Jumat, 19 April 2019

PURNAMA KE-2



PURNAMA KE-2

          Lingga baru hendak memasang tali sepatunya ketika teriakan Nayla menggema ke seantero parkiran masjid kampus. Suara Nayla memang sangat nyaring dan keras namun ketika Nayla bernyanyi maka seluruh dunia akan berhenti untuk mendengarkan. Sudah beberapa kali Nayla memenangkan lomba menyanyi baik ditingkat kota, provinsi maupun nasional. Ketika resti dan Lingga membujuk nayla untuk ikut berkompetesi di ajang pencarian bakat, Nayla malah menolak mentah-mentah karena dia gengsi.

          “Kenapa aku yang harus mencari agensi, agensi yang seharusnya menemukan aku” ujar Nayla berlagak sok.

          Lingga dan Resti hanya bisa menahan ketawa mereka jika Nayla sudah berkata seperti itu.

          Pekikan suara Nayla kembali melengking meminta Lingga untuk bersegera memasang sepatunya. Demi menjaga kesehatan telinganya dan telinga orang-orang yang ada di sekitar masjid mau tidak mau Lingga asal-asalan saja memasang tali sepatunya. 

          “Pasang tali sepatumu dengan benar, seperti itu berbahaya” 

          Sebuah suara menghentikan langkah Lingga. Ia menoleh ke arah sumber suara. Sail yang berbicara tadi padanya. Lingga mengangguk pelan kemudian berjongkok untuk kembali membenarkan tali sepatunya. Sail berlalu meninggalkan Lingga. 

          Lingga membalikkan badannya dan menatap punggung Sail yang semakin menjauh. Lingga tersenyum. Benar adanya kata senior saat itu. Walaupun tampangnya sangat dingin dan jutek tetapi Sail adalah orang yang baik dan peduli pada sekitarnya. 

          “Linggaaaaa”

          Pekikan suara Nayla kembali memecahkan gendang telinga Lingga. Lingga mengusap telinganya lirih. ia segera berlari ke tempat Nayla yang sudah menunggu di halte. 

“Kenapa lama banget, sih ?” seru Nayla kesal.

“Kenapa gak sabaran banget, sih ?” balas Lingga dengan meniru suara khas Nayla.

“Nanti kita terlambat tahu, proyek ini penting banget bagi aku” ujar Nayla cemberut.

Lingga terkekeh menyolek sahabatnya. Nayla masih ogah bercanda. Mereka sedang mengerjakan sebuah proyek untuk praktek lapangan mereka. Pihak kampus mewajibkan seluruh mahasiswa untuk mengikutsertakan proyek mereka menuju lomba pekan kreativitas ilmiah yang diadakan setiap tahunnya secara nasional mewakili universitas masing-masing. 

Lingga pun antusias dengan proyek ini karena didalam proyek ini mereka akan mempersembahkan keunggulan masing-masing, dan tentu saja Nayla dengan bakat menyanyinya. Sementara Lingga hanya akan menampilkan keunggulannya yang sederhana, yaitu mendongeng untuk anak-anak. Sesuai dengan bidangnya sebagai seorang guru. 

Target subjek universitas untuk proyek utama adalah anak-anak dipedalaman yang masih begitu banyak kekurangan dalam segala aspek. Setelah penyeleksian tingkat fakultas, masing-masing proyek terbaik akan digabung dan dilatih bersamaan untuk bisa diterjunkan dilapangan. Baru setelah itu dibuat proposal dan penyeleksian lomba tingkat nasional dan bersaing dengan proyek-proyek universitas lain yang tak kalah hebatnya.

Kali ini mereka hendak ikut penyeleksian tingkat fakultas. Lingga dan Nayla bersegera menuju gedung serba guna auditorium. Nayla sekali lagi mencak-mencak karena Resti belum terlihat juga. Setelah menunggu lima menit barulah resti tiba dengan segumpal barang bawaannya. 

Lingga hendak terkekeh melihat Resti dengan gumpalan barang bawaannya yang melebihi tubuh mungilnya namun batal karena Nayla langung mengomel tak jelas pada Resti. Lingga berusaha melerai pertikaian kecil antara Nayla dan Resti. Mereka akhirnya segera masuk ke dalam ruangan auditorium untuk penyeleksian tingkat fakultas.

“Huh, untung aja kita dapat nomor yang besar, jadi masih ada waktu untuk persiapan” ujar Nayla lega.

Mereka sudah selesai seleksi. Lingga merasa bahwa dia sudah menampilkan yang terbaik saat mendongeng tadi. Tujuan dirinya mengambil proyek mendongeng karena dengan itu ia bisa mengajari anak-anak pedalaman metode membaca yang simpel namun menarik. Anak-anak itu seperti burung beo. Dengan mendengar apa yang kita ucapkan maka anak-anak akan mengikutinya. Dalam mendongeng juga anak-anak akan diajarkan untuk berimajinasi tanpa batas. Agar mereka mampu berpikir beda dan tak terbatasi dengan keadaan mereka yang kurang beruntung tinggal di pedalaman.

“Iya, syukurlah, semoga kita lolos untuk maju di proyek nasional” ujar Resti yang turut lega.

Lingga tersenyum menatap kedua sahabatnya. Mereka bertemu untuk pertama kalinya saat ospek. Mereka satu kelompok dan sering bertengkar saat pertama jumpa karena perbedaan pendapat. Namun sekarang mereka sangat dekat satu sama lain. Ditambah mereka satu jurusan namun beda kelas. 

 “Aamiin” seru Lingga keras ditelinga Nayla dan Resti.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar