seseorang itu tertawa. Ia masih terlihat memukul genteng dengan palunya memasang beberapa paku.
“kapan abang pulang ?” tanya Aulia.
“nanti saja setelah kuselesaikan pekerjaanku. Kau pun selesaikan dulu pekerjaanmu, pembersih pup kucing” ejek seseorang itu.
Aulia mengatupkan bibirnya. ‘dasar!’ ujarnya dalam hati. Ia kembali jongkok untuk membuang bersih semua pup kucingnya sementara seseorang itu masih terkekeh sembari sesekali melirik Aulia dari atas genteng rumah.
Seseorang tadi adalah bang Zaki. Zaki merupakan tetangga sebelah rumah Aulia. Keluarga Zaki pindah ke lingkungan rumah Aulia saat Aulia duduk dibangku kelas 2 SMA. Sekarang Aulia tengah duduk di bangku kuliah semester 6 sementara Zaki sudah bekerja. Setelah lulus kuliah di bidang ekonomi bisnis Zaki langsung diminta untuk menjadi salah seorang pegawai Bank di kota itu namun hanya dua tahun berselang Zaki memutuskan keluar dari pekerjaannya. Sekarang Zaki hanyalah seorang pengangguran dan sedang mencoba peruntungannya dengan mencari pekerjaan lain diluar kota sejak lima bulan lalu. Namun kali ini ia menyempatkan pulang kerumahnya.
“jadi kenapa seorang lulusan cumlaude dari universitas negeri ternama di kota ini sekarang malah memutuskan menjadi seorang tukang genteng dikompleks kita ?” tanya Aulia.
Zaki tertawa renyah. Ia membuka tenong yang dibawa Aulia dari rumahnya. Mengetahui Zaki pulang membuat umminya Aulia langsung membuat beberapa kue dan makanan. Aulia mencibir kenapa umminya lebih menantikan kepulangan Zaki ketimbang memikirkan Aulia. Aulia masih menatap Zaki yang kini melahap habis satu kue besar kedalam mulutnya.
“wah, kue buatan ummi mu benar-benar terbaik, Ya”
“jadi kenapa ?” desak Aulia.
“yah, dia sudah punya pemikirannya sendiri, Ya, ibu pun udah capek nyaranin dia cari kerja ini cari kerja itu aja, eh dianya yang, yaah begitulah, banyak maunya” ujar ibu bang Zaki.
Aulia memandang ibu Zaki. Ayah Zaki sedang dinas sementara diluar kota. Zaki memiliki seorang kakak perempuan dan seorang adik laki-laki. Kak Ayu, kakak perempuan Zaki telah menikah dan ikut suaminya tinggal diluar kota sementara adik laki-laki Zaki sedang menginjak bangku SMP. Sejak kepindahan keluarga Zaki di dekat rumah Aulia membuat keluarga Aulia dan keluarga Zaki bagai saudara dekat. Mereka sangat akrab satu sama lain. Apalagi Aulia memiliki seorang adik laki-laki yang seusia juga dengan adik laki-laki Zaki.
“yang diluar kota, gimana jadinya ?”
“sedang abang coba, kamu doain aja” ujar Zaki kalem.
“artinya bang Zaki akan kerja diluar kota dong”
Zaki terlihat mengangguk. Aulia tersenyum simpul sambil memandang kue buatan umminya. Tak lama Aulia pamit dari kediaman Zaki dan pulang menuju rumahnya yang berkisar hanya 20 langkah dari rumah Zaki. Itu benar-benar sudah dihitung oleh Aulia. Aulia berjalan pelan. Matanya menerawang jauh. Perlahan Aulia menghembuskan nafasnya pelan. Ia tertawa sendiri.
‘kenapa ? kan bagus kalo bang Zaki akhirnya bisa mendapat pekerjaan’ ujar Aulia didalam hatinya. Aulia bisa merasakan hatinya sedikit nyilu memikirkan Zaki tidak akan bisa ia lihat lagi jika benar Zaki akan bekerja diluar kota.
Ya, sejak setahun kepindahan keluarga Zaki saat itu membuat Aulia sering memperhatikan Zaki. Ia berusaha kuat menahan perasaannya yang semakin aneh apalagi saat bang Zaki bergurau dan berbicara padanya. Kenyataan bahwa mereka bertetangga semakin membuat Aulia sulit mengatur perasaannya. Ia tidak mungkin bersikap jutek dan cuek dengan Zaki yang sudah dianggap anak oleh orangtua Aulia. Begitupun juga Aulia yang sudah bagai anak oleh orangtua Zaki dan Zaki bagai memandang Aulia itu adalah adiknya.
Zaki benar-benar diterima kerja diluar kota. Kota itu adalah kota dimana tempat Zaki tinggal sebelum keluarganya pindah ke kota yang sekarang. Zaki tinggal dirumah lamanya yang ada di Kota itu. Aulia kerap mendapat kabar dari umminya kalo Zaki benar-benar nyaman bekerja ditempat barunya sekarang.
“apa bang Zaki benar-benar hijrah dan ‘nyunnah’ sekarang ummi ?” tanya Aulia pada umminya.
“ada apa kamu nanyain begitu ?”
“yah, kulihat bang Zaki benar-benar pemilih akan pekerjaanya, tuh kerja di bank dia tinggalin, penampilannya juga perlahan berubah, kan”
“ya bagus dong kalo itu niatnya Zaki. Kerja itu yang penting berkahnya sayang, rezeki itu udah ada Allah yang ngatur”
“iya, bagus deh” ujar Aulia sambil menerawang. Perlahan senyum mengembang di wajahnya.
Ummi Aulia bisa melihat ekspresi di wajah putrinya. Ummi tahu sejak beberapa tahun belakangan ini putrinya selalu tersenyum jika hal itu bersangkutan dengan Zaki dan terlihat seperti orang yang sedang menahan perasaannya saat Zaki datang kerumah atau saat berpapasan dengan Zaki.
Siang ini matahari bersinar cukup terik. Aulia sedang asyik membuat tugas kuliahnya sambil sesekali melirik pada kucing-kucingnya yang berkeliaran disekitarnya. Ia tersenyum dan sesekali memainkan penanya pada kucing yang langsung mengejar penanya. Tak lama kemudian Aulia mendengar pintu rumahnya diketuk seseorang. Ia bisa mendengar suara umminya berbicara dengan seseorang. Iseng Aulia berdiri dan melongok ke pintu kamarnya. Dari balik pintu kamarnya ia bisa menangkap sosok Zaki yang sedang berdiri berbicara pada umminya. Matanya Aulia membulat. Disamping Zaki juga berdiri ibunya Zaki. Ummi Aulia terlihat begitu senang dan menatap Zaki dan ibunya dengan mata membelalak. Aulia bisa melihat tingkah Zaki yang malu-malu dengan tangannya yang mengusap tengkuk kepalanya. Saat ummi Aulia dan ibunya Zaki segera duduk dimeja makan Aulia bisa melihat Zaki menghadapkan kepalanya ke samping dan mata Zaki menangkap sosok Aulia yang sedang mengintip.
Aulia menangkap mata Zaki. Dengan cepat Aulia segera menutup pintu kamarnya dengan keras. Ia terlihat begitu malu karena ketahuan mengintip padahal ia sedang dirumahnya sendiri. Aulia bisa merasakan gemuruh di dadanya. Ia sedikit heran ada apa diluar sana namun hati kecilnya mengatakan tidak usah keluar. Aulia memegang kepalanya. ‘ada apa dengan tatapan bang Zaki tadi ?’ tanyanya dalam hati. Aulia menggelengkan kepalanya. Kucing-kucingnya bergerumul manja dibawah kakinya saat ini.
 Malam telah tiba. Ummi sedang asyik berceloteh dengan abi sementara adik laki-laki Aulia masih asyik dengan gadgetnya. Aulia masih makan di meja makan.
“...iya beneran abi, apalagi dia udah terlihat siap nikah, kan bagus” ujar ummi Aulia.
Aulia mengintip dari balik dapur. ‘nikah ? ummi sedang bicarain nikah sama abi’ ujar Aulia dalam hatinya. Aulia segera menyelesaikan makannya.
“ummi lagi bicarain apa sama abi ?”
Ummi memandang Aulia. Abi masih asyik dengan buku yang ada ditangannya.
“nah ini nih, kamu udah semester 6, cepet siapin kuliahnya biar bisa langsung juga”
“langsung apaan, ummi ?” tanya Aulia.
“kamu mau nikah, kan ?” tanya ummi.
Serrr. Degub jantung Aulia bergetar. Ia terlihat malu-malu sekarang.
“tuh tuh, kamu mulai malu-malu”
“iya bener anak abi mau nikah ?”
Aulia terdiam sejenak. Ia ingat akan kedatangan Zaki dan ibunya tadi kerumah juga dengan ekspresi kaget ibunya. Jantung Aulia semakin berdegub kencang. Ia mencoba menahan perasaannya dan mencoba mengatur logikanya se-realistis-mungkin.
