Senin, 04 Maret 2019

PURNAMA KE-1



PURNAMA KE-1

Lingga. Gadis manis yang sekarang duduk dibangku perkuliahan jurusan keguruan semester 6. Lingga berjalan santai menuju suatu tempat konferensi pemuda yang diselenggarakan oleh instansi internasional yang menaungi pergerakan pemuda masa kini.

Lingga memasuki gedung serba guna tersebut dan langsung memilih tempat duduk yang ada ditengah-ditengah ruangan. Ia membuka laptopnya ingin mengerjakan beberapa tugas mata kuliahnya. Semester besok ia sudah mulai untuk praktek lapangan ke sekolah.

Lingga sedang browsing sesuatu hingga tiba-tiba layar laptopnya menegang dan tiba-tiba muncul sebuah situs iklan yang tak sopan. Iklan tersebut memunculkan sebuah gambar yang erotis. Belum sempat kagetnya hilang tiba-tiba dari speaker laptopnya terdengar bunyi mendesah dari gambar iklan tersebut. Lingga panik dan berusaha memperbaiki laptopnya namun sia-sia. Laptopnya tegang. Suara mendesah itu makin kuat terdengar didalam ruangan dengan suara speaker Lingga yang full on 100. Tanpa banyak tingkah Lingga segera mencabut paksa baterai laptopnya dan menutup laptopnya keras.

Lingga terpaku. Napasnya naik turun. Ia melihat sekeliling. Lingga berharap ia hanya sendirian diruangan ini. Saat hendak bernapas lega saat matanya menangkap sebuah wajah yang melirik ke arahnya. Seorang lelaki bertopi hitam menatapnya dengan ekspresi dingin untuk beberapa detik sebelum akhirnya lelaki tersebut memalingkan kembali wajahnya ke buku yang ada ditangannya.

Napas Lingga menderu. Ia berusaha menahan paniknya. Lingga menghembuskan nafasnya teratur. Ini salah paham, pikirnya. Lingga segera berdiri. Lingga berjalan pelan mendekati lelaki tersebut. Lelaki itu memakai sebuah topi hitam sehingga wajahnya jadi tidak terlalu kelihatan.

Lima langkah lagi Lingga mendekati lelaki itu sebelum akhirnya Lingga dikagetkan tiba-tiba oleh temannya dari arah belakang.

“Hei, Lingga,” ujar Nayla.

Lingga kaget bukan main. Ia menoleh ke arah nayla.

“Yah, aku kalah. kau datang duluan lagi daripada aku,” Nayla terkekeh karena berhasil mengejutkan Lingga walau ia kalah datang duluan.

“Kita duduk dimana,?” tanya Nayla.

Lingga menunjuk kearah tempat tasnya tergeletak. Mereka berdua segera menuju ke tempat duduk Lingga sebelumnya. Satu dua orang sudah mulai memasuki ruangan. Lingga sempat melirik sebentar ke arah lelaki yang bertopi hitam tersebut.

Konferensi sudah selesai tepat saat adzan Zuhur berkumandang. Lingga meminta Nayla dan Resti untuk pergi duluan menuju masjid karena Lingga ada sedikit urusan.

Lingga menunggu di anak tangga gedung serba guna auditorium sambil terus memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang keluar dari pintu gedung. Lingga mencari lelaki bertopi hitam tersebut. Akhirnya lelaki itu keluar dari pintu gedung. Lelaki itu berjalan pelan menuju anak tangga. Lingga segera mencegat lelaki itu.

“Hei, aku, aku mau jelasin sesuatu,” ujar Lingga.

Lelaki itu menatap Lingga dengan ekspresi dingin. Matanya tegas dengan raut wajah yang cukup tampan. Beberapa anak rambut lelaki tersebut tampak disela-sela topi hitamnya. Ia memakai kaus polos yang dipadu dengan jaket berwarna hitam dengan tas sandang dua yang ada dibelakang punggungnya. Badannya proporsional dengan tubuhnya yang tinggi.

“Mesum” ujar lelaki itu.

Lingga yang dari tadi memperhatikan lelaki itu mendongak. ‘apa, apa yang barusan dia bilang ?’ tanyanya dalam hati.

“Maaf ?” tanya Lingga.

“Kamu yang mesum didalam tadi, kan ?” tanya lelaki itu dingin.

Muka Lingga memerah. Ia berusaha mengatur napasnya.

“bu, bukan, kamu salah paham, laptop aku hang, dan tiba-tiba aja muncul iklan nggak banget itu, tiba-tiba aja, kamu benar-benar udah salah paham, makanya aku nungguin kamu disini karena pengen ngejelasin itu” ujar Lingga tegas.

Hening diantara mereka. Lingga masih berusaha mengendalikan dirinya. Lingga menghembuskan napas pelan.

“terus ?” tanya lelaki itu dingin.

Lingga terdiam.

“ya, ya, aku cuma mau jelasin itu, dan aku bukan mesum” ujar Lingga.

Lelaki itu hanya memandang Lingga sebentar kemudian segera berlalu meninggalkan Lingga. Lingga menghembuskan napasnya lagi kemudian mengusap wajahnya yang semakin memerah. ‘sial’ ujarnya dalam hati.

Lingga melangkah keluar dari masjid dengan cemberut. Ia masih kesal dengan kesalahpahaman tadi dengan lelaki bertopi hitam. Ia mengutuk laptop yang saat ini dipegangnya.

“kenapa, Ngga ?” tanya Resti.

“ini, laptop aku tegang lagi” ujar Lingga kecut.

“bawa ke servis center yang ada di Jalan Adipati aja, Ngga, kata temen-temen disana servisnya bagus” ujar Resti.

Lingga mengangguk mengiyakan.

Sorenya Lingga langsung menuju ke tempat servis yang beralamat di Jalan Adipati. Setelah turun di halte bus Lingga hanya berjalan lima blok toko hingga kemudian mendapati tempat servis tersebut. Tempat servis tersebut cukup ramai. Setelah cukup lama mengantri Lingga akhirnya dipanggil salah satu CS tempat servis tersebut.

“laptopku tegang, dan benar-benar gak bisa diapa-apain lagi pas aku hidupin” ujar Lingga.

CS tersebut dengan senyum khas namun terpaksa itu segera melihat-lihat sebentar laptop Lingga. Formalitas. CS tersebut kemudian memanggil seseorang dari teleponnya.

Seseorang yang dipanggil CS itu segera keluar dari ruangan yang ada dibelakang meja CS. Mata Lingga membulat. Seseorang itu adalah lelaki bertopi hitam yang tadi siang ditemuinya di depan ruang auditorium serba guna.

“Lias, kata mbak ini laptopnya tegang, dan gak mau di idupin lagi” ujar CS tersebut.

“Namaku bukan Lias” ujar lelaki bertopi hitam dingin.

CS tadi terkekeh sebentar.

“Nah, mbak. Kemungkinan gak bakal lama, mau ditunggu atau ditinggal ?” tanya CS tersebut.

Lingga mematung. Ia tidak mendengarkan pertanyaan dari CS yang ada didepannya. Ia hanya menatap tidak percaya pada lelaki bertopi hitam yang berdiri disamping CS tersebut.

“Mbak ?”

Seruan CS membuyarkan lamunan Lingga.

“Aku tunggu aja” ujar Lingga.

CS langsung mengambil nota begitu mendengar jawaban Lingga, CS itu kemudian meminta lelaki bertopi hitam tadi untuk mengambil laptop Lingga yang ada diatas meja.

Tangan lelaki bertopi hitam sudah menyentuh laptop bersamaan dengan tangan Lingga yang tiba-tiba menahan laptopnya. Namun tangan mereka tidak bersentuhan. Lingga menatap pada laptopnya sebentar sebelum akhirnya menatap ke arah lelaki tersebut. Lingga terlihat berusaha mengendalikan dirinya. Lelaki tersebut juga menatap Lingga dan tangan Lingga yang menahan laptop.

“Ah, disini ada beberapa data penting, tolong jangan sampai terhapus” ujar Lingga sebelum akhirnya melepaskan tangannya dari laptop.

Lelaki bertopi hitam hanya menatap dingin sebelum akhirnya masuk menuju ruangan yang ada dibelakang meja CS.

“Tenang saja, Lias merupakan salah satu tukang reparasi terbaik disini, mbak” ujar CS itu.

Lingga menunggu di tempat duduk antrian dengan tenang sambil sesekali melirik kearah ruangan yang ada dibelakang meja CS yang dipikir Lingga pasti adalah ruang reparasi. Tak lama kemudian, Lelaki bertopi hitam keluar dari pintu ruangan reparasi. Terdengar dari sound pengumuman yang menyebut nama Lingga. Lingga diminta untuk datang keruangan charger.

Lingga segera memasuki ruangan charger yang tak jauh dari tempat duduk antrian. Lingga berjalan pelan menuju ke arah lelaki bertopi hitam yang sedang men-charge laptopnya yang sudah menyala. Lingga masih berusaha mengendalikan dirinya karena pertemuan salah paham mereka tadi pagi masih menganggu dirinya.

“Sudah diperbaiki namun perlu ganti beberapa partnya, karena beberapa partnya udah tua makanya tegang. Sistem browsingnya juga udah di stel ulang jadi iklan-iklan yang mesum itu tidak lagi muncul” ujar lelaki bertopi hitam.

Lingga mengerjapkan matanya dan segera menjangkau laptopnya memeriksa sendiri bagian browsing dan isi dari laptopnya. Semua data aman. Lingga menghembuskan napas lega. Ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada lelaki bertopi hitam.

“Terima kasih, Lias, wah, aku benar-benar terbantu”

“Namaku bukan Lias” ujar lelaki bertopi hitam tersebut dengan dingin.

Lingga menelan ludah. Lelaki bertopi hitam berlalu meninggalkan Lingga dengan sebuah catatan pembayaran di kasir. Lingga menerima catatan itu dan berjalan pelan menuju kasir. Lingga sempat menoleh ke arah punggung lelaki bertopi hitam.

Lingga sedang berada di bus. Hendak berjalan menuju asramanya. Sebentar lagi adzan magrib akan terdengar di seluruh penjuru kota. Suara dering hape Lingga berbunyi. Dari Nayla.

“Ya, Nay ?” ujar Lingga.

“Lingga, kamu bisa ke kafe chicken area gak setelah magrib ?” tanya Nayla.

“Aduh, aku gak bisa nay, lagi bokek, ini abis reparasi laptop juga tadi” ujar Lingga lirih.

Lingga bisa mendengar Nayla sedang terkekeh diujung telepon.

“Kamu tenang aja, Ngga, kita ditraktir sama kakak senior, kamu pasti gak bakal nolak kan kalo ditraktir” usil Nayla.

Kali ini gantian Lingga yang terkekeh.

“Yee, siapa juga yang mau nolak kalo gratis” seru Lingga.

Mereka janjian ketemu di kafe ‘Chicken Area’ setelah magrib. Kafe itu merupakan resto dengan menu andalan ayam terlengkap yang dekat dengan kampus mereka. Mulai dari ayam crispi, ayam pedas, ayam madu dan segala macam jenis ayam lainnya ada disana. Harga yang terjangkau dan rasanya yang lezat selalu menarik banyak pengunjung. Tak hanya dari kalangan mahasiswa yang mayoritas berkantong kering namun juga dari kalangan umum datang kesana hingga selalu membuat kafe tersebut laris manis.

Lingga membuka pintu dengan pelan. Denting lonceng berbunyi diatas pintu ketika pintu terbuka. Lingga langsung bisa menemukan rombongan teman-temannya yang lebih dulu sampai ke kafe.

“Kami sudah memesan makanan kami, kamu pesan gih” ujar Nayla senang.

Lingga segera mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan. Matanya tiba-tiba membulat saat pelayan yang mendatangi meja mereka adalah lelaki bertopi hitam yang ditemuinya tadi siang dan sore.

Lelaki bertopi hitam sudah tiba dimeja Lingga. Lingga terdiam menatap meja kayu. Dia benar-benar merasa aneh sekarang karena sepanjang hari ini dirinya selalu bertemu secara tanpa sengaja dengan lelaki bertopi hitam.

