Rabu, 08 November 2017

PSIKOLOGI GERONTOLOGI




PSIKOLOGI GERONTOLOGI
Usia Lanjut Indonesia

A.  PENGERTIAN USIA LANJUT
Proses menua (aging) adalah suatu proses alami pada semua makhluk hidup. Laslett (Caseli dan Lopez,1996) menyatakan bahwa menjadi tua (aging) merupakan proses perubahan biologis secara terus menerus yang dialami manusia pada semua tingkatan umur dan waktu, sedangkan usia lanjut (old age) adalah istilah untuk tahap akhir dari proses penuaan tersebut.
Di Indonesia hal-hal yang terkait dengan usia lanjut diatur dalam suatu undang-undang yaitu Undang-undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.
“Dalam pasal 1 ayat 2 undang-undang no. 13 tahun 1998 tersebut dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan lanjut usia adalah seseorang yang berusia 60 tahun keatas”
Selanjutnya pada pasal 5 ayat 1 disebutkan bahwa, lanjut usia mempunyai hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pasal 6 ayat 1 menyatakan bahwa lanjut usia mempunyai kewajiban yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dari ayat-ayat tersebut jelas bahwa usia lanjut memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara lain.
Di negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, Belanda dan beberapa negara eropa lainnya yang angka harapan penduduknya relatif lebih tinggi daripada negara berkembang, menggunakan batasan usia 65 tahun sebagai batas terbawah untuk kelompok penduduk usia lanjut, sedangkan dinegara berkembang yakni Asia, termasuk indonesiamenggunakan batasan usia 60 tahun keatas.
Ada dua pendekatan yang digunakan untuk mengidentifikasi kapan seseorang dinyatakan tua:
1.    Pendekatan biologi yakni usia biologis merupakan usia didasarkan pada kapasitas fisik/biologis seseorang
2.    Pendekatan kronologis yakni usia yang didasarkan pada hitungan umur seseorang.
Usia kronologis yang didasarkan pada umur kalender, umur dari ulang tahun terakhir. Sering terjadi kesenjangan antara umur biologis dan umur kronologis pada seseorang. Seseorang yang secara kronologis masih tergolong muda, namun secara fisik sudah tampak tua dan lemah, sebaliknya seseorang yang secara kronologis tergolong tua namun secara fisik masih nampak muda, segar, gagah dan sebagainya.
Semakin meningkat jumlah penduduk lanjut usia akan berpengaruh terhadap aspek kehidupan terkait dengan penurunan pada kondisi fisik, psikis dan sosial. Penurunan kondisi fisik akan membawa ke kondisi yang rawan dengan gangguan penyakit. Hal ini menuntut peningkatan layanan pada berbagai aspek khususnya layanan sosial pada para usia lanjut.Penurunan kondisi psikis dan sosial akan menimbulkan rasa kurang percaya diri, tidak berguna bahkan depresi. Rasa seperti kesepian itu muncul karena adanya perasaan kehilangan akibat terputusnya hubungan atau kontak sosial dengan teman atau sahabat