“ya, ya maulah abi. Emang udah ada yang nanya ?” tanya Aulia tergagap.
“hmm, ya sebenernya calon yang ummi inginkan dari dulu untuk kamu udah ada, Cuma.. ya mungkin bukan takdir” ujar ummi pelan.
“maksud ummi ?” tanya Aulia.
Terlihat sedikit keraguan di wajah ummi. Aulia tidak mengerti apa-apa saat ini. Ummi mengambil sebuah kertas yang terlihat jelas itu merupakan kertas undangan. Ummi memberikan kertas itu ketangan Aulia. Aulia menghembuskan nafasnya. Matanya dengan jelas membaca nama yang tertera di kertas undangan itu.
Undangan Pernikahan.
Zaki dan Airin.
Aulia tersenyum. Senyum yang begitu simpul. Degub jantungnya semakin bertambah tak karuan. Matanya mulai hangat dirasakan oleh Aulia. Masih dengan senyuman Aulia memberikan kembali kertas undangan tadi pada umminya. Ia tidak mampu mengatakan apapun saat ini dan ia juga tidak mampu menangis disini. Aulia segera berdiri dan berjalan pelan menuju kamarnya. Abinya heran mengapa Aulia bersikap seperti itu sementara umminya hanya menatap Aulia sedih.
Aulia tidak tahu kenapa ia malah menangis saat ini dikamarnya. Kucing-kucingnya malah terlihat asyik bergelayut disekitarnya tanpa memperdulikan Aulia yang bersedih. Tak lama ummi datang ke kamar Aulia. Ummi tersenyum seadanya dan duduk mendekat pada Aulia.
“kenapa, kenapa aku nangis, ummi ?” tanya Aulia.
Ummi merangkul Aulia dan menepuk pelan pundak Aulia.
“karena kamu suka, kan, sama Zaki”
“entahlah, ummi, aku... entah kenapa kalo bang Zaki datang kerumah aku bawaannya senang dan sekarang disini rasanya sakit banget, ummi” ujar  Aulia sambil menunjuk dadanya.
“namanya suka ya wajar sayang, dan kamu berusaha menahannya itu bagus. Terlihat jelas banget tau sama ummi. Dan, ya, untuk sekarang mah ummi juga gak bisa apa-apa, toh Zaki udah memilih jalannya sendiri, kan, dan kamunya juga masih kuliah makanya ummi belum nanyain ke orang tua Zaki...”
“... ikhlaskan saja, ya sayang, yang namanya jodoh, rezeki, kematian, itu kita gak ada satupun yang tahu. Tapi itu semua sudah ada kepastian dan sudah di atur dengan sebaik mungkin oleh Sang Maha Pengatur, dengan sebaik-baik aturan-Nya, yaitu Allah SWT...”
“... kita hanya bisa ikhtiar, doa dan usaha, tapi apapun kita dapatnya, pasti itu yang terbaik yang dikasi Allah”
Aulia terdiam menatap lantai. Hatinya sedikit lebih lega mendengar ucapan dari ummi.
“apa aku bakal kuat ummi ?” tanya Aulia.
Ummi tersenyum.
“harus!, kamu harus kuat. Yakinlah bahwa Allah sudah mempersiapkan yang lebih baik untukmu dimasa depan. Apa yang menurutmu bagus belum tentu bagus disisi Allah, begitu pun sebaliknya. Apa yang menurutmu tidak bagus, belum tentu juga tidak bagus di sisi Allah. Allah mengetahui sedang kita tidak...”
“eh, Aulia inget gak, orang yang baik dan berusaha menjadi baik akan dipertemukan dengan jodoh yang baik, inget, kan ?” tanya ummi.
Aulia mengangguk. Ia tersenyum simpul. Aulia sadar permainan perasaannya saat ini hanyalah tipu daya setan terhadap dirinya. Ia bertekad untuk lebih menjaga hati dan pandangannya serta memperbaiki dirinya menjadi lebih baik lagi. Walau kini bayang-bayang Zaki masih ada pada kepalanya namun ia berusaha untuk perlahan melupakan Zaki.
“iya ummi, bang Zaki orang baik, tentu akan berjodoh dengan yang baik, tak sepatutnya juga aku menganggap semua ini salah, akulah yang salah” ujar Aulia.
Ummi tersenyum mendengar ucapan bijak putri semata wayangnya. Ia mengusap airmata Aulia dan memeluk Aulia sembari berharap esok hari seseorang yang baik hatinya mau datang mengetuk pintu rumah mereka untuk Aulia.


-Samudera Mengering-