Senin, 30 September 2019

PURNAMA KE-7


PURNAMA KE-7

“jadi itu benar ? kau sering berduaan saja dengan Sail didalam ruangan proyek ?”

Salah seorang senior perempuan Lingga bertanya. Lingga menatap senior perempuan tadi dengan menunduk. Lingga menggeleng pelan. Akhir-akhir ini saja dirinya hanya sempat bertatap sebentar dengan Sail. Tak lebih tak kurang. Tak ada yang spesial.

“Lingga, kami tidak menghakimi kok, hanya saja kamu tau kan batasan-batasan kamu apalagi sebagai kader LDK. Jangan sampe kelewat batas aja” ujar salah seorang senior.

Lingga mengangguk pelan atas ‘teguran’ dari seniornya. Lingga tahu maksud mereka baik. Hanya menasihati dirinya saja. Lingga menghembuskan nafasnya berat. Ia berjalan gontai meninggalkan ruangan sekretariat LDK.

Lingga sudah berada diluar gedung saat ia menyaksikan sebuah keributan kecil didekat taman kampus. namun matanya menangkap sosok yang amat dikenalinya, yaitu Sail.

Sail terlihat dengan berhadapan dengan beberapa gerombolan laki-laki. Namun situasinya nampaknya tidak begitu bersahabat. Tangan lelaki yang berdiri didepan Sail terlihat menekan-nekan pundak sail. Lingga bersegera mendekati kerumunan itu.

“lo gak usah terlalu ikut campur dengan proyek orang lain, lo itu hanya sebatas relawan, bukan anggota kelompok, jadi gak usah sok menunjukkan kemampuan, mentang-mentang lo senior, lo pikir gue takut sama lo” ujar lelaki yang nampaknya seangkatan dengan Lingga. Lelaki itu bahkan sudah berani menepuk-nepuk pipi sail.

“ada apaan sih ini ?” ujar Lingga berani menyela.

Lelaki tadi menatap lingga. Lingga tahu bahwa lelaki itu adalah salah seorang anggota dari kelompok lain yang juga ikut proyek untuk kompetesi ini.

“ini semua juga salah lo, sebagai anggota tetap lo seharusnya bisa kasi batasan sedikit sama relawan yang lo rekrut”

“maksud kamu apaan ? mereka hanya sekedar membantu, kenapa kami harus membatasi mereka ?” sanggah Lingga.

Lelaki tadi tampak tak sabaran mulai mendekati Lingga. Dia hendak menyentuh lengan Lingga sebelum akhirnya ditahan oleh Sail.

“apa ? kenapa lo pegang tangan gue, minggir” ujar lelaki itu menepis lengan Sail.

Namun Sail tidak melepaskannya tangannya. Sail bahkan mendorong lelaki itu menjauhi Lingga.

“ini semua udah kita lakuin secara sportif dan adil. Untuk anak manja yang suka merengek karena tahu kelompoknya bakal kalah, aku saranin kamu mundur aja dari sekarang kalo kamu takut” ujar Sail dingin.

Lelaki tadi tersedak. Ia benar-benar tak bisa menahan amarahnya. Lelaki tersebut segera melayangkan tinjunya ke arah Sail. Sail tak menghindar. Ia menerima pukulan itu tepat di pipinya. Sail terjatuh dan topinya terhempas ke jalanan. Anak lelaki itu menginjak pelan topi hitam sail.

Sail menatap itu dari ujung matanya yang tertutup poni panjangnya. Darah Sail mendidih melihat lelaki itu menginjak topinya. Sail segera berdiri dan melayangkan tinjunya pula pada anak lelaki itu. perkelahian tak bisa terelakkan diantara mereka.

Sail dan lelaki itu langsung dibawa kekantor kemahasiswaan. Mereka diceramahi panjang lebar. Wakil bagian kemahasiswaan tak bisa menerima alasan kekanak-kanakan anak lelaki itu yang mengatakan bahwa Sail terlalu banyak mengerjakan proyek dibanding anggota tim merah putih itu sendiri. Akibatnya anak lelaki itu akan di skors selama seminggu dari pengerjaan proyek karena sudah menyerang Sail duluan.

Cukup lama Sail berada didalam kantor. Lingga menunggu Sail di kantor kemahasiswaan sambil membawa topi hitam Sail. Lingga bisa melihat ada beberapa lubang kecil di topi hitam itu. Lingga iseng mendekatkan topi itu ke wajahnya. Ia ingin mencium aroma rambut sail dari topi itu. Wangi sampo di topi Sail sedikit terasa meski topi itu benar-benar terlihat sangat tua dan butut. ‘Topi ini pasti sangat berharga untuknya’, pikir Lingga.

Sail dan anak lelaki itu berjalan keluar dari kantor kemahasiswaan. Sekitar wajah Sail lebam dan rambutnya terlihat sedikit berantakan. Sail baru sadar bahwa ia tidak memakai topinya. Sail terlihat panik mencari topinya namun matanya langsung tertuju pada topi hitam yang kini dipegang Lingga.

Tanpa banyak bicara Sail langsung menyambar topi hitam itu dari tangan Lingga. Sail langsung memasang topi itu ke kepalanya, menatap Lingga sebentar kemudian berlalu meninggalkan Lingga sendirian. Lingga yang ingin bertanya mengenai kondisi Sail hanya bisa terdiam menatap punggung Sail yang semakin menjauh darinya.

Lingga terdiam di kamar kosnya. Seharusnya ia segera ke ruangan proyek untuk kembali menyelesaikan tugasnya namun ia terlihat malas. Ia begitu penasaran kenapa topi itu sangat berharga bagi Sail.

Siapa yang memberikan topi itu ? pertanyaan itu menggantung di kepala Lingga. Membuatnya menjadi uring-uringan dikasur. Lingga menghembuskan napasnya. Pikiran negatif muncul di kepalanya.

Jangan-jangan, topi itu diberikan oleh orang yang dicintai Sail, itu terpikirkan oleh Lingga. Lingga segera menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia menepuk kedua pipinya dan segera bangkit dari kasur untuk bersiap-siap kembali ke ruangan proyek.

Ruangan proyek ramai oleh anak-anak kelompok yang berdiskusi mengenai perkelahian yang dilakukan Sail. Sail belum datang keruangan itu.

“Sebenarnya mereka juga udah ngancam aku untuk bisa membatasi senior-senior yang membantu” jujur Indra.

Toni menarik napas. Ia mendengarkan dengan baik semua pengaduan anggota kelompoknya yang mengaku di tindas dan diancam kelompok lain.

“Ya, ini semua jadi pelajaran buat kita, jadi, mulai sekarang, apapun yang terjadi pada kelompok maupun personal harus diberitahukan, jangan ada yang diam” pinta Toni.

Semua anggota tim merah putih mengangguk mengiyakan. Sail tiba-tiba memasuki ruangan. Semua mata memandang wajahnya yang masih terlihat lebam. Sail berdiri menatap anggota tim merah putih satu persatu. Lingga hanya bertatapan sebentar saat Sail menatapnya sebelum menunduk menatap lantai.

“kalian gak usah khawatir, semua akan baik-baik saja, tidak ada yang patut disalahkan, merekanya aja yang terlalu takut bersaing dengan kalian, tanpa kami pun kalian tetap hebat” ujar Sail tegas.

“jadi semuanya ayo kembali bekerja”

Teriakan Sail menggema diseluruh ruangan. Beberapa anggota tim merah putih sampai kaget mendengar suara Sail yang begitu tegas dan keras. Beberapa anak tertawa lega kembali seraya menuju tempat masing-masing.

Lingga berjalan pelan mendekati Sail yang tengah berdiri memperbaiki mesin generator. Sail menatap Lingga sebentar lalu kembali menoleh pada mesin generator yang mulai berbunyi deru mesinnya.

“abang baik-baik saja ?”

Sail membalas pertanyaan Lingga dengan anggukan kepalanya.

“maaf aku meninggalkanmu begitu saja saat diruang kemahasiswaan, dan, terima kasih sudah membelaku saat itu” ujar Sail.

Lingga tersenyum simpul. Ia menatap generator yang semakin menderu. Diam-diam Sail menatap wajah Lingga yang tersenyum dari balik topinya.

***