B.  JUMLAH PENDUDUK YANG TERUS MENINGKAT

Kondisi gizi penduduk yang semakin baik, layanan kesehatan yang semakin menjangkau rakyat banyak, meningkatnya tingkat pendidikan penduduk berdampak pada tingkat kesehatan dan kemampuan menjaga kesehatan penduduk, sehingga angka rata-rata umur harapan hidup penduduk cenderung meningkat. Meningkatnya angka rata-rata harapan hidup mencerminkan bertambah panjangnya masa hidup penduduk secara keseluruhan yang membawa konsekuensi makin bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia (BPS, 2006:1)
Meningkatnya angka harapan hidup menandakan bahwa masa tua penduduk Indonesia semakin panjang. Hasil nyata dari kondisi ini adalah meningkatnya rata-rata umur harapan hidup penduduk indonesia. Dari data statistik terlihat bahwa meningkatnya rata-rata umur harapan hidup berdampak pada jumlah penduduk usia lanjut.
Perubahan struktur umur penduduk ini berdampak tidak hanya pada aspek demografi namun juga terhadap kehidupan sosial, ekonomi, psikologis secara keseluruhan. Strukur kebutuhan penduduk juga berubah seperti kebutuhan akan pendidikan, perumahan, pelayanan, dan lain sebagainya.
PBB mengelompokkan negara-negara berdasarkan waktu penurunan angka kelahiran ke dalam tiga kategori, yaitu :
1.      Negara yang baru memasuki tahap penurunan angka kelahiran (pre-initiation countries), dimana penurunan angka kelahiran belum dimulai sebelum tahun 1990.
2.      Negara yang waktu penurunan angka kelahirannya terlambat (late-initiation countries), dimana penurunan angka kelahiran di negara tersebut baru dimulai dalam kurun waktu antara tahun 1950-1990.
3.      Negara yang waktu penurunan angka kelahirannya telah berlangsung lebih awal (early-initiation countries), dimana penurunan angka kelahiran di negara tersebut sudah dimulai sebelum tahun 1950.
Dalam klasifikasi tersebut, indonesia sebagaimana negara ASEAN oleh PBB dikategorikan pada kategori kedua.
Jumlah penduduk usia lanjut yang semakin meningkat menyebabkan ketergantungan penduduk tua (old dependency ratio) semakin meningkat pula, yang berakibat pada peningkatan beban tanggungan penduduk usia produktif. Angka yang menunjukkan tingkat ketergantungan penduduk tua pada penduduk usia produktif disebut sebagai rasio ketergantungan penduduk tua (old dependency ratio). Angka tersebut merupakan perbandingan antara jumlah penduduk tua (60 tahun keatas) dengan jumlah penduduk produktif (15-59 tahun). Ini berarti bahwa semakin besar jumlah penduduk tua maka semakin besar beban yang harus ditanggung penduduk yang lebih muda.
Pembangunan kependudukan dan sumber daya manusia merupakan upaya untuk menjadikan penduduk sebagai modal pembangunan tak terkecuali untuk penduduk usia lanjut. Indonesia sendiri tergolong dalam era penduduk berstruktur tua yang pada tahun 2010 jumlah penduduk usia lanjut di indonesia sebesar 24 juta atau 9,77% dari total jumlah penduduk. Kuroda (1991) menyatakan bahwa pertumbuhan penduduk usia lanjut di seluruh dunia akan berjalan cepat terutama pada abad 21 dimana akan menjadi abad para penduduk usia lanjut atau akan menjadi “Era Usia Lanjut”.
Perubahan struktur keluarga dan perkembangan zaman berpengaruh terhadap pelayanan perawatan usia lanjut yang cenderung menurun. Anak, dalam hal melayani orangtuanya sudah berbeda sekali jika dibandingkan dengan apa yang telah orangtua kini lakukan dalam merawat orangtuanya dulu. Ada kecenderungan bahwa sebagian besar usia lanjut tidak suka tinggal di panti werdha (jompo). Dan anak cenderung tidak setuju bila orangtua tinggal di panti. Menurutnya merawat orangtua merupakan kewajiban anak sebagai tanda bakti kepada orangtua.

Disamping itu, bagi usia lanjut yang tinggal bersama anak cucu lebih merasakan adanya kehangatan, hidup lebih bergairah dan terbebas dari kesepian. Namun bukan berarti tinggal serumah dengan anak cucu tidak menimbulkan masalah. Masalah sering muncul dalam berinteraksi yang bersumber dari perbedaan persepsi diantara keduanya. Konflik antar orangtua dengan anak dan cucu juga sering muncul.


C. PERMASALAHAN LANJUT USIA


Masalah yang biasanya dihadapi oleh usia lanjut dapat dikelompokkan ke dalam empat bagian yaitu sebagai berikut:
    1.      Masalah Ekonomi
Usia lanjut ditandai dengan menurunnya produktivitas kerja, dimana memasuki masa pensiun atau berhentinya pekerjaan utama. Hal ini berakibat pada menurunnya pendapatan yang kemudia terkait dengan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, reaksi dan kebutuhan sosial. Pada sebagian usia lanjut karena kondisinya tidak memungkinkan, berarti masa tua tidak produktif lagi dan berkurang atau bahkan tiada penghasilan. Namun pada sisi lain dihadapkan pada berbagai kebutuhan yang semakin meningkat seperti kebutuhan akan makan yang bergizi dan seimbang, kebutuhan kesehatan secara rutin, perawatan bagi menderita penyakit ketuaan, kebutuhan sosial dan rekreasi.
Penghasilan usia lanjut biasanya berasal dari pensiun, tabungan, bantuan dari anak atau anggota keluarga lainnya. Bagi usia lanjut yang tidak memiliki penghasilan yang mencukupi tentu akan menghadapi masalah. Pakar keuangan sering menyarankan para pra-usia lanjut untuk mempersiapkan diri dengan menciptakan “passive income” atau penghasilan yang diperoleh secara pasif, seperti memiliki rumah yang dapat disewakan,  tabungan deposito, memiliki usaha yang dijalankan oleh orang lain yang bisa memberikan penghasilan bagi usia lanjut tanpa harus bekerja lagi. Jika tidak, hal ini akan membuat para usia lanjut menjadi tangguan/beban bagi anak cucu atau anggota keluarga lainnya. Oleh karena itu wajar bila berkembang anggapan masyarakat, bahwa anak adalah investasi dimasa depan. Hal ini wajar karena selama ini jaminan sosial bagi usia lanjut hamper sepenuhnya berasal dari keluarga terutama anak. Jaminan sosial dari perintah sangat terbatas, berlum mampu menjangkau pemunahan kebutuhan usia lanjut. Itulah sebabnya banyak usia lanjut yang masih tetap bekerja mencari nafkah untuk bisa memenuhi kebutuhannya.
Hurlock menyatakan, apabila pendapatan orang usia lanjut secara drastis berkurang maka minat untuk mencari uang tidak lagi berorientasi pada apa kehidupan masa muda, tetapi untuk sekedar menjaga mereka agar tetap mandiri. Dalam kaitan ini penduduk usia lanjut dikelompokkan ke dalam tiga kelompok yaitu,
a.       Kelompok lanjut usia yang sudah uzur, pikun (senile) yaitu mereka yang sudah tidak mampu lagi umtuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
b.      Kelompok lanjut usia yang produktif, yaitu mereka yang mampu memenuhi kebutuhan mereka sendiri dan tidak tergantung pada pihak lain.
c.       Kelompok lanjut usia yang miskin (destitute), yaitu termasuk mereka yang secara relatif tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, seperti pekerjaan atau pendapatan yang tidak dapat mennjang kelangsuangan kehidupannya.
Di indoneia dan juga pada masyarakat non industry pada umumnya keluarga merupakan inti (basic group) menunjang kehidupan usia lanjut. Masalah mulai muncul ketika basic grup sebagai penyangga utama berlangsungnya sistem penyantunan tradisional, mengalami pergeseran. Ukuran keluarga yang semula keluarga besar (exstended family) berubah menjadi keluarga inti, keluarga kecil, (nuclear family) yang anggotanya terbatas, dengan kegiatan yang banyak meninggalkan rumah sehingga perawatan dan pelayanan kepada orang tua lebih terbatas. Berbeda dengan keluarga inti, terbatasnya anggota keluarga cenderung menurunkan layanan perawatan yang mendorong munculnya kesepian pada usia lanjut.

2          2. Masalah sosial
Memasuki masa tua ditandai dengan berkurangnya kontak sosial, baik dengan anggota keluarga, anggota masyarakat, maupun teman kerja sebagai akibat terputusnya hubungan kerja karena pensiun. Kurangnya kontak sosial ini menimbulkan perasaan kesepian, murung. Hal ini  tidak sejalan dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang dalam hidupnya selalu membutuhkan orang lain. Untuk menghadapi kenyataan ini untuk menghadapi kenyataan ini perlu dibentuk kelompok usia lanjut yang memiliki kegiatan mempertemukan para anggotanya agar kontak sosial berlangsung. Ancok menyatakan bahwa upaya menghimpun kelompok lanjut usia dalam kegiatan memungkinkan mereka berbagi rasa dan menikmati hidup.

  1. Masalah kesehatan 
Pada usia lanjut terjadi kemunduran sel-sel karena proses penuaan yang berakibat pada kelemahan organ, kemunduran fisik, timbulnya berbagai  macam penyakit degenerative. Masalah kesehatan pada umunya merupakan masalah yang paling dirasakan oleh usia lanjut. Yang diharapkan pada usia lanjut adalah bagaimana agar masa tua dijalani dengan kondisi sehat, bukan dijalani dengan sakit-sakitan untuk itu rencana hidup seharusnya sudah dirancang jauh sebelum memasuki masa usia lanjut, sudah punya rencana apa yang akan dilakukan kelak sesuai dengan kemampuannya. Kondisi kesehatan pada usia lanjut berkaitan dengan apa yang dimakan. Dengan mengatur makanan sesuai dengan kondisinya, kehidupan usia lanjut yang menyenangkan akan lebih dapat dipertahankan, tidak terlalu merasakan kehidupan yang berbeda dari saat masih muda. Selain mengatur makanan, sangat penting untuk mempertahankan katifitas agar tetap sehat. Seperti berjalan kaki, berenang, atau senam ringan. Kebiasaan membaca perlu dipertahankan karena hal ini baik sebagai latihan otak agar tidak cepat pikun.

  1. Masalah psikologis
Masalah psikologis yang dihadapi  usia lanjut meliputi kesepian, terasing dari linkungan, ketidak berdayaan, perasaan tidak berguna, kurang percaya diri, ketergantungan, keterlantaran terutama bagi usia lanjut yang miskin, postpower syndrome dan sebagainya. Kebutuhan psikologis merupakan kebutuhan akan rasa aman (the sefety needs), kebutuhan akan rasa memiliki dan dimiliki serta rasa kasih saying (the belongingness and love needs), kebutuhan akan aktualisasi diri (the need forself actualization). Kebutuhan akan rasa aman meliputi kebutuhan akan keselamatan, seperti keamanan, kemantapan, ketergantungan, perlindungan, bebas dari rasa takut, kecemasan, kekalutan dan sebagainya. Oleh karena itu, adanya aktivitas pekerjaan merupakan salah satu bentuk pemenuhan kebutuhan akan rasa aman. Dengan bekerja seseorang mampu memenuhi kebutuhan fisik sebagai makhluk biologis yang membutuhkan pangan, sandang, dan papan. Bekerja juga akan memenuhi kebutuhan akan rasa aman, tenteram, dan kepastian tentang hari-hari yang akan dating. Dalam aktivitas bekerja juga memungkinkan berinteraksi dengan orang lain yang menimbulkan rasa senang dan tidak kesepian.

D. PERHATIAN PEMERINTAH DAN MASYARAKAT TERHADAP USIA LANJUT

          Meningkatnya jumlah usia lanjut telah menarik perhatian berbagai disiplin ilmu. Pada awalnya, keberadaan usia lanjut menjadi garapan ilmu kedokteran yang memang memiliki peranan besar dalam membawa usia lanjut menjadi sehat, dengan mempengaruhi proses fisiologisnya sehingga memperpanjang hidup seseorang. Namun kemudian banyak ilmuwan dari berbagai bidang dan disiplin ilmu yang tertarik untuk mengkaji masalah usia lanjut, lebih-lebih di Negara maju. Berkaitan dengan ini munculah gerontologi, yaitu suatu pendekatan ilmiah dari berbagai aspek proses ketuaan yaitu kesehatan sosial, ekonomi, perilaku, lingkungan, dan lain-lain ( Depkes RI, 1998).
    Adapun aspek-aspek dalam gerontologi yang spesifik dan penting adalah aspek biologis, psikologis, sosial, ekonomi, dan kesehatan. Istilah gerontologi berasal dari bahasa yunani yang berarti “penelitian tentang” dan menyangkut semua segi usia lanjut, ditinjau dari berbagai disiplin ilmu. Sementara itu di bidang kesehatan muncul geriatri yang merupakan cabang dari kedokteran yang memusatkan perhatiaannya pada proses penuaan dan hubungan antara usia dengan kondisi kesehatan. 
        Perhatian pemerintah terhadap usia lanjut mulai terlihat dari GBHN 1987 yang menempatkan usia lanjut sebagai golongan yang memerlukan bantuan pemerintah dan masyarakat. Keberhasilan politis dalam perjuangan peningkatan taraf kehidupan penduduk usia lanjut di Indonesia dicapai pada tahun 1993 yakni dengan dimasukkannya permasalahan penduduk usia lanjut dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993 dengan ketetapan MPR No. VIII/MPR/1993.
          Presiden Suharto menetapkan pada tanggal 29 Mei 1996 sebagai Hari Lanjut Usia Nasional dan diperingati setiap tahun. Perhatian sebagai besar terhadap kesejahteraan sosial lanjut diberikan oleh pemerintah dengan diterbitkan perundang-undangan tentang lanjut usia yaitu : Undang-undang No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut USia yang sampai sekarang terus menerus disosialisasikan, dan Peraturan pemerintah No. 43 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Upaya Peningkatan Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia.
      Di Indonesia, kelompok masyarakat usia lanjut kadang dianggap sebagai kelompok nonproduktif, akan selalu muncul dalam setiap tatanan kelompok atau masyarakat, sejalan dengan sifat alamiah biologi tubuh manusia.

E. HARAPAN DAN TANTANGAN BAGI PARA USIA LANJUT

            Dengan sejalan bertambahnya umur seseorang maka kondisi fisik maupun nonfisik akan mengalami penurunan akibat dari proses alamiah. Terjadilah penurunan tingkat produktivitas, bahkan akhirnya tidak mampu lagi bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Disamping itu kondisi menua ini akan mendatangkan berbagai penyakit yang banyak memerlukan tersedianya dana untuk kesehatan. Semakin banyak penduduk usia lanjut, semakin besar dana yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhannya.
            Oleh karenanya, semua penduduk usia lanjut berharap dirinya tetap sehat, aktif dan berkarya dalam pembangunan bangsa yang merupakan harapan yang sangat wajar dan manusiawi. Sakit-sakitan atau sakit berkepanjangan adalah hal yang sangat tidak diharapkan. Dibalik harapan tersebut tak dapat di pungkiri, bahwa kondisi objektif para usia lanjut di samping mengalami penurunan fisik juga menghadapi masalah utama yaitu :
1.      Kesepian
2.      Merasa tidak berguna
3.      Kemunduran atau hilangnya kemandirian
Dimana kondisi ini merupakan tantangan bagi para usia lanjut. Harapan untuk tetap sehat tercemin dari berbagai upaya dan kegiatan yang ditujukan untuk menjaga kesehatan,seperti :
1.    Senam usia lanjut
2.    Mengikuti berbagai ceramah tentang kesehatan
3.    Mengatur pola makan
4.    Aktif dalam berbagai kegiatan sosial
Keinginan untuk aktif berkarya tercemin dari kemauannya untuk tetap bekerja di usia tua. Bekerja merupakan bagian fundamental kehidupan bagi hampir semua orang dewasa, baik pria maupun wanita yang mendatangkan perasaan bahagia dan puas. Suatu kenyataan bahwa dirinya mampu mendapatkan penghasilan menunjukkan bahwa dirinya merupakan manusia yang berguna dan bukan menjadi beban bagi orang lain dengan bekerja menimbulkan rasa percaya diri, harga diri, dan rasa puas dan dengan bekerja jugalah para usia lanjut terhindar dari perasaan kesepian, ketergantungan dan tidak berguna. Oleh karenanya , melarang usia lanjut yang ingin tetap bekerja selama mereka mampu adalah tindakan yang kurang bijaksana, meskipun hal ini dilandasi oleh rasa kasih sayang dan baktinya kepada orang tua. Yang lebih bijaksana adalah memfasilitasi keinginan orang tua untuk tetap bekerja, bukan melarangnya.

