PURNAMA
KE-6
Sudah tiga bulan proyek tim merah
putih berjalan. Semua berjalan lancar dan terkendali. Lingga pun begitu asyik dengan
bidang mendongengnya. Sesuai dengan janjinya, Sail menyempatkan datang ke salah
satu sekolah dimana Lingga biasa mempraktekkan ilmu mendongengnya bersama
dengan beberapa teman komunitas mendongeng yang di ikuti Lingga.
Lingga mendongeng dengan sangat
baik. Anak-anak begitu antusias mendengarkan Lingga yang mendongeng dengan
teknik yang menarik walau masih dengan alat seadanya. Lingga memperkenalkan Sail.
Lingga meminta Sail untuk mendonger satu dua buku. Sail mengambil salah satu
buku yang menarik perhatiannya. Sayang Sail mendongeng dengan ekspresi
dinginnya. Namun anak-anak masih terlihat berusaha menghargai Sail yang sudah
mau mencoba.
Lingga terkekeh saat mereka
berjalan pulang bersama anak-anak komunitas mendongeng lainnya.
“Aku tidak menyangka cara abang
mendongeng akan seburuk itu” ujar Lingga ceplas ceplos.
“Kau tau, aku memikirkan sebuah
konsep untuk membantu bidang mendongengmu, dengan latar proyektor ditambah
beberapa lampu elektrik sederhana sehingga mendongengmu akan menjadi lebih
baik” ujar Sail dingin.
Lingga cemberut. Sail sama sekali
tidak mendengar guyonannya barusan. Sail malah asyik bergumul dengan pikirannya
terkait teknologi terbaru untuk bidang mendongengnya. Lingga menghembuskan
napasnya berat. Suasana hati Lingga sekarang sedang bagus. Ia tidak ingin
merusaknya. Lagipula Lingga tahu Sail berniat membantunya.
Lingga tersenyum menatap jalanan.
Udara malam menusuk tubuhnya.
“Aku sangat senang abang mau
menepati janji untuk ikut kelas mendongeng bersama anak-anak” ujar Lingga
pelan.
Sail menatap Lingga yang juga
tengah menatap dirinya. Kemudian mengalihkan pandangannya ke jalanan. Sail
masih belum tersenyum dan masih terlihat jutek. Tapi itu cukup menggemaskan
bagi Lingga. Lingga kembali menatap topi hitam yang melekat dikepala Sail. Ia
hendak bertanya lagi mengenai topi itu namun urung karena Sail berkata ia akan
singgah sebentar di chicken area.
Lingga mengangguk. Hubungannya
hanya berjalan seperti biasa di ruang proyek dengan Sail. Sekedar menyapa dan
bertanya kabar setelah itu Sail akan terbenam dengan generatornya. Lingga hanya
tersenyum simpul dan kembali melanjutkan perjalanannya dengan rombongan
komunitas mendongengnya.
Di asramanya Lingga dan kedua
sahabatnya kerap pergi keatap asrama untuk melihat pemandangan kota yang indah
terutama pada subuh dan malam hari. Lingga kerap termenung memikirkan pertama
kalinya dia bertemu dengan Sail yang selalu tanpa sengaja. Ia teringat ucapan
resti yang mengatakan apabila ada seorang perempuan bertemu dengan seorang
lelaki tanpa sengaja sebanyak tiga kali maka mereka akan berjodoh.
Iseng Lingga menghitung pertemuan
tanpa sengaja dirinya dengan Sail. Lingga mengingat semuanya dan ia tak tahu
kenapa ia bisa mengingat dengan detail setiap pertemuannya dengan Sail. Pertama
diruang serba guna auditorium, kedua di tempat servis, ketiga di chicken area, dan yang ke empat di ruang
proyek. Lingga mengerjapkan matanya. Ia tertawa malu-malu menutup muka dengan
tangannya. Lingga bisa merasakan wajahnya panas memerah.
Resti iseng menimpuk Lingga
dengan popcorn. Nayla terkekeh jahil
melihat tingkah Lingga yang mulai termenung sendiri, tertawa sendiri,
menggeleng sendiri dan segala macamnya yang dirasakan oleh orang yang sedang
jatuh cinta.
“Kau benar-benar keterlaluan,
Ngga, bagaimana bisa kau jatuh cinta pada seorang pria yang bertipe seperti Sail
?” ujar Resti.
“Atau jangan-jangan ucapan kau
jadi doa, Res, kau kan pernah berkata bahwa mereka jodoh” Seru Nayla dengan
suara nyaringnya memecah keheningan malam di atap asrama.
Resti mendongak tak percaya. Lingga
kembali melotot ke kedua sahabatnya.
Diruangan proyek semua kembali
seperti biasanya. Lingga hanya sekedar menyapa Sail dan bertanya kabar sebentar
kemudian berlanjut pada kesibukan masing-masing. Tak ada yang spesial diantara
mereka.
Namun suatu malam setelah magrib,
saat semua anak-anak masih asyik mencari makan malam, Lingga kembali iseng
mendatangi Sail di ruangan proyek. Ia memikirkan Sail yang akhir-akhir ini
terlihat lebih sibuk namun tidak dengan generatornya melainkan dengan sesuatu
alat yang baru. Lingga segan bertanya pada Sail maupun pada teman-teman
tekniknya yang lain.
Lingga menyapa Sail yang masih
berkutat dengan alatnya. Lingga kembali meletakkan sebuah minuman energi ke
atas meja. Lingga hanya menatap kembali Sail yang masih sibuk dengan
perkakasnya. Ia memperhatikan Sail yang memakai kaus polos dengan celana jeans
dan masih dengan topi hitamnya.
Sail mengangkat wajahnya menatap Lingga.
Lingga yang kembali ketahuan tengah memperhatikan Sail jadi salah tingkah. Lingga
berusaha mengendalikan ekspresinya.
“Lihatlah” ujar Sail pelan namun
masih dengan dingin.
Lingga mengerutkan dahinya. ‘Lihat
apa ?’ tanyanya dalam hati.
Sebuah tampilan di dinding
ruangan muncul tiba-tiba. Lingga menatap sumber tampilan itu. itu berasal dari
sebuah proyektor yang berhasil di modifikasi sehingga bisa menampilkan gambar
yang masih tetap menyala meski dengan adanya cahaya penerangan yang kuat.
Sail berjalan menuju sakelar. Ia
mematikan lampu. Lingga memperhatikan dengan tenang. Sekarang Sail mulai
mencoba menghidupkan generator. Dua kali tarikan generator Sail berhasil
menyala. Lampu-lampu kerlap kerlip dengan sinar yang saling terhubung satu sama
lain mulai menyala.
“Ini hanya sambungan sederhana
kabel listrik, generatornya masih setengah jadi, jika benar-benar sudah
sempurna mungkin bisa membantu ruangan proyek ini dengan listrik yang di
alirkannya dari gentong air itu” ujar Sail menjelaskan sambil menunjuk sebuah
gentong air berukuran sedang.
“Dan ini, ini proyektor untuk
bidangmu, jadi bisa digunakan untuk diluar ruangan atau alam terbuka. Seperti
proyektor tiga dimensi, tetap bisa menampilkan gambar meski ada cahaya terang”
ujar Sail mantap.
Lingga mengerjapkan matanya
menatap tidak percaya. Pemandangan didalam ruangan proyek sangat indah dilihat
oleh Lingga. Dengan lampu kerlap kerlip, proyektor yang menampilkan gambaran 3D
dari potongan cerita di buku dongeng yang dulu sempat dibaca Sail.
Lingga tersenyum lebar. Ia
mendekati dinding tempat tampilan proyektor. Mencoba menyentuhnya walau ia tahu
itu hanyalah gambar fana. Lampu kerlap-kerlip kembali menarik hatinya.
“Ini menakjubkan” ujar Lingga
terpana.
“Kau benar-benar hebat, abang Sail”
ujar Lingga tersenyum menatap Sail.
Sail menghembuskan napasnya pelan.
Ia mendekat ke meja. Mengambil minuman energi yang diletakkan Lingga tadi
disana. Sail meminum minuman itu dengan khidmat sembari duduk bersandar di meja
menatap hasil karya dirinya. Lingga bisa melihat Sail cukup bangga dengan apa
yang sudah di lakukannya.
“wah, ini benar-benar keren,
teman-teman, lihatlah kemari” suara Indra yang memanggil anak-anak tim merah
putih lainnya mengagetkan Lingga dan Sail.
Satu persatu anak-anak tim merah
putih yang memasuki ruangan mendecak kagum. Seolah berada di negeri khayangan
menatap kerlap kerlip dan tampilan 3D di dinding.
Lingga tersenyum menatap riang di
wajah mereka. Perlahan ia kembali melirik ke arah Sail. Ternyata Sail juga
tengah melirik ke arah Lingga. Lingga menyadari Sail barusan memandangnya dan
saat Lingga menatap Sail, Sail langsung mengalihkan pandangannya ke tempat
lain. Sail langsung memperbaiki bentuk topinya seolah sedang salah tingkah. Sail
segera beranjak menarik Toni, Indra serta beberapa anak-anak lainnya.
Menjelaskan sesuatu pada mereka mengenai generator.
Lingga tersenyum malu-malu masih menatap
ke arah Sail yang kembali terbenam dengan generator. Lingga tak menyadari bahwa
Ardi memperhatikannya.
***

Saya tertarik dengan blog yang anda miliki, bagaimana saya bisa berhubungan langsung dengan anda untuk dapat lebih spesifik membahas hal yang terkait dengan blog anda
BalasHapus