Lelaki bertopi hitam menyerahkan buku menu dan bersiap akan mencatat pesanan tambahan. Lingga masih diam ditempatnya belum menyentuh buku menu. Nayla mencolek lengan Lingga.

“Pesan apa, Ngga ?”

Lingga menatap Nayla. Tangannya segera membuka buku menu. Lingga memesan ayam madu pedas manis kesukaannya. Ditambah minuman air putih. Lelaki bertopi hitam mencatat pesanan Lingga.

“Ada tambahan lagi ?” tanya lelaki bertopi hitam itu dengan suara dinginnya.

Lingga menggeleng. Lelaki bertopi hitam berlalu meninggalkan meja Lingga.

“Wah, dingin banget suaranya” ujar Resti.

“Hei, aku merasa aneh seharian ini” Lingga akhirnya ingin bercerita mengenai keanehan yang dirasakannya.

“Apaan ?” tanya Resti.

“Aku, sepanjangan hari ini selalu bertemu dengan dia” ujar Lingga.

“Dia siapa ?” Nayla kali ini yang bertanya.

“itu, lelaki bertopi hitam itu”

Lingga menunjuk dengan dagunya ke arah lelaki bertopi hitam yang kini sedang membersihkan sesuatu dibalik tembok utama tempat pembayaran.

“Pelayan tadi ?” tanya salah seorang senior.

Lingga menganggukkan kepalanya. Ia kembali menatap ke arah lelaki bertopi hitam.

“Tiga kali aku ketemu dia, dan itu tanpa sengaja” ujar Lingga.

“Tiga kali ketemu, tanpa sengaja, jangan-jangan kalian jodoh” canda Resti.

Mata Lingga melotot ke arah Resti. Jodoh ? ada-ada saja. Ia tidak mengenal lelaki bertopi hitam itu. Ia hanya tahu kalau lelaki itu dipanggil ‘Lias’ di tempat servis laptop tadi. Selebihnya Lingga tidak tahu siapa lelaki bertopi hitam itu.

“Namanya Sail. Anak teknik mesin. Dia seangkatan sama kami, setahun diatas kalian” ujar salah seorang senior.

Nayla, Resti dan Lingga menatap senior yang barusan bicara. Mata mereka mengerjap bersamaan. Mereka takjub senior itu tahu nama lelaki bertopi hitam.

“Aku sempat kenal dia saat ikut BEM Universitas tahun lalu” ujar senior itu seperti bisa menebak pertanyaan di kepala Nayla, Resti dan Lingga.

Nayla dan Resti ber-ooh pelan sementara Lingga kembali menatap ke arah lelaki bertopi hitam alias Sail.

Dari senior tadi Lingga mengetahui bahwa Sail adalah mahasiswa yang bekerja part time sejak semester baru. Terutama untuk semester ini tugasnya hanyalah menyusun skripsi. Sudah banyak tempat yang Sail coba untuk bekerja part time. Namun setahun belakangan hanya di chicken area Sail terlihat nyaman bekerja karena jam kerjanya yang fleksibel. Lingga menceritakan bahwa dia bertemu dengan Sail ditempat servis. Senior tadi hanya bergumam karena ia baru tahu itu. Lingga mengangguk pelan.

“Dia memang pekerja keras, juga pintar, namun memang sikapnya selalu dingin dan jutek, tapi orangnya baik kok, kalo kita minta bantuan sama dia, tuh anak pasti mau menolong” cerocos senior.

“Ini pesanan tambahannya” ujar Sail tiba-tiba.

Senior tadi tersedak minumannya. Ia menepuk-nepuk dadanya karena kaget akan kedatangan Sail tiba-tiba.

Lingga menatap Sail yang sedang meletakkan semangkuk ayam madu pedas manisnya.

“Anu, terima kasih ya, abang Sail, untuk sebelumnya ditempat servis, maaf aku salah menyebut namamu” ujar Lingga dengan senyum manisnya.

Sail hanya menatap Lingga sebentar kemudian berlalu pergi setelah meninggalkan catatan bon tambahan di meja Lingga.

***