Psikologi Positif Bagi Kesejahteraan Usia Lanjut

Pada umumnya psikologi digunakan untuk membantu trauma emosional, mengelola masalah, mengurangi atau menghindari depresi dan sebagainya.
Martin Seligman menyatakan bahwa kini psikologi memperkenalkan orientasi baru yang disebut dengan psikologi positif. Psikologi ini menekankan pada apa yang baik dilakukan ora ng lain, dan kini mempelajari kekuatan manusia secara lebih formal, bagaimana manusia hidup lebih baik. Tujuannya agar seseorang hidup lebih positif dan terpenuhi kebutuhannya.
Salah satu kunci keberhasilan bagi usia lanjut agar tetap aktif dan bahagia diusia senja adalah pemanfaatan potensi yang dimiliki sebaik-baiknya. Kunci keberhasilan lainnya adalah menggunakan waktu sebanyak-banyaknya untuk mengerjakan atau melakukan sesuatu yang berarti atau bermakna. Usia lanjut cenderung kurang produktif, rawan penyakit, bahkan memerlukan biara keperawatan kesehatan yang cukup tinggi. Seperti yang dikemukakan oleh Qualls dan Abeles  (2000) bahwa Alliance For Aging Research yang menerbitkan sebuah brosur yang mengkaji tentang pertumbuhan jumlah usia lanjut dinegara itu yang telah menjadi penyebab tingginya  biaya keperawatan kesehatan. Dalam brosur itu ditunjukkan sesuatu yang bertentangan, dimana peneliti menemukan bahwa meningkatnya biaya, bukan pada pengeluaran biaya perawatan secara khusus, tetapi lebih pada meningkatnya uang pokok pemeliharaan kesehatan. Oleh karena itu, Alliance For Aging Research berpendapat bahwa masyarakat usia lanjut hendaknya tidak dipandang dari faktor ekonomi saja tetapi juga dari potensi yang dimiliki seperti: pengalaman, kearifan dan kemtangan emosinya yang belum dimiliki oleh yang lebih muda.
Para pakar psikologi memiliki peran yang integral dalam mengidentifikasikan bagaimana kemampuan fungsional berubah seiring dengan meningkatnya usia dan bagaimana usia lanjut memiliki dan membentuk karakteristik yang positif  yang kurang dimiliki oleh yang lebih muda. Pikiran para ahli psikologi ini memiliki arti yang sangat penting dan strategis dalam meningkatkan kualitas hidup penduduk usia lanjut.

F. ARTI PENTING PEMBERDAYAAN BAGI PARA USIA LANJUT

Pada dasarnya pemberdayaan mengandung dua pengertian atau kecenderungan, yaitu:
1.    Pemberdayaan menekankan pada proses pemberian, memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan atau kemampuan kepada masyarakat atau individu agar lebih menjadi berdaya. Proses memberi atau mengalihkan kekuatan atau kekuasaan ini menurut Okley dan Marsdan dapat dilengkapi dengan membangun aset material guna pemdukung pembangunan kemandirian melalui organisasi-organisasi.
2. Menekankan pada proses menstimulasi, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya dengan menggunakan potensi kritis yang ada pada dirinya, seperti yang dikemukakan oleh Paulo Freire (1972). Proses menstimulasi ini tidak selamanya harus berasal dari luar dirinya, tetapi dari dalam diri juga bisa.
Usia lanjut sering dipersepsikan sebagai orang yang tidak mampu menghasilkan apa-apa atau tidak produktif lagi. Tetapi disisil lain kelompok ini masih  bisa produktif, karena memiliki kelebihan lain yaitu memiliki keunggulan pengalaman yang luas dan panjang, memiliki kearifan dan kematangan emosi. Usia lanjut sering dipandang sebagai beban keluarga, identik dengan rentan terhadap berbagai penyakit, dan memerlukan biaya yang tinggi. Gambaran usia lanjut tidak produktif memunculnya ada gerakan, berupa gejala benyaknya usia lanjut yang ingin tetap mandiri, tidak membebani dan tidak menyusahkan orang lain.
Pada dasarnya usia lanjut tidak mau menjadi beban keluarga atau orang lain, meskipun keluarga itu anak cucunya sendiri. Sebaliknya pada diri orang tua mungkin selalu ada keingginan untuk terus menerus memberi kepada anak cucunya.  Bisa memberi kepada anak cucunya akan mendatangkan rasa puas bagi usia lanjut yang bersangkutan. Perasaan puas sebagai ungkapan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk memberi sesuatu membangitkan harga diri san kepercayaan diri. Oleh karena itu upaya memberdayakan usia lanjut untuk mandiri merupakan upaya yang perlu dilakukan secara terus-menerus.
Pemberdayaan usia lanjut mengacu kepada upaya pengembangan daya (potensi) individu maupun kolektif penduduk usia lanjut sehingga mereka dapat meningkatkan kemampuannya dalam berbagai aktivitas baik sosial, ekonomi, maupun politis. Untuk menciptakan kondisi tersebut perlu ada intervensi atau stimulus yang berasal dari luar. Sebab keinginan penduduk usia lanjut untuk  berkembang tidak terlepas dari kemampuan individu yang ditentukan oleh tingkat pendidikan dan keterampilan, lingkungan serta konteks budaya.
Pranarka dan Moelyarto menyebutkan dalam melakukan pemberdayaan terlebih dahulu perlu memahami dua hal, yaitu power dan empowerment. Power adalah bagaikan bangunan dasar, sedangkan empowerment adalah bagaikan bangunan atasnya. Dengan demikian, empowerment perlu dilandasi oleh power.
Pemberdayaan bagi usia lanjut apalagi yang sifatnya produktif sangatlah penting karena akan mendatangkan rasa berguna dan rasa puas dan juga membawa implikasi sosial tidak saja bagi usia lanjut itu sendiri, keluarga tetapi juga pada masyarakat. Darmojo (2000) mengatakan kegiatan-kegiatan dan hobi beranekaragam memungkikan usia anjut masih merasa bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat. Perasaan ini telah cukup dapat memberi dorongan hidup bagi usia lanjut sehingga tak akan mengalami apa yang disebut pension-stress atau post power sindrome.




Senin, 23 Oktober 2017

HIJRAHKU BERSAMAMU, SAHABAT

Pict From : IG @emendea_508
HIJRAHKU BERSAMAMU, SAHABAT
Gina berjalan pelan keluar dari ruang kelas dikampusnya. Gadis berkerudung dalam itu kini tengah asyik menyusuri lorong kampus sambil sesekali melihat mading yang ada. Salah satu pamflet mengenai sebuah lomba Fotografi sedikit mengusik rasa ingin tahunya. Setelah ia mencatat nomor contact person di ponselnya ia kembali berjalan menuju parkiran untuk mengambil kendaraan bermotornya.
Suara adzan terdengar dan Gina merapatkan kendaraannya pada salah satu masjid yang berada ditepi jalan. Selesai shalat Gina duduk sebentar di pelataran teras masjid yang sejuk sambil memeriksa ponselnya. Hanya beberapa pesan yang terbaca olehnya sampai ia dikejutkan oleh colekan sebuah tangan pada pundaknya.
“Gina!”
Gina membulatkan matanya memandangi sosok yang sedang berdiri dihadapannya.
“Tania ?” sapa Gina ragu-ragu
“MasyaAllah Gina, ya ampun kok bisa ketemu disini ya kita ?” gelak Tania.
Gina masih terdiam hingga bayang-bayang masa lalu berkelebat dikepalanya.
Tania. Ya, Tania Ramadhani, seorang teman SMA gina dahulu. Mereka bertemu saat ospek masuk SMA dan mereka sekelas saat kelas 1. Masa kelas 1 selalu mereka habiskan bersama dengan menyenangkan. Mereka sering Hang Out bareng dan sudah mengenal keluarga masing-masing karena baik Gina maupun Tania sering berkunjung kerumah satu sama lain. Mereka benar-benar lekat hingga ada julukan dimana ada Gina selalu ada Tania. Saat kenaikan kelas mereka terpisah karena Gina mengambil jurusan IPA sedangkan Tania mengambil jurusan IPS. Namun walaupun mereka sudah terpisah kelas mereka masih dekat dan masih sering Hang Out satu sama lain walau sekarang mereka juga sudah punya teman-teman baru di kelas masing-masing.
Dikelas IPA sekarang, Gina berkenalan dengan salah seorang anggota Rohis. Rahma namanya. Rahma adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga yang agamis. Ayah Rahma merupakan seorang Ustadz sekaligus Dosen. Gina mulai akrab dengan Rahma yang penampilannya benar-benar terlihat anggun dan begitu Syar’i.
“kenapa make kerudung yang kayak gini sih, Ma ?” Tanya Gina penasaran
“karena kita perempuan gin, hehe” gelak Rahma
“iya, aku tahu, tapi kan kebanyakan perempuan make kerudungnya biasa aja tuh, gak kayak kamu, beda sendiri”
“ini itu kerudung yang dibilang di Alquran, Gin, dimana kita mengulurkan hijab kita menutupi dada dan gak terawang serta mencetak badan”
“emang gak panas, Ma ?”
“awal-awal mungkin iya, tapi setelah terbiasa enggak kok, malah adem dan melindungi”
Gina memperhatikan Rahma yang sedang tersenyum manis dihadapannya sekarang sambil sesekali membetulkan hijabnya. Mereka baru selesai shalat di masjid sekolah. Gina tersenyum melihat betapa cantiknya Rahma dengan kerudungnya yang berbeda dari anak lainnya.
Saat keluar dari masjid sekolah tiba-tiba Gina melihat sosok bayang Tania. Tania terlihat sedang kumpul dengan teman-temannya tak jauh dari lokasi masjid. Gina sedikit berteriak menyapa Tania sembari melambaikan tangannya. Namun tiba-tiba salah seorang teman Tania yaitu Anggi berteriak.
“eh, itu ada ninja hatori lewaaaat, wuusshh” ejek Anggi yang disambut gelak tawa teman-temannya yang lain tak terkecuali Tania.
Gina bisa merasakan pipinya memerah. Gina tahu mereka mengejek Rahma karena cukup sering Rahma dibilang seperti ninja hatori, fanatik, teroris, taplak lebar berjalan, sok alim dan lain sebagainya oleh anak-anak lain terutama oleh rombongan anak-anak IPS yang notabene kebanyakan bahkan tak memakai kerudung, termasuk Tania. Gina sudah akan mengeluarkan kata-katanya sebelum ia ditahan oleh Rahma.
 “kamu kok selama ini gak ngebalas sih, Ma ? mereka jahat banget tahu” kesal Gina
“mereka gak jahat kok, Gin, mereka cuma belum tahu” ujar Rahma tenang namun Gina masih belum bisa mengendalikan ekspresinya hingga membuat Rahma tertawa.
“aku tahu, memang kadang kesal juga sih denger mereka bilang gitu, tapi Abi bilang kita harus sabar, dan kasi tahu mereka kalo inilah hijab yang sesungguhnya diperintahkan Allah, tapi sebaik-baik pakaian itu adalah pakaian Taqwa, tak hanya berhijab kita juga harus memperbaiki akhlak kita salah satunya dengan gak balas semua perlakuan jahat mereka ke kita. Jadi intinya kita pake hijab lalu perbaiki diri” ujar Rahma dengan senyum.
Gina tersentuh mendengar ucapan Rahma. Dalam hatinya ia bertekad untuk mengubah cara berkerudungnya menjadi lebih syar’i. Esoknya Gina benar-benar berubah. Tak hanya dari segi penampilan, Gina juga berusaha memperbaiki akhlaknya. Namun ternyata hijrah tak semudah yang dibayangkan Gina. Syukur orangtua Gina mendukung pilihannya namun tidak dengan sebagian teman-teman Gina. Salah satunya Tania. Beberapa kali Tania terlihat tidak nyaman saat mereka Hang Out bareng dengan penampilan baru Gina yang syar’I dan juga dengan semua penjelasan Gina kepadanya tentang hijab syar’i. Hingga suatu hari Tania mendatangi Gina dengan raut kesal.
“kok kamu berubah sih, aneh gitu ?” Tanya Tania dengan sinis
“berubah gimana maksudmu ?” Tanya Gina heran
“iya, kamu jadi seperti ninja hatori gini!”
“lah, terus memangnya kenapa, Tan ?”
“aku malu tahu, aku jadi sering diejek dikelas karena kita itu temen deket, aku terus dibilang sahabatnya ninja hatori bahkan sampe digelari itu, aku gak suka!” teriak Tania dengan emosi marah.
Gina terdiam. entah kenapa hatinya sakit mendengar sahabatnya berkata seperti itu.
“ini pasti karena si Rahma itu kan ? yang membuat kamu kayak gini, stop aja deh berteman sama dia, kamu jadi aneh tahu!” Tania masih mengeluarkan semua uneg-unegnya yang selama ini disimpannya.
“enggak, Tan, ini semua murni keinginan hati aku, aku pengen berubah, aku pengen hijrah jadi lebih baik, bukan karena Rahma, kamu jangan nge-Judge Rahma”
“kalo gitu kita gak usah bareng-bareng lagi, Gin” ujar Tania pelan
Gina membulatkan matanya. Dadanya semakin sesak sekarang.
“kamu gak mau temenan sama aku lagi, Tan ?”
Tania terdiam. Ia menundukkan pandangan matanya menatap rumput yang ada dikakinya sebelum akhirnya Tania beranjak pergi meninggalkan Gina yang kini terisak sendiri dibawah pohon rindang taman sekolah.
well, kalo kamu maunya gitu, yaudah, tapi aku tetap nganggap kamu sahabat aku kok, seperti kata Rahma, kamu cuma belum tahu, besok kalo kamu udah tahu, aku yakin kita bakal jadi temen lagi” ujar Gina dalam hati dengan perlahan menghapus airmatanya.
Gina mulai tersadar dari lamunannya. Ia benar-benar memperhatikan Tania dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tania sudah berubah total dengan penampilan syar’i. Tania terlihat malu melihat Gina yang masih menatapnya dari atas hingga kebawah.
“maafin aku, Gin, maafin aku waktu dulu malah ninggalin kamu dan ngehancurin persahabatan kita” ujar Tania lirih
Tania mulai mengajak Gina untuk duduk dan mendengarkan kisahnya bagaimana ia bisa hijrah. Tania bercerita bahwa ia mulai hijrah sejak ia semester tiga dibangku perkuliahan. Ia mengikuti sebuah forum lembaga dakwah kampus yang membimbingnya menemukan ketenangan diri. Sejak ia memutuskan untuk meninggalkan persahabatannya dengan Gina memang awal-awal ia merasa bebas dan teman-teman sekolahnya tidak lagi mengejeknya namun entah kenapa hatinya terasa aneh. Ia merasakan bagaimana hidupnya  sia-sia dengan lingkungan pergaulannya yang semakin kacau dan bebas. Tania bercerita bahwa ia benar-benar mantap merubah hidupnya saat kematian salah seorang temannya.
“saat itu aku berpikir kalo maut gak mengenal usia, Gin, dan aku takut aku bakal meninggal dengan banyak penyesalan, aku gak mau” isak Tania lirih.
“setahun terakhir aku mencoba merubah semuanya, ya, teman-temanku yang lama mulai menjauh seperti dulu aku menjauhi kamu, tapi, aku gak sedih, Gin, karena dari itu aku tahu kalo Allah lebih tahu mana yang baik untuk aku, dan Alhamdulillah, aku dikasi teman-teman baru yang membantu aku untuk istiqomah dalam hijrahku”
“sampai akhirnya aku inget kamu, Gin, sejak beberapa bulan terakhir aku coba cari kontak kamu tapi saat itu gak dapat, dua bulan yang lalu aku dapat kontak kamu dari Rahma, tapi aku takut buat menghubungi kamu, aku takut kamu gak mau nerima aku lagi, Gin, karena kesalahan aku yang dulu jahat sama kamu” Tania menunduk menatap lantai masjid.
“aku minta maaf, Gin, aku….”
Belum sempat Tania menyelesaikan kata-katanya, Gina sudah merangkul dan memeluk sahabatnya yang telah lama ia rindukan.
“aku tuh bakal nerima kamu kapanpun dan bagaimana pun kondisi kamu, Tan, kamu itu sabahat aku dan tetap bakal jadi sahabat aku selamanya” isak Gina dipundak Tania. Tania menghembuskan nafasnya lega dan menitikkan airmata merangkul Gina. Ia benar-benar bahagia sekarang.
“kamu bener, Ma, kamu bener, dulu Tania belum tahu, sekarang Tania sudah tahu”
Gina dan Tania keluar masjid dengan saling bergandeng. Sudah lama mereka tidak melakukan hal itu. Tania bertanya hendak kemana Gina selanjutnya. Gina berkata bahwa dia ingin mendaftar lomba Fotografi dan ingin membayar insert-nya. Gina mengatakan bahwa ia akan pergi ke salah satu Bank syariah.
“kenapa harus Bank Syariah, Gin ?”
“kan kalo hijrah gak boleh setengah-setengah, Tan, termasuk soal uang, Bank biasa itu pake sistem Riba, kan Riba diharamkan Allah” ujar Gina menjelaskan
Tania tampak mengangguk pelan.
“kalo gitu lain kali temenin aku juga ya untuk buka rekening baru di Bank Syariah” pinta Tania yang disahut dengan anggukan dari Gina.