Sabtu, 27 Juli 2019

PURNAMA KE-5




PURNAMA KE-5

Proyek tim merah putih baru sepertiga jalan. Mereka sepakat membuat sebuah alat generator listrik yang bertenaga air sungai untuk desa Semayang. Itu usulan indra yang langsung di mentori oleh Sail. Sail banyak mengajari indra dan anak-anak dibidang teknik lainnya dalam membuat generator itu. Sail terlihat sabar dan mampu menjelaskan dengan baik setiap bagiannya.

Lingga sesekali mencuri-curi waktu untuk melihat anak-anak dibidang teknik melakukan tugasnya. Tak kurang dan tak lebih hanya untuk melihat Sail yang sedang bekerja dengan topi hitamnya. Lingga tersenyum sebentar kemudian berlalu meninggalkan tempat anak-anak teknik yang masih bergumul dengan generator yang belum separuh jadi.

Sudah jam 5 sore. Sail, Indra dan Toni masih standby didalam ruangan berdiskusi mengenai alat generator sementara anak-anak yang lain mulai beranjak pulang. Indra dan Toni benar-benar mentok pada satu bagian generator. Sail berusaha memeriksa dimana letak kesalahan mereka. Toni yang terlihat lelah meminta izin untuk keluar mencari angin sebentar.

“Kau sudah shalat ashar, Indra ?” tanya Sail.

Indra membulatkan matanya. Ia menggeleng pelan yang langsung dibalas dengan melototnya mata Sail. Tanpa disuruh indra segera ambil langkah seribu meninggalkan Sail sendirian bergumul dengan generator yang masih bermasalah.

“Masih bermasalah ya ?”

Sebuah suara memecahkan keheningan didalam ruangan. Sail menoleh ke sumber suara. Sail melihat Lingga yang berdiri didepan pintu. Lingga berjalan pelan mendekati Sail yang langsung mengalihkan perhatiannya pada generator.

“Jangan terlalu lelah, bang Sail sudah banyak membantu kami” ujar Lingga sambil meletakkan sesuatu.

Sail menatap minuman kaleng penyegar energi yang diletakkan Lingga diatas meja. Sail kemudian melanjutkan lagi pekerjaannya mengabaikan Lingga. Lingga menatap Sail. Sail memakai baju kaus polos yang sudah kotor penuh dengan oli dan gomok. Namun Sail masih setia memakai topi hitamnya.

“Apa kau tidak ada tugas lain selain mengamati orang seperti sebuah sensor ?” tanya Sail tiba-tiba.

Lingga tersekat. Ia terbatuk sebentar kemudian berusaha mengatur ekspresinya.

“Aku hanya ingin melihat-lihat” ujar Lingga asal.

“Melihat proyek atau melihat aku ?” tanya Sail dingin.

Lingga membulatkan matanya. Ia tidak percaya dengan kata-kata Sail barusan. ‘Hei, dia tidak sedang bercanda kan ?’, tanya Lingga dalam hatinya.

“Aku tidak tahu abang bisa begitu ge-er” ujar Lingga pelan.

Sail tidak menyahut. Ia berusaha mengangkat kotak aki yang lumayan berat. Lingga sedikit berpindah posisi untuk memberikan ruang yang lebih luas pada Sail.

“Kenapa abang selalu memakai topi ?” tanya Lingga akhirnya.

Sail memperbaiki posisi aki kemudian menepuk debu di kedua tangannya yang telah kotor karena oli. Ia menatap Lingga dingin. Lingga hanya menelan ludah ditatap seperti itu oleh Sail. Sail menghembuskan napasnya pelan. Ia memberikan sebuah kabel pada Lingga.

“Bisa kau bantu pegang ini” ujar Sail.

Lingga menyambut kabel yang diberikan Sail. Ia sedikit cemberut karena Sail mengabaikan pertanyaannya. Lingga iseng bertanya tentang kabel tersebut yang langsung dijawab Sail. Lingga kembali bertanya mengenai generator. Sail menjawab dengan santai semua bagian generator yang ditanyakan Lingga. Lingga sampai lupa kesalnya tadi karena sudah tertarik dengan generator yang membuatnya bertanya lebih banyak lagi pada Sail. Namun Sail menjawab semua pertanyaan Lingga dengan sabar dan penjelasan yang baik sehingga mudah dipahami oleh Lingga.

Toni dan indra sudah kembali keruangan. Lingga terlalu asyik dengan pengetahuan barunya sadar seharusnya ia segera beranjak pulang. Lingga berterima kasih pada Sail atas ilmu yang sudah Sail berikan. Tadi juga Lingga bercerita tentang tugasnya mendongeng dan iseng meminta bantuan Sail sesekali untuk ikut mendongeng. Lingga menyangka bahwa Sail akan menolak namun rupanya Sail malah mengangguk mengiyakan.

Sebelum keluar meninggalkan ruangan, Lingga kembali menatap Sail dengan senyumnya. Yang ditatap masih asyik menjelaskan sesuatu pada Indra dan Toni karena Sail sepertinya berhasil menemukan letak kesalahan pada mesin generator ini (berkat pertanyaan Lingga juga yang menyadarkan Sail letak kesalahannya) sehingga mengabaikan Lingga yang perlahan meninggalkan ruangan.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar