"SESEORANG ITU"
Aku membidikkan kamera ku beberapa kali. Ini
sungguh menyenangkan. Aku baru saja mendapat kamera ini sebagai hadiah ulang
tahun ke-19 ku. Dikampus langsung aku pamerkan ke teman-teman ku. Teman-teman
ku bilang kamera ku sangat bagus, modis, dan cocok untukku. Aku sungguh bahagia
mendengarnya.
![]() |
| pict from Google |
Ketika tengah menunggu bus yang datang untuk
pulang, iseng aku mengeluarkan kamera ku. Membidik beberapa objek yang
menurutku menarik minat ku. Namun entah kenapa, hari ini begitu berbeda, entah
kenapa ada suatu perasaan dalam diri ini yang begitu lain.
Tiba-tiba saja aku melihat sebuah scene dalam
lensa ku, aku melihat bagimana “seseorang itu” berjalan dengan sedikit tertatih
ditemani oleh seorang pria muda disampingnya, kubidik sekali, terpikir olehku
bagaimana bisa “seseorang itu” membawa beban selama 9 bulan seorang diri,
dimana mungkin sakitnya tak tertahankan ketika mengeluarkan beban itu dari
dirinya, membayangkan saja begitu ngeri, aku tak berani memikirkan ketika itu
semua terjadi padaku.
Lalu tak selang beberapa lama aku melihat
“seseorang itu” yang lain datang ke sisiku hendak menunggu bus datang pula
sedang menggendong sikecil yang begitu mengantuk di bahunya. Aku bisa melihat
dengan jelas bagaimana beratnya sikecil bagi “seseorang itu”, namun tak tampak
olehku sedikit pun wajah mengeluh pada “seseorang itu”, sekarang aku
benar-benar heran akan keadaan itu. Ketika “seseorang itu” naik ke bus arah
tujuannya, aku membidikkan sekali lagi lensa ku, Nampak punggung belakangnya
yang mana pundaknya telah basah oleh air liur sikecil yang begitu nyenyak tidur
tersebut. Kembali aku tidak mampu membayangkan aku membawa beban seperti itu
setiap harinya yang pasti akan langsung membunuh tubuhku.
Agak beberapa lama menunggu, kembali tampak
olehku sebuah pemandangan aneh. Tampak olehku “seseorang itu” yang mengantar
sikecil yang berpakaian sekolah dasar kesekolah dengan berjalan kaki, tampak
diwajah “seseorang itu” tersungging sebuah simpul senyum menawan. Takjub
langsung kubidik pemandangan itu, entah mengapa didalam sanubari ada sedikit
perasaan tersentuh seperti aku pernah merasakan sesuatu yang sangat berharga.
Setelah “seseorang itu” tadi berlalu, mulai lagi
ada suatu pemandangan yang menarik minat ku lagi, kulihat dari jauh bagaimana
“seseorang itu” yang separuh baya sedang menunggu dibawah panasnya terik
matahari yang begitu menyengat kulit di seberang jalan. Dia melihat-lihat
kearah ku, aku langsung melihat sekeliling. Baru kusadar bahwa didepan ku ada
seorang anak berpakaian sekolah yang hendak menyeberang. Namun kembali seperti
sesuatu ada yang mengiris sanubariku tatkala melihat “seseorang itu”
menyeberangi lalu lalang kendaraan yang begitu padat dan ramai, dan itu tak
membuat nyali nya ciut untuk menuju ke arahku. Aku memandanginya sejenak ketika
ia sampai didepan ku dan langsung menggandeng tangan si anak sekolah tadi
dengan penuh cinta dan perlindungan yang sepenuh hati. Kembali kubidikkan
kearah “seseorang itu” dengan rasa aneh tadi yang menghinggapi hatiku.
Dan yang paling membuatku merasa heran, tatkala
aku sudah masuk ke dalam bus, aku melihat seseorang itu yang sudah berumur
sekitar 60-an. Ada bangku kosong disampingnya. Langsung saja aku duduk disana.
Aku tersenyum, dia balas tersenyum.“dari mana bu ?”“dari kampung nak”“mau
ngapain ke kota ?”“anak saya mau skripsi nak, saya nemenin dia, biar dia sehat
tidak terlalu stress ngejalanin skripsinya”Sambil berkata demikian kulihat dia
menggenggam erat sesuatu yang tampak seperti barang kesayangan sang anak, lalu
tampak pula kembali sebuah senyum tersungging di bibir keriputnya yang nampak
menghitam.
Aku benar-benar terenyak, betapa perasaan yang
begitu mengganggu ini semakin kuat didalam diriku. Sejenak setelah terperangah
aku mengambil kameraku, dan aku meminta kepada “seseorang itu” untuk mengangkat
sedikit benda yang dipegangnya dan aku foto dirinya yang sedang tersenyum
bahagia itu. Aku tunjukan padanya foto dirinya dan dia semakin tampak bahagia.
Bisa kulihat itu di wajahnya. Seperti semua keriput itu telah hilang dari
wajahnya.
Bus melaju dengan tenang dan teratur, dan
akhirnya aku tiba ditempat pemberhentianku. Aku turun masih dengan perasaan
mengganggu tadi dibenak ku. Aku berjalan melamun dengan pelan sambil memandangi
semua bidikan-bidikan yang ku ambil tadi, mencoba menelaah perasaan yang
mengganggu ini. Sampai akhirnya aku tiba didepan rumahku, dan tampak oleh ku
ternyata “seseorang itu” berdiri menyambutku pulang.
Aku terdiam, sekarang aku mengerti perasaan apa
yang menghinggapi ku sedari tadi. Ya, kejadian tadi seolah-olah kejadian 19
tahun yang lalu yang terjadi oleh ku berkat diri “seseorang itu”. Ya, aku
merasakannya, aku semakin yakin bahwa itu seperti flashback yang tuhan berikan
melalui kejadian nyata dikehidupan sekarang untuk menyadarkanku bahwa aku masih
memiliki “seseorang itu”. Segera aku berlari memeluk “seseorang itu” dengan
erat. Seseorang yang begitu penuh kasih dan cinta yang mempunyai peran penting
dalam hidupku, “seseorang itu”.... IBU.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar