Kamis, 29 Agustus 2019

PURNAMA KE-6




PURNAMA KE-6

Sudah tiga bulan proyek tim merah putih berjalan. Semua berjalan lancar dan terkendali. Lingga pun begitu asyik dengan bidang mendongengnya. Sesuai dengan janjinya, Sail menyempatkan datang ke salah satu sekolah dimana Lingga biasa mempraktekkan ilmu mendongengnya bersama dengan beberapa teman komunitas mendongeng yang di ikuti Lingga.

Lingga mendongeng dengan sangat baik. Anak-anak begitu antusias mendengarkan Lingga yang mendongeng dengan teknik yang menarik walau masih dengan alat seadanya. Lingga memperkenalkan Sail. Lingga meminta Sail untuk mendonger satu dua buku. Sail mengambil salah satu buku yang menarik perhatiannya. Sayang Sail mendongeng dengan ekspresi dinginnya. Namun anak-anak masih terlihat berusaha menghargai Sail yang sudah mau mencoba.

Lingga terkekeh saat mereka berjalan pulang bersama anak-anak komunitas mendongeng lainnya.

“Aku tidak menyangka cara abang mendongeng akan seburuk itu” ujar Lingga ceplas ceplos.

“Kau tau, aku memikirkan sebuah konsep untuk membantu bidang mendongengmu, dengan latar proyektor ditambah beberapa lampu elektrik sederhana sehingga mendongengmu akan menjadi lebih baik” ujar Sail dingin.

Lingga cemberut. Sail sama sekali tidak mendengar guyonannya barusan. Sail malah asyik bergumul dengan pikirannya terkait teknologi terbaru untuk bidang mendongengnya. Lingga menghembuskan napasnya berat. Suasana hati Lingga sekarang sedang bagus. Ia tidak ingin merusaknya. Lagipula Lingga tahu Sail berniat membantunya.

Lingga tersenyum menatap jalanan. Udara malam menusuk tubuhnya.

“Aku sangat senang abang mau menepati janji untuk ikut kelas mendongeng bersama anak-anak” ujar Lingga pelan.

Sail menatap Lingga yang juga tengah menatap dirinya. Kemudian mengalihkan pandangannya ke jalanan. Sail masih belum tersenyum dan masih terlihat jutek. Tapi itu cukup menggemaskan bagi Lingga. Lingga kembali menatap topi hitam yang melekat dikepala Sail. Ia hendak bertanya lagi mengenai topi itu namun urung karena Sail berkata ia akan singgah sebentar di chicken area.

Lingga mengangguk. Hubungannya hanya berjalan seperti biasa di ruang proyek dengan Sail. Sekedar menyapa dan bertanya kabar setelah itu Sail akan terbenam dengan generatornya. Lingga hanya tersenyum simpul dan kembali melanjutkan perjalanannya dengan rombongan komunitas mendongengnya.

Di asramanya Lingga dan kedua sahabatnya kerap pergi keatap asrama untuk melihat pemandangan kota yang indah terutama pada subuh dan malam hari. Lingga kerap termenung memikirkan pertama kalinya dia bertemu dengan Sail yang selalu tanpa sengaja. Ia teringat ucapan resti yang mengatakan apabila ada seorang perempuan bertemu dengan seorang lelaki tanpa sengaja sebanyak tiga kali maka mereka akan berjodoh.

Iseng Lingga menghitung pertemuan tanpa sengaja dirinya dengan Sail. Lingga mengingat semuanya dan ia tak tahu kenapa ia bisa mengingat dengan detail setiap pertemuannya dengan Sail. Pertama diruang serba guna auditorium, kedua di tempat servis, ketiga di chicken area, dan yang ke empat di ruang proyek. Lingga mengerjapkan matanya. Ia tertawa malu-malu menutup muka dengan tangannya. Lingga bisa merasakan wajahnya panas memerah.

Resti iseng menimpuk Lingga dengan popcorn. Nayla terkekeh jahil melihat tingkah Lingga yang mulai termenung sendiri, tertawa sendiri, menggeleng sendiri dan segala macamnya yang dirasakan oleh orang yang sedang jatuh cinta.

“Kau benar-benar keterlaluan, Ngga, bagaimana bisa kau jatuh cinta pada seorang pria yang bertipe seperti Sail ?” ujar Resti.

“Atau jangan-jangan ucapan kau jadi doa, Res, kau kan pernah berkata bahwa mereka jodoh” Seru Nayla dengan suara nyaringnya memecah keheningan malam di atap asrama.

Resti mendongak tak percaya. Lingga kembali melotot ke kedua sahabatnya.

Diruangan proyek semua kembali seperti biasanya. Lingga hanya sekedar menyapa Sail dan bertanya kabar sebentar kemudian berlanjut pada kesibukan masing-masing. Tak ada yang spesial diantara mereka.

Namun suatu malam setelah magrib, saat semua anak-anak masih asyik mencari makan malam, Lingga kembali iseng mendatangi Sail di ruangan proyek. Ia memikirkan Sail yang akhir-akhir ini terlihat lebih sibuk namun tidak dengan generatornya melainkan dengan sesuatu alat yang baru. Lingga segan bertanya pada Sail maupun pada teman-teman tekniknya yang lain.

Lingga menyapa Sail yang masih berkutat dengan alatnya. Lingga kembali meletakkan sebuah minuman energi ke atas meja. Lingga hanya menatap kembali Sail yang masih sibuk dengan perkakasnya. Ia memperhatikan Sail yang memakai kaus polos dengan celana jeans dan masih dengan topi hitamnya.

Sail mengangkat wajahnya menatap Lingga. Lingga yang kembali ketahuan tengah memperhatikan Sail jadi salah tingkah. Lingga berusaha mengendalikan ekspresinya.

“Lihatlah” ujar Sail pelan namun masih dengan dingin.

Lingga mengerutkan dahinya. ‘Lihat apa ?’ tanyanya dalam hati.

Sebuah tampilan di dinding ruangan muncul tiba-tiba. Lingga menatap sumber tampilan itu. itu berasal dari sebuah proyektor yang berhasil di modifikasi sehingga bisa menampilkan gambar yang masih tetap menyala meski dengan adanya cahaya penerangan yang kuat.

Sail berjalan menuju sakelar. Ia mematikan lampu. Lingga memperhatikan dengan tenang. Sekarang Sail mulai mencoba menghidupkan generator. Dua kali tarikan generator Sail berhasil menyala. Lampu-lampu kerlap kerlip dengan sinar yang saling terhubung satu sama lain mulai menyala.

“Ini hanya sambungan sederhana kabel listrik, generatornya masih setengah jadi, jika benar-benar sudah sempurna mungkin bisa membantu ruangan proyek ini dengan listrik yang di alirkannya dari gentong air itu” ujar Sail menjelaskan sambil menunjuk sebuah gentong air berukuran sedang.

“Dan ini, ini proyektor untuk bidangmu, jadi bisa digunakan untuk diluar ruangan atau alam terbuka. Seperti proyektor tiga dimensi, tetap bisa menampilkan gambar meski ada cahaya terang” ujar Sail mantap.

Lingga mengerjapkan matanya menatap tidak percaya. Pemandangan didalam ruangan proyek sangat indah dilihat oleh Lingga. Dengan lampu kerlap kerlip, proyektor yang menampilkan gambaran 3D dari potongan cerita di buku dongeng yang dulu sempat dibaca Sail.

Lingga tersenyum lebar. Ia mendekati dinding tempat tampilan proyektor. Mencoba menyentuhnya walau ia tahu itu hanyalah gambar fana. Lampu kerlap-kerlip kembali menarik hatinya.

“Ini menakjubkan” ujar Lingga terpana.

“Kau benar-benar hebat, abang Sail” ujar Lingga tersenyum menatap Sail.

Sail menghembuskan napasnya pelan. Ia mendekat ke meja. Mengambil minuman energi yang diletakkan Lingga tadi disana. Sail meminum minuman itu dengan khidmat sembari duduk bersandar di meja menatap hasil karya dirinya. Lingga bisa melihat Sail cukup bangga dengan apa yang sudah di lakukannya.

“wah, ini benar-benar keren, teman-teman, lihatlah kemari” suara Indra yang memanggil anak-anak tim merah putih lainnya mengagetkan Lingga dan Sail.

Satu persatu anak-anak tim merah putih yang memasuki ruangan mendecak kagum. Seolah berada di negeri khayangan menatap kerlap kerlip dan tampilan 3D di dinding.

Lingga tersenyum menatap riang di wajah mereka. Perlahan ia kembali melirik ke arah Sail. Ternyata Sail juga tengah melirik ke arah Lingga. Lingga menyadari Sail barusan memandangnya dan saat Lingga menatap Sail, Sail langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Sail langsung memperbaiki bentuk topinya seolah sedang salah tingkah. Sail segera beranjak menarik Toni, Indra serta beberapa anak-anak lainnya. Menjelaskan sesuatu pada mereka mengenai generator.

Lingga tersenyum malu-malu masih menatap ke arah Sail yang kembali terbenam dengan generator. Lingga tak menyadari bahwa Ardi memperhatikannya.


***

1 komentar:

  1. Saya tertarik dengan blog yang anda miliki, bagaimana saya bisa berhubungan langsung dengan anda untuk dapat lebih spesifik membahas hal yang terkait dengan blog anda

    BalasHapus