Ingat Masa Ospek, Aulia~
(Aulia’s Series)
Aulia sudah terdaftar sebagai mahasiswi di salah satu
universitas negeri yang ada di kota tempat tinggalnya. Kala itu ospek pertama
Aulia di kampusnya. Aulia mempersiapkan segala atribut yang harus dikenakannya
selama ospek. Baju kemeja putih, jilbab hitam dengan rok hitam bagi mahasiswi
sedangkan untuk sepatu bebas. Abi sudah siap untuk mengantar Aulia menuju
kampusnya. Dengan memakan waktu kira-kira 20 menit Aulia sudah menjejakkan kaki
ke lokasi tempatnya menuntut ilmu. Aulia
mengambil jurusan Desainer karena memang minatnya ingin terjun di bidang
Fashion terutama untuk fashion muslim yang semakin marak saat ini.
Para mahasiswa dan mahasiswi baru sudah diperintahkan
untuk berbaris didepan gedung serbaguna. Aulia langsung segera mencari
rombongan dari jurusannya. Tak sulit untuk menemukan rekan-rekannya yang satu
jurusan dengannya. Saat tinggal 10 langkah lagi menuju barisan tiba-tiba
seseorang menabrak Aulia. Aulia tak seimbang dan langsung jatuh terduduk. Aulia
memandang orang yang memandangnya. Seorang lelaki berpakaian maba* sedang
menggenggam handphone dan terlihat
seperti sedang menelepon. Lelaki tersebut memandang Aulia sebentar sebelum
akhirnya menyahut kembali pembicaraannya di telepon dan berlalu meninggalkan
Aulia yang masih terduduk di lantai.
Aulia geram. Aulia berdiri dengan dibantu oleh dua
perempuan asing yang juga maba. Mata Aulia masih belum berhenti menatap bagian
belakang kepala botak lelaki tersebut. Bunyi peluit keras menandakan bahwa
acara pembukaan akan segera dimulai. Aulia segera menyerobot banyak orang
karena ia harus berburu segera berbaris di jurusannya.
Rektor mengatakan bahwa selama lima hari berturut-turut,
acara pengenalan kampus kepada mahasiswa baru akan dilaksanakan. Namun,
pengenalan kampus ini akan dilakukan dengan dicampurnya mahasiswa seluruh
jurusan untuk dibentuk berkelompok. Aulia sudah mendapat kartu yang berisi
nama-nama kelompok dan kakak pembimbingnya selama lima hari kedepan. Ada
seorang wanita yang satu jurusan dengannya sementara tiga orang pria dan dua
orang wanita lainnya merupakan mahasiswi jurusan dan fakultas lain.
Aulia bersama Dasya -teman sejurusan yang sekelompok
dengan Aulia, red- segera menuju ke kelas yang ditujukan untuk tempat berkumpul
kelompoknya. Saat sudah mencapai pintu mereka masuk dengan senyuman. Semua yang
ada dikelompok itu saling menyapa dengan ramah satu sama lain. Namun mata Aulia
membulat saat melihat seseorang itu dikelompoknya. Ya, lelaki yang menabraknya
hingga jatuh tadi pagi ada dikelompoknya.
Lelaki itu mahasiswa baru yang bernama Izam. Izam
sepertinya juga menyadari bahwa Aulia adalah orang yang ditabraknya pagi tadi.
Namun Izam terlihat hanya bersikap cuek seperti tak ada kejadian apapun. Hal
itu membuat kepala Aulia mendidih. Aulia segera mendekati Izam.
“hei, kamu itu yang nabrak aku tadi pagi!” ujar Aulia. Ia
masih terlihat berusaha menahan amarahnya.
“terus ?” tanya Izam.
“ya kamu harus minta maaf, kamu kan salah”
Nada bicara Aulia terlihat semakin meninggi yang langsung
membuat kakak pembimbing dan teman-teman Aulia menatap mereka sekarang.
“kamu juga salah, jalan gak lihat-lihat juga kok tadi
kamunya” ujar Izam membela.
Aulia mengatupkan kedua mulutnya. Ia benar-benar hendak
marah sekarang. Kakak pembimbing mendatangi mereka. Aulia menceritakan apa yang
terjadi. Izam juga tak mau kalah menimpali kalau Aulia juga salah. Kakak
pembimbing meminta Izam untuk meminta maaf saja sama Aulia.
“aku tidak mau, aku tidak salah sepenuhnya, dia juga
harus minta maaf”
‘what the!’
ujar Aulia dalam hatinya. Semua teman-teman kelompok masih menatap mereka.
Aulia menjadi tidak enak karena dirinya dan Izam membuat kegiatan hari pertama
sudah terganggu. Aulia menatap Izam sebentar sebelum akhirnya berlalu
meninggalkannya dan kembali ke tempat duduknya. Kakak pembimbing juga kembali
ke tempat dan langsung memberikah arahan untuk lima hari kedepan.
“jadi, selama lima hari esok kita semua akan bersatu
sebagai tim. Kakak dan abang ingin kalian semua itu kompak. Kalo ada
permasalahan yang menganggu, mari kita selesaikan bersama” ujar kak Risa, kakak
pembimbing kelompok Aulia.
Aulia masih terlihat kesal. Saat masuk Ishoma* kak Risa
dan bang Nanda langsung meminta Aulia dan Izam untuk menemui mereka selepas
shalat. Aulia sudah selesai shalat. Sambil membawa kotak bekalnya menuju lorong
kampus yang sejuk. Mata Aulia langsung menangkap wajah kak Risa yang melambai
ke arahnya. Aulia juga melihat Izam yang sudah duduk disamping bang Nanda
Kak Risa segera menanyakan permasalahan yang terjadi pada
Aulia dan Izam. Aulia mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak terlalu
mempermasalahkan kejadian tadi pagi.
“hanya saja tak ada tabiat baik dari Izam bahkan untuk
meminta maaf” ujar Aulia.
Izam hanya diam. kak Risa segera bertanya pada Izam apa
ia mau minta maaf.
“baiklah, aku minta maaf” ujar Izam.
Aulia ketus melihat permintaan maaf Izam yang terlihat
sangat tidak tulus. Namun ia tidak ingin berlarut-larut. Aulia mengangguk cepat
dan segera membuka kotak bekalnya. Ia sangat lapar sekarang.
Izam berdiri dan izin meninggalkan kak Risa, bang Nanda
dan Aulia. Ia tidak menatap Aulia sama sekali.
“lho, bukannya maba diminta membawa bekal” tanya bang
Nanda.
“gak sempat bang, aku duluan ya” ujar Izam segera
berlalu.
Setelah ‘permintaan maaf’ dari Izam tadi nyatanya tidak
membuat hubungan Aulia dengan Izam membaik. Izam masih saja terlihat ketus
kepada Aulia. Aulia berusaha menahan kesalnya karena jika ia bersikap ramah
dengan tersenyum kepada Izam hanya akan membuat dirinya menjadi orang bermuka
dua dan senyum dari Aulia pun hanya akan dibalas cuek oleh Izam.
“ah, aku tidak tahu lagi, Sya, entah siapa yang salah
sekarang” ujar Aulia kepada Dasya.
“sabar aja Ya, mungkin dia lagi ada masalah makanya
seperti itu”
“iya, dan masalahnya itu sama aku, dengan kalian dia bisa
bersikap seperti seorang teman, dengan aku ? dia palingin wajah terus dari aku”
keluh Aulia.
Dasya hanya bisa diam dan menatap Aulia dengan lirih.
Aulia terlihat sedih sekarang.
“tetaplah berbuat baik kepadanya, Ya, mungkin suatu saat
Allah merubah hatinya” ujar Dasya pelan.
Mereka sudah berkumpul. Ini hari ke empat pengenalan
kampus. Esok adalah hari terakhir dan itu akan diisi dengan outbond kelompok.
‘well, akhirnya ini akan berakhir juga’ ujar Aulia dalam hatinya. Ia sudah
cukup lelah terus sekelompok dengan Izam. Aulia menyemangatkan hatinya untuk
besok karena esok adalah hari pembebasannya.
Outbond sudah dimulai. Beberapa permainan ada yang bisa dimenangkan
oleh kelompok Aulia hingga mereka bisa melaju ke final. Permainan yang
dimainkan di final adalah perang balon air. Ada peraturan dimana jika mengenai
sang penjaga gawang maka kelompok tersebut akan kalah. Aulia mengajukan diri sebagai
penjaga gawang. Awalnya Izam menolak dan meminta yang lain saja. Kembali mereka
cekcok dan Aulia kekeuh ingin jadi penjaga gawang. Izam terlihat sangat geram.
Teman-teman yang lain ‘mendinginkan’ mereka dan membujuk Izam supaya membiarkan
Aulia yang menjadi penjaga gawang. Izam diam dan segera mengambil posisinya.
Persiapan balon yang berisi air sudah dipersiapkan sebanyak mungkin untuk
masing-masing kelompok. Siapa yang berhasil mengenai sang penjaga dengan balon
air tersebut artinya kelompok sang penjaga itu kalah. Intinya jangan biarkan
sang penjaga itu basah. Permainan sudah dimulai dan langsung riuh dan suara
pecah balon air dan basahnya anak-anak yang bermain. Bagi yang sudah lima kali
terkena balon air maka otomatis dia diharuskan out dan berdiri di belakang
baris pertahanan lawan untuk membantu temannya yang masih bermain seperti
permainan dodgeball*. Sedangkan satu
orang terakhir yang tersisa tidak bisa out karena menjadi guard untuk penjaga.
Aulia masih bertahan dengan kondisi kering. Ia cukup
gesit walau bermain menggunakan rok. Teman-teman kelompoknya berusaha
melindunginya kecuali Izam. Sedikit pun Izam tak pernah berusaha dekat dan
melindunginya. Namun Izam juga masih belum out dan basah sama sekali karena
gesit dan lincahnya. Izam sudah berhasil melumpuhkan seorang pemain lawan
dengan mengenainya balon air sebanyak lima kali. Kelompok Aulia semakin garang
menyerang. Namun tiba-tiba kelompok lawan merubah taktik mereka. Mereka
mengikut gaya Izam memburu habis-habisan satu orang lawan terlebih dahulu.
Perlahan-lahan dua orang anggota kelompok Aulia out, salah satunya Dasya. Izam
masih berusaha menyerang walau orang-orang mulai menyerangnya dan menyerang
Aulia. Izam dan empat orang lain masih menyerang. Mereka mengenai kelompok
lawan hingga dua orang juga out. Kelompok lawan tak ambil pusing karena yang
tersisa memang yang gesit dan kuat. Mereka balas menyerang dan berhasil
mengenai dua orang kelompok Aulia secara telak. Tinggal Aulia, Izam dan seorang
perempuan dari jurusan lain yang bernama Tika. Tika sangat berusaha melindungi
Aulia sementara Izam masih fokus menyerang dua pemain lawan. Izam bertempur
habis-habisan dari menjaga agar bola tidak mengenainya dan melempar tepat bola
ke arah lawan. Dua orang dari lawan out olehnya namun Tika juga out dibuat oleh
lawan karena melindungi Aulia terus-terusan.
Pluit istirahat berbunyi. Saat ini skor seri antara
kelompok Aulia dengan kelompok lawan. Anggota kelompok Aulia segera
mengerubungi Aulia dan Izam untuk menyemangati mereka berdua. Aulia menatap
Izam. Izam juga menatap Aulia. Izam otomatis menjadi guard yang akan melindungi
Aulia sampai Aulia out terkena balon air sedangkan Izam tidak akan out sama
sekali. Baru saja Aulia hendak berbicara, Izam sudah memotong ucapannya duluan.
“kau jangan bandel, jangan menjauh dan ikut semua
intruksiku, aku tak akan menyentuhmu sama sekali asal kau bisa peka mendengar
semua ucapanku. Kau dengar! semua ucapanku! Kalo kau ingin kelompok kita
menjadi pemenang umum” ujar Izam ketus namun Izam terlihat serius saat ini.
Aulia bisa melihat sorot kompetitif di mata Izam. Tampak
jelas Izam tak setengah-setengah dan ingin menang dalam rangkaian acara outbond
ini mengingat mereka yang berhasil masuk final dan memang salah satunya berkat
Izam yang atletis dan cerdas. Aulia juga berpikir bahwa Izam benar. Tidak
mungkin ia membiarkan Izam menyentuhnya hanya untuk melindunginya. Ini hanya
permainan. Syariat tetap syariat. Dalam hatinya Aulia sedikit tersentuh Izam
mau mengerti akan keadaannya sebagai seorang muslimah.
“makasih” ujar Aulia.
Teman-teman yang lain saling pandang melihat Izam dan
Aulia yang sangat mereka harapkan untuk akur dan tidak cekcok lagi. Izam segera
menjauh dari kelompok untuk meregangkan ototnya. Ia tampak bersemangat
sekarang.
Peluit tanda istirahat habis berbunyi. Tak langsung lama
mereka memulai permainan. Suit pihak lawan menang. Pihak lawan langsung
menggempur Izam dan Aulia habis-habisan. Guard lawan yang berbadan kekar
melempar balon air cukup kuat mengenai pundak Izam yang sangat cepat refleks
melindungi Aulia. Seperti yang dikatakan Izam, Aulia hanya perlu mendengar
semua ucapan Izam.
“Aulia kekananmu....”
“Aulia mundur ke belakang....”
“....loncat Aulia...”
“.....awas, kekiri cepat!....”
Dan teriakan lainnya dari Izam sambil terus mengorban
dirinya basah terkena balon air. Tak sedikitpun Izam menyeret paksa tangan
Aulia untuk mengikuti intruksinya karena Aulia langsung gesit mengikuti semua
ucapan Izam.
Pihak guard lawan terlihat semakin kesulitan menembus
dinding pertahanan Izam. Izam melihat kesempatan itu. Ia berbisik pelan ke
Aulia. Aulia menatap Izam yang benar-benar basah dan juga lelah. Aulia
mengangguk mantap mendengar strategi yang diberikan Izam.
Izam menyerang dan terus berusaha mencari celah dari
pihak lawan. Pihak lawan mulai terlihat bangkit dan ketika sudah mendapat
giliran sang guard lawan menyerang tanpa ampun. Izam memberi kode ke Aulia yang
telah bersiap dengan segerumbul balon air di tangannya. Izam menahan semua
serangan lawan dengan tubuhnya. Perlahan-lahan mereka maju kedepan hingga hampir
mendekati baris pembatas zona. Izam merasakan sakit terkena balon air semakin
kuat namun ia tetap bisa melindungi dengan memberikan intruksi pada Aulia
dengan jelas. Stok balon air lawan semakin menipis. Saat stok balon lawan sudah
benar-benar habis langsung tanpa aba-aba Izam mengambil balon sebagian dari
tangan Aulia dan segera menyingkirkan badannya dari Aulia sehingga Aulia bisa
melempar balon ke penjaga gawang namun ditepis oleh guard. Izam yang menyingkir
ke samping tadi melihat peluang yang sangat besar dari sisi samping dan
langsung melempar balon tepat ke kaki penjaga gawang. Izam dan Aulia menang.
Kelompok Aulia diumumkan menjadi pemenang umum dalam
outbond oleh rektor saat penutupan pengenalan kampus. Perwakilan kelompok
diminta maju ke depan podium untuk menerima penghargaan. Kelompok kompak
menunjuk Izam. Izam malu-malu maju ke depan walau masih sok tampak cool. Aulia
terlihat senang. Mereka semakin akrab satu sama lain bahkan membuat grup
kelompok dan meminta jangan melupakan satu sama lain meski perkuliahan dimulai
besok.
“badanku sakit semua...” ujar Izam.
“...makanya aku sudah bilang aku tidak mau dia yang jadi
penjaga gawangnya dulu”.
Mereka bertujuh sedang ngumpul setelah sebulan
perkuliahan di kantin kampus.
“yaakk, dia mulai lagi” ujar Aulia geram dengan suara
sepelan mungkin.
Izam bisa mendengar ucapan Aulia yang langsung membuat
wajah ketusnya pada Aulia.
Sejak kemenangan itu hubungan Aulia dan Izam sudah membaik hanya saja sikap
Izam memang masih rada cuek dan ketus pada anak-anak terutama pada Aulia. sejak
itu pula Izam menjadi terkenal di fakultasnya sebagai maba atletis yang gesit
dan cerdas. Banyak klub yang menawarinya untuk join namun seperti Izam
benar-benar cuek dan tidak peduli sama sekali.
“aku masih memikirkannya”
ujar Izam saat ditanya Koko ia ingin masuk klub apa.
“yasudah, satu lagi untuk
yang itu juga jangan terlalu lama mikirnya, langsung pastiin dan ungkapin....”
Hadi belum selesai bicara
saat Izam sudah melempar tasnya ke arah Hadi yang membuat Aulia, Dasya, Jihan,
dan Tika kaget sementara Hadi dan Koko tertawa ngakak.
-Missing You-


