PURNAMA
KE-2
Lingga
baru hendak memasang tali sepatunya ketika teriakan Nayla menggema ke seantero
parkiran masjid kampus. Suara Nayla memang sangat nyaring dan keras namun
ketika Nayla bernyanyi maka seluruh dunia akan berhenti untuk mendengarkan. Sudah
beberapa kali Nayla memenangkan lomba menyanyi baik ditingkat kota, provinsi
maupun nasional. Ketika resti dan Lingga membujuk nayla untuk ikut berkompetesi
di ajang pencarian bakat, Nayla malah menolak mentah-mentah karena dia gengsi.
“Kenapa
aku yang harus mencari agensi, agensi yang seharusnya menemukan aku” ujar Nayla
berlagak sok.
Lingga
dan Resti hanya bisa menahan ketawa mereka jika Nayla sudah berkata seperti
itu.
Pekikan
suara Nayla kembali melengking meminta Lingga untuk bersegera memasang
sepatunya. Demi menjaga kesehatan telinganya dan telinga orang-orang yang ada di
sekitar masjid mau tidak mau Lingga asal-asalan saja memasang tali sepatunya.
“Pasang
tali sepatumu dengan benar, seperti itu berbahaya”
Sebuah
suara menghentikan langkah Lingga. Ia menoleh ke arah sumber suara. Sail yang
berbicara tadi padanya. Lingga mengangguk pelan kemudian berjongkok untuk
kembali membenarkan tali sepatunya. Sail berlalu meninggalkan Lingga.
Lingga
membalikkan badannya dan menatap punggung Sail yang semakin menjauh. Lingga
tersenyum. Benar adanya kata senior saat itu. Walaupun tampangnya sangat dingin
dan jutek tetapi Sail adalah orang yang baik dan peduli pada sekitarnya.
“Linggaaaaa”
Pekikan
suara Nayla kembali memecahkan gendang telinga Lingga. Lingga mengusap
telinganya lirih. ia segera berlari ke tempat Nayla yang sudah menunggu di
halte.
“Kenapa lama banget, sih ?” seru
Nayla kesal.
“Kenapa gak sabaran banget, sih
?” balas Lingga dengan meniru suara khas Nayla.
“Nanti kita terlambat tahu,
proyek ini penting banget bagi aku” ujar Nayla cemberut.
Lingga terkekeh menyolek
sahabatnya. Nayla masih ogah bercanda. Mereka sedang mengerjakan sebuah proyek
untuk praktek lapangan mereka. Pihak kampus mewajibkan seluruh mahasiswa untuk mengikutsertakan
proyek mereka menuju lomba pekan kreativitas ilmiah yang diadakan setiap
tahunnya secara nasional mewakili universitas masing-masing.
Lingga pun antusias dengan proyek
ini karena didalam proyek ini mereka akan mempersembahkan keunggulan masing-masing,
dan tentu saja Nayla dengan bakat menyanyinya. Sementara Lingga hanya akan
menampilkan keunggulannya yang sederhana, yaitu mendongeng untuk anak-anak.
Sesuai dengan bidangnya sebagai seorang guru.
Target subjek universitas untuk
proyek utama adalah anak-anak dipedalaman yang masih begitu banyak kekurangan
dalam segala aspek. Setelah penyeleksian tingkat fakultas, masing-masing proyek
terbaik akan digabung dan dilatih bersamaan untuk bisa diterjunkan dilapangan.
Baru setelah itu dibuat proposal dan penyeleksian lomba tingkat nasional dan
bersaing dengan proyek-proyek universitas lain yang tak kalah hebatnya.
Kali ini mereka hendak ikut
penyeleksian tingkat fakultas. Lingga dan Nayla bersegera menuju gedung serba
guna auditorium. Nayla sekali lagi mencak-mencak karena Resti belum terlihat
juga. Setelah menunggu lima menit barulah resti tiba dengan segumpal barang
bawaannya.
Lingga hendak terkekeh melihat Resti
dengan gumpalan barang bawaannya yang melebihi tubuh mungilnya namun batal
karena Nayla langung mengomel tak jelas pada Resti. Lingga berusaha melerai
pertikaian kecil antara Nayla dan Resti. Mereka akhirnya segera masuk ke dalam
ruangan auditorium untuk penyeleksian tingkat fakultas.
“Huh, untung aja kita dapat nomor
yang besar, jadi masih ada waktu untuk persiapan” ujar Nayla lega.
Mereka sudah selesai seleksi. Lingga
merasa bahwa dia sudah menampilkan yang terbaik saat mendongeng tadi. Tujuan
dirinya mengambil proyek mendongeng karena dengan itu ia bisa mengajari
anak-anak pedalaman metode membaca yang simpel namun menarik. Anak-anak itu
seperti burung beo. Dengan mendengar apa yang kita ucapkan maka anak-anak akan
mengikutinya. Dalam mendongeng juga anak-anak akan diajarkan untuk berimajinasi
tanpa batas. Agar mereka mampu berpikir beda dan tak terbatasi dengan keadaan
mereka yang kurang beruntung tinggal di pedalaman.
“Iya, syukurlah, semoga kita
lolos untuk maju di proyek nasional” ujar Resti yang turut lega.
Lingga tersenyum menatap kedua
sahabatnya. Mereka bertemu untuk pertama kalinya saat ospek. Mereka satu
kelompok dan sering bertengkar saat pertama jumpa karena perbedaan pendapat.
Namun sekarang mereka sangat dekat satu sama lain. Ditambah mereka satu jurusan
namun beda kelas.
“Aamiin” seru Lingga keras ditelinga Nayla dan
Resti.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar