PURNAMA
KE-1
Lingga. Gadis manis yang sekarang
duduk dibangku perkuliahan jurusan keguruan semester 6. Lingga berjalan santai
menuju suatu tempat konferensi pemuda yang diselenggarakan oleh instansi
internasional yang menaungi pergerakan pemuda masa kini.
Lingga memasuki gedung serba guna
tersebut dan langsung memilih tempat duduk yang ada ditengah-ditengah ruangan.
Ia membuka laptopnya ingin mengerjakan beberapa tugas mata kuliahnya. Semester
besok ia sudah mulai untuk praktek lapangan ke sekolah.
Lingga sedang browsing sesuatu hingga tiba-tiba layar
laptopnya menegang dan tiba-tiba muncul sebuah situs iklan yang tak sopan.
Iklan tersebut memunculkan sebuah gambar yang erotis. Belum sempat kagetnya
hilang tiba-tiba dari speaker
laptopnya terdengar bunyi mendesah dari gambar iklan tersebut. Lingga panik dan
berusaha memperbaiki laptopnya namun sia-sia. Laptopnya tegang. Suara mendesah
itu makin kuat terdengar didalam ruangan dengan suara speaker Lingga yang full on 100. Tanpa banyak tingkah Lingga
segera mencabut paksa baterai laptopnya dan menutup laptopnya keras.
Lingga terpaku. Napasnya naik
turun. Ia melihat sekeliling. Lingga berharap ia hanya sendirian diruangan ini.
Saat hendak bernapas lega saat matanya menangkap sebuah wajah yang melirik ke
arahnya. Seorang lelaki bertopi hitam menatapnya dengan ekspresi dingin untuk
beberapa detik sebelum akhirnya lelaki tersebut memalingkan kembali wajahnya ke
buku yang ada ditangannya.
Napas Lingga menderu. Ia berusaha
menahan paniknya. Lingga menghembuskan nafasnya teratur. Ini salah paham,
pikirnya. Lingga segera berdiri. Lingga berjalan pelan mendekati lelaki
tersebut. Lelaki itu memakai sebuah topi hitam sehingga wajahnya jadi tidak
terlalu kelihatan.
Lima langkah lagi Lingga
mendekati lelaki itu sebelum akhirnya Lingga dikagetkan tiba-tiba oleh temannya
dari arah belakang.
“Hei, Lingga,” ujar Nayla.
Lingga kaget bukan main. Ia
menoleh ke arah nayla.
“Yah, aku kalah. kau datang
duluan lagi daripada aku,” Nayla terkekeh karena berhasil mengejutkan Lingga
walau ia kalah datang duluan.
“Kita duduk dimana,?” tanya Nayla.
Lingga menunjuk kearah tempat tasnya
tergeletak. Mereka berdua segera menuju ke tempat duduk Lingga sebelumnya. Satu
dua orang sudah mulai memasuki ruangan. Lingga sempat melirik sebentar ke arah
lelaki yang bertopi hitam tersebut.
Konferensi sudah selesai tepat
saat adzan Zuhur berkumandang. Lingga meminta Nayla dan Resti untuk pergi
duluan menuju masjid karena Lingga ada sedikit urusan.
Lingga menunggu di anak tangga
gedung serba guna auditorium sambil terus memperhatikan orang-orang yang
berlalu lalang keluar dari pintu gedung. Lingga mencari lelaki bertopi hitam
tersebut. Akhirnya lelaki itu keluar dari pintu gedung. Lelaki itu berjalan
pelan menuju anak tangga. Lingga segera mencegat lelaki itu.
“Hei, aku, aku mau jelasin
sesuatu,” ujar Lingga.
Lelaki itu menatap Lingga dengan
ekspresi dingin. Matanya tegas dengan raut wajah yang cukup tampan. Beberapa
anak rambut lelaki tersebut tampak disela-sela topi hitamnya. Ia memakai kaus
polos yang dipadu dengan jaket berwarna hitam dengan tas sandang dua yang ada
dibelakang punggungnya. Badannya proporsional dengan tubuhnya yang tinggi.
“Mesum” ujar lelaki itu.
Lingga yang dari tadi
memperhatikan lelaki itu mendongak. ‘apa, apa yang barusan dia bilang ?’
tanyanya dalam hati.
“Maaf ?” tanya Lingga.
“Kamu yang mesum didalam tadi,
kan ?” tanya lelaki itu dingin.
Muka Lingga memerah. Ia berusaha
mengatur napasnya.
“bu, bukan, kamu salah paham,
laptop aku hang, dan tiba-tiba aja
muncul iklan nggak banget itu, tiba-tiba aja, kamu benar-benar udah salah
paham, makanya aku nungguin kamu disini karena pengen ngejelasin itu” ujar Lingga
tegas.
Hening diantara mereka. Lingga
masih berusaha mengendalikan dirinya. Lingga menghembuskan napas pelan.
“terus ?” tanya lelaki itu
dingin.
Lingga terdiam.
“ya, ya, aku cuma mau jelasin
itu, dan aku bukan mesum” ujar Lingga.
Lelaki itu hanya memandang Lingga
sebentar kemudian segera berlalu meninggalkan Lingga. Lingga menghembuskan
napasnya lagi kemudian mengusap wajahnya yang semakin memerah. ‘sial’ ujarnya
dalam hati.
Lingga melangkah keluar dari
masjid dengan cemberut. Ia masih kesal dengan kesalahpahaman tadi dengan lelaki
bertopi hitam. Ia mengutuk laptop yang saat ini dipegangnya.
“kenapa, Ngga ?” tanya Resti.
“ini, laptop aku tegang lagi”
ujar Lingga kecut.
“bawa ke servis center yang ada di Jalan Adipati aja,
Ngga, kata temen-temen disana servisnya bagus” ujar Resti.
Lingga mengangguk mengiyakan.
Sorenya Lingga langsung menuju ke
tempat servis yang beralamat di Jalan Adipati. Setelah turun di halte bus Lingga
hanya berjalan lima blok toko hingga kemudian mendapati tempat servis tersebut.
Tempat servis tersebut cukup ramai. Setelah cukup lama mengantri Lingga akhirnya
dipanggil salah satu CS tempat servis tersebut.
“laptopku tegang, dan benar-benar
gak bisa diapa-apain lagi pas aku hidupin” ujar Lingga.
CS tersebut dengan senyum khas
namun terpaksa itu segera melihat-lihat sebentar laptop Lingga. Formalitas. CS
tersebut kemudian memanggil seseorang dari teleponnya.
Seseorang yang dipanggil CS itu
segera keluar dari ruangan yang ada dibelakang meja CS. Mata Lingga membulat.
Seseorang itu adalah lelaki bertopi hitam yang tadi siang ditemuinya di depan
ruang auditorium serba guna.
“Lias, kata mbak ini laptopnya
tegang, dan gak mau di idupin lagi” ujar CS tersebut.
“Namaku bukan Lias” ujar lelaki
bertopi hitam dingin.
CS tadi terkekeh sebentar.
“Nah, mbak. Kemungkinan gak bakal
lama, mau ditunggu atau ditinggal ?” tanya CS tersebut.
Lingga mematung. Ia tidak
mendengarkan pertanyaan dari CS yang ada didepannya. Ia hanya menatap tidak
percaya pada lelaki bertopi hitam yang berdiri disamping CS tersebut.
“Mbak ?”
Seruan CS membuyarkan lamunan Lingga.
“Aku tunggu aja” ujar Lingga.
CS langsung mengambil nota begitu
mendengar jawaban Lingga, CS itu kemudian meminta lelaki bertopi hitam tadi
untuk mengambil laptop Lingga yang ada diatas meja.
Tangan lelaki bertopi hitam sudah
menyentuh laptop bersamaan dengan tangan Lingga yang tiba-tiba menahan
laptopnya. Namun tangan mereka tidak bersentuhan. Lingga menatap pada laptopnya
sebentar sebelum akhirnya menatap ke arah lelaki tersebut. Lingga terlihat
berusaha mengendalikan dirinya. Lelaki tersebut juga menatap Lingga dan tangan Lingga
yang menahan laptop.
“Ah, disini ada beberapa data
penting, tolong jangan sampai terhapus” ujar Lingga sebelum akhirnya melepaskan
tangannya dari laptop.
Lelaki bertopi hitam hanya
menatap dingin sebelum akhirnya masuk menuju ruangan yang ada dibelakang meja
CS.
“Tenang saja, Lias merupakan
salah satu tukang reparasi terbaik disini, mbak” ujar CS itu.
Lingga menunggu di tempat duduk
antrian dengan tenang sambil sesekali melirik kearah ruangan yang ada
dibelakang meja CS yang dipikir Lingga pasti adalah ruang reparasi. Tak lama
kemudian, Lelaki bertopi hitam keluar dari pintu ruangan reparasi. Terdengar
dari sound pengumuman yang menyebut
nama Lingga. Lingga diminta untuk datang keruangan charger.
Lingga segera memasuki ruangan charger yang tak jauh dari tempat duduk
antrian. Lingga berjalan pelan menuju ke arah lelaki bertopi hitam yang sedang
men-charge laptopnya yang sudah
menyala. Lingga masih berusaha mengendalikan dirinya karena pertemuan salah
paham mereka tadi pagi masih menganggu dirinya.
“Sudah diperbaiki namun perlu
ganti beberapa partnya, karena
beberapa partnya udah tua makanya
tegang. Sistem browsingnya juga udah
di stel ulang jadi iklan-iklan yang mesum itu tidak lagi muncul” ujar lelaki
bertopi hitam.
Lingga mengerjapkan matanya dan
segera menjangkau laptopnya memeriksa sendiri bagian browsing dan isi dari laptopnya. Semua data aman. Lingga
menghembuskan napas lega. Ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada lelaki
bertopi hitam.
“Terima kasih, Lias, wah, aku
benar-benar terbantu”
“Namaku bukan Lias” ujar lelaki
bertopi hitam tersebut dengan dingin.
Lingga menelan ludah. Lelaki bertopi
hitam berlalu meninggalkan Lingga dengan sebuah catatan pembayaran di kasir. Lingga
menerima catatan itu dan berjalan pelan menuju kasir. Lingga sempat menoleh ke
arah punggung lelaki bertopi hitam.
Lingga sedang berada di bus.
Hendak berjalan menuju asramanya. Sebentar lagi adzan magrib akan terdengar di
seluruh penjuru kota. Suara dering hape Lingga berbunyi. Dari Nayla.
“Ya, Nay ?” ujar Lingga.
“Lingga, kamu bisa ke kafe chicken area gak setelah magrib ?” tanya
Nayla.
“Aduh, aku gak bisa nay, lagi
bokek, ini abis reparasi laptop juga tadi” ujar Lingga lirih.
Lingga bisa mendengar Nayla
sedang terkekeh diujung telepon.
“Kamu tenang aja, Ngga, kita
ditraktir sama kakak senior, kamu pasti gak bakal nolak kan kalo ditraktir”
usil Nayla.
Kali ini gantian Lingga yang
terkekeh.
“Yee, siapa juga yang mau nolak
kalo gratis” seru Lingga.
Mereka janjian ketemu di kafe ‘Chicken Area’ setelah magrib. Kafe itu
merupakan resto dengan menu andalan ayam terlengkap yang dekat dengan kampus
mereka. Mulai dari ayam crispi, ayam pedas, ayam madu dan segala macam jenis
ayam lainnya ada disana. Harga yang terjangkau dan rasanya yang lezat selalu menarik
banyak pengunjung. Tak hanya dari kalangan mahasiswa yang mayoritas berkantong
kering namun juga dari kalangan umum datang kesana hingga selalu membuat kafe
tersebut laris manis.
Lingga membuka pintu dengan
pelan. Denting lonceng berbunyi diatas pintu ketika pintu terbuka. Lingga
langsung bisa menemukan rombongan teman-temannya yang lebih dulu sampai ke
kafe.
“Kami sudah memesan makanan kami,
kamu pesan gih” ujar Nayla senang.
Lingga segera mengangkat
tangannya untuk memanggil pelayan. Matanya tiba-tiba membulat saat pelayan yang
mendatangi meja mereka adalah lelaki bertopi hitam yang ditemuinya tadi siang
dan sore.
Lelaki bertopi hitam sudah tiba
dimeja Lingga. Lingga terdiam menatap meja kayu. Dia benar-benar merasa aneh
sekarang karena sepanjang hari ini dirinya selalu bertemu secara tanpa sengaja
dengan lelaki bertopi hitam.
Lelaki bertopi hitam menyerahkan
buku menu dan bersiap akan mencatat pesanan tambahan. Lingga masih diam
ditempatnya belum menyentuh buku menu. Nayla mencolek lengan Lingga.
“Pesan apa, Ngga ?”
Lingga menatap Nayla. Tangannya
segera membuka buku menu. Lingga memesan ayam madu pedas manis kesukaannya.
Ditambah minuman air putih. Lelaki bertopi hitam mencatat pesanan Lingga.
“Ada tambahan lagi ?” tanya
lelaki bertopi hitam itu dengan suara dinginnya.
Lingga menggeleng. Lelaki bertopi
hitam berlalu meninggalkan meja Lingga.
“Wah, dingin banget suaranya”
ujar Resti.
“Hei, aku merasa aneh seharian
ini” Lingga akhirnya ingin bercerita mengenai keanehan yang dirasakannya.
“Apaan ?” tanya Resti.
“Aku, sepanjangan hari ini selalu
bertemu dengan dia” ujar Lingga.
“Dia siapa ?” Nayla kali ini yang
bertanya.
“itu, lelaki bertopi hitam itu”
Lingga menunjuk dengan dagunya ke
arah lelaki bertopi hitam yang kini sedang membersihkan sesuatu dibalik tembok
utama tempat pembayaran.
“Pelayan tadi ?” tanya salah
seorang senior.
Lingga menganggukkan kepalanya.
Ia kembali menatap ke arah lelaki bertopi hitam.
“Tiga kali aku ketemu dia, dan
itu tanpa sengaja” ujar Lingga.
“Tiga kali ketemu, tanpa sengaja,
jangan-jangan kalian jodoh” canda Resti.
Mata Lingga melotot ke arah
Resti. Jodoh ? ada-ada saja. Ia tidak mengenal lelaki bertopi hitam itu. Ia
hanya tahu kalau lelaki itu dipanggil ‘Lias’ di tempat servis laptop tadi.
Selebihnya Lingga tidak tahu siapa lelaki bertopi hitam itu.
“Namanya Sail. Anak teknik mesin.
Dia seangkatan sama kami, setahun diatas kalian” ujar salah seorang senior.
Nayla, Resti dan Lingga menatap
senior yang barusan bicara. Mata mereka mengerjap bersamaan. Mereka takjub
senior itu tahu nama lelaki bertopi hitam.
“Aku sempat kenal dia saat ikut
BEM Universitas tahun lalu” ujar senior itu seperti bisa menebak pertanyaan di
kepala Nayla, Resti dan Lingga.
Nayla dan Resti ber-ooh pelan
sementara Lingga kembali menatap ke arah lelaki bertopi hitam alias Sail.
Dari senior tadi Lingga
mengetahui bahwa Sail adalah mahasiswa yang bekerja part time sejak semester baru. Terutama untuk semester ini tugasnya
hanyalah menyusun skripsi. Sudah banyak tempat yang Sail coba untuk bekerja part time. Namun setahun belakangan
hanya di chicken area Sail terlihat
nyaman bekerja karena jam kerjanya yang fleksibel. Lingga menceritakan bahwa
dia bertemu dengan Sail ditempat servis. Senior tadi hanya bergumam karena ia
baru tahu itu. Lingga mengangguk pelan.
“Dia memang pekerja keras, juga
pintar, namun memang sikapnya selalu dingin dan jutek, tapi orangnya baik kok,
kalo kita minta bantuan sama dia, tuh anak pasti mau menolong” cerocos senior.
“Ini pesanan tambahannya” ujar Sail
tiba-tiba.
Senior tadi tersedak minumannya.
Ia menepuk-nepuk dadanya karena kaget akan kedatangan Sail tiba-tiba.
Lingga menatap Sail yang sedang
meletakkan semangkuk ayam madu pedas manisnya.
“Anu, terima kasih ya, abang Sail,
untuk sebelumnya ditempat servis, maaf aku salah menyebut namamu” ujar Lingga
dengan senyum manisnya.
Sail hanya menatap Lingga
sebentar kemudian berlalu pergi setelah meninggalkan catatan bon tambahan di
meja Lingga